Dalam Aktivitas Seksual, Ejakulasi Butuh Peran Otak

Dalam Aktivitas Seksual, Ejakulasi Butuh Peran Otak
Foto: iStock

Kata ahli neurosis Ryu Hasan, masa subur perempuan itu ada batas-batas waktunya. Meski begitu, perempuan tetap bisa melakukan aktivitas seksual seumur hidupnya.

“Lha, kalau laki-laki, kebalikannya. Pada umumnya, laki-laki bisa dibilang subur seumur hidupnya, tapi kemampuan aktivitas seksualnya terbatas pada usia-usia tertentu,” beber Ryu.

Ia juga menerangkan bahwa yang namanya aktivitas seksual itu tidak identik dengan proses reproduksi. Aktivitas seksual pada sapiens—atau yang sering ia istilahkan sebagai “bedes”—lebih pada fungsi rekreasional.

“Masih gak ngaku? Coba saja hitung berapa kali situ melakukan aktivitas seksual, terus berapa kali di antaranya yang benar-benar dimaksudkan punya keturunan?”

Aktivitas seksual, bagi Ryu, tidak selalu atau tidak hanya melibatkan organ-organ seks (reproduksi). Contohnya, berciuman.

“Memangnya bibir organ reproduksi? Tangan remas sana-remas sini, memangnya tangan organ reproduksi? Organ seks: penis, testis, ovarium, uterus, vagina. Organ seksual: otak!”

Contoh lagi, lanjut Ryu, yang namanya orgasme (puncak kepuasan aktivitas seksual) pada laki-laki juga tidak selalu disertai ejakulasi (semprotan organ seks).

“Ejakulasi memang di bawah kendali sistem simpatis susunan saraf otonom. Bahkan untuk mendapat ejakulasi, peran otak sangat diperlukan.”

Meski ejakulasi umumnya menandai klimaksnya hubungan seksual pada laki-laki, tetapi Ryu Hasan menekankan dry orgasm, orgasme tanpa ejakulasi, yang juga turut menyertainya. Dry orgasm (orgasme kering), katanya, bisa terjadi kalau—dalam satu kali aktivitas seksual—laki-laki mengalami beberapa kali orgasme.

Untuk bisa mencapai ejakulasi, seperti pada perempuan yang mencapai orgasme, otak laki-laki juga, kata Ryu, harus bekerja menghambat beberapa sirkuitnya terlebih dahulu. Sirkuit-sirkuit yang harus dihambat itu, antara lain: amigdala, pusat tanda bahaya (alarm) di otak, serta pusat kesadaran diri dan kekhawatiran.

“Tidak seperti pada perempuan. Bagi laki-laki, rangsangan dan orgasme adalah proses yang relatif sederhana. Sebagian besar terkait dengan sistem hidrolik. Yang dimaksud di sini adalah diperlukan darah untuk mendorong ke satu bagian tubuh yang penting. Dalam hal ini, tidak lain adalah penis.”

Berbeda lagi dengan ejakulasi. Orgasme perempuan, menurutnya, jauh lebih rumit. Hal itu lantaran otak harus mematikan amigdala dan ACC secara mendadak dan serempak.

“Untuk hal ini, diperlukan kerja sama banyak molekul saraf di otak. Perempuan memang selalu rumit.”

Sementara otak perempuan memerlukan usaha keras untuk merasa santai dan mematikan amigdalanya, otak lak-laki malah gampang sekali mengatasi masalah hal ini. Karena itu, banyak laki-laki yang disebut foreplay, yakni apa yang terjadi dalam waktu 3 menit sebelum terjadinya penetrasi, tidak memerlukan waktu yang lebih lama dari itu.

“Ketika laki-laki mencapai ejakulasi, otaknya melepaskan semua rem tadi. Sirkuit otak dan tubuhnya dibanjiri norepinefrin, dopamin, dan oksitosin. Banjirnya senyawa-senyawa kimia di otak terjadi ejakulasi itu meningkatkan rasa nikmat yang sudah ada selama aktivitas seksual berlangsung.”

Ryu pun menjelaskan bahwa sirkuit otak untuk kenikmatan yang ekstrem (Ventral Tegmetal Area), sirkuit penekan rasa sakit dan sirkuit suara, mendadak sontak diaktifkan saat ejakulasi.

“Jadi ya wajar, kalau—saat mencapai klimaks—laki-laki melakukan gerakan-gerakan dan erangan-erangan yang tidak terkendali dan gak jelas.”

Meski demikian, ada hal yang tetap perlu diperhatikan di sini, yakni ejakulasi dini bisa jadi sumber rasa malu bagi laki-laki, bisa menimbulkan frustrasi bagi dia dan pasangannya. Jika laki-laki tidak bisa belajar untuk menahan pusat rangsangan seksual di otak mereka, maka hal kecil akan menjadi masalah besar, yakni terjadinya ejakulasi dini.

“Tanpa belajar menahan, bedes laki-laki akan sering kali mengalami ejakulasi jauh sebelum pasangan mereka mendapat kesempatan orgasme.”

Dokter Ryu pun menerangkan, perempuan pada umumnya memerlukan waktu 7 – 18 menit dalam berhubungan intim untuk mencapai klimaks. Adapun laki-laki, ia hanya perlu 3 menit untuk ejakulasi.

“Sekarang kita sudah tahu ada sekelompok saraf tulang belakang, yaitu spinal ejakulator, yang bisa dinyalakan dan dimatikan oleh otak kita. Nah, untuk meningkatkan dominasi otak terhadap spinal ejakulator, perlu latihan. Wajar kalau makin lama laki-laki bisa “bertahan” lebih lama.”

Ketika penis mulai dapat aliran hidrolik darah 10x jumlah normal, terang Ryu lebih lanjut, maka upaya menahan ejakulasi sama dengan usaha menghentikan kereta api yang sedang melaju.

“Oleh karena itu, lebih dari 40 persen ejakulasi pada pemula (laki-laki muda) biasanya terjadi setelah 8-15 kali dorongan penis.”

Dari berbagai laporan riset, ungka Ryu, laki-laki yang berpengalaman akan lebih bisa mengajari dirinya untuk bertahan tidak ejakulasi 7-13 menit lebih lama.

“Jadi, kesimpulannya, yang namanya ejakulasi (semprotan organ seks) memerlukan peran otak (sebagai organ seksual). Tanpa otak atau jaringan saraf, kita adalah seperti saudara-saudara kita di kerajaan tumbuhan!” pungkasnya. [tw]