Dating Violence: Fenomena yang Mengkhawatirkan di Era Contemporarius

Dating Violence: Fenomena yang Mengkhawatirkan di Era Contemporarius
©LM

Dewasa ini, berpacaran sungguh sangat merinding dan menakutkan sekali. Mengapa merinding dan menakutkan? Konsep berpacaran saat ini yang mana cara bertindak, bertutur kata telah merusak dan membunuh masa depan diri sendiri, baik dari pihak perempuan maupun laki-laki.

Berpacaran bukan lagi dijadikan sebagai teman curhat yang saling berbagi melainkan lebih dari itu. Serasa berpacaran layaknya seperti suami istri dan inilah yang terjadi. Orientasi berpacaran selalu merujuk ke hal-hal yang negatif demi mencapai kepuasan hasrat dari individu.

Banyak kejadian yang terjadi di tengah-tengah kehidupan dewasa sekarang, dalam konteks ini kekerasan dalam berpacaran atau dating violence. Hal ini sungguh sangat memprihatinkan sekali bagi kaum muda yang sedang meniti pendidikan ke perguruan tinggi.

Dilema kehidupan pun selalu muncul antara memusatkan perhatian kepada dunia percintaan atau lebih mengutamakan masa depan. Berpacaran pun bukan saling mendukung semangat belajar dalam menyelesaikan pendidikan melainkan berpacaran melatih bagaimana berhubungan badan.

Sebenarnya apa motif dari peristiwa-peristiwa berpacaran seperti ini? Apakah berpacaran rasa suami istri dipengaruhi oleh berbagai macam perkembangan alat teknologi? Apakah berpacaran karena perkembangan budaya asing yang menyebar ke seluruh pelosok negeri ini?

Jika memang demikian, bagaimana dengan orang yang ada di perkampungan berpacaran lebih sadis dengan orang-orang yang ada di kota? Hal semacam ini menjadi suatu permasalahan besar dalam kehidupan manusia pada umumnya.

Pengalaman yang terjadi di Reok Barat Kabupaten, Manggarai Flores-NTT.  Kejadian ini terjadi pada tahun 2019, anak kelas tiga SMA sedang meniti pendidikan. Seorang perempuan berinisial KA dan seorang laki-laki berinisial NA mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Atas  sedang bercumbu, bercium-ciuman meniru gaya barat dengan pacarnya di dalam sebuah kelas di siang bolong.

Banyak teman-teman di sekitar melihat bahkan menyaksikannya adegan yang menyeramkan dan menarik perhatian. Bukan hanya itu, hal yang paling menyakitkan dan memalukan, mereka berhubungan di dalam WC pada malam hari dan didapati oleh tokoh masyarakat.

Baca juga:

Manusia acap kali sulit mengontrol diri, baik perempuan maupun laki-laki. Perasaan mendominasi individu dan hal yang tidak diinginkan oleh semua orang pun terjadi. Nafsu yang tak terkontrol menutup mata hati tidak membedakan makhluk-makhluk hidup yang lain. Tindakan buruk seperti ini menjadi buah bibir bagi orang lain di tengah-tengah masyarakat dan individu menanggung malu yang tiada habis-habisnya selama masih hidup.

Peristiwa semacam ini tentunya sungguh sangat merusak citra diri individu, keluarga dan institusi serta teman-teman seperjuangan. Apa yang terjadi sekarang para korban tidak lagi melanjutkan hubungan berpacaran, alasan yang mendasar keluarga dari pihak laki-laki tidak merestui hubungan mereka bahkan yang paling menyedihkan sekali laki-laki tersebut pun tidak bertanggung jawab terhadap perempuan sementara sudah bersetubuh. Problema seperti ini menjadi perkakas untuk dipelajari dan direnungkan bagi kaum hawa saat ini.

Bagi perempuan hendaknya berpikir kritis dan besikap keras terhadap laki-laki. Memang pada hakikatnya sifat perempuan selalu menggunakan perasaan dan itu tidak perlu dibantah dari realitas yang ada. Berkenalan dengan seorang laki-laki semestinya harus tetap menaruh sikap antisipasi.

Memang setiap laki-laki tidak selalu memiliki keinginan yang sama. Namun yang paling penting bagi perempuan perlu menaruh sikap kritis dan memperhatikan setiap kata-kata yang dikeluarkan dari mulut laki-laki. Biasanya kata-kata yang acap kali dipakai sifatnya berupa rayuan, gombal.  Jika perempuan lenga dengan kata-kata indah dari laki-laki tersebut. Kemungkinan yang sangat besar terjadi berpacaran rasa suami istri yang berdampak pada dating violence.

Berpacaran rasa suami istri maksudnya mereka yang berpacaran berhubungan badan sebelum menikah. Realitas seperti ini banyak yang terjadi di mana pun, tidak pernah memikirkan konsekuensi dari apa yang dilakukan. Prinsipnya yang terpenting melampiaskan rasa nafsu birahi.

Konsekuensi itu pun berdampak pada kekerasan dalam berpacaran. Perempuan tidak mau kekasihnya berbicara dengan perempuan lain karena sudah menaruh harapan dan cinta yang besar kepada laki-laki. Di sinilah letak kecemburuan perempuan terhadap kekasihnya, walaupun kekasihnya berbicara tentang hal lain, tetapi terkadang perempuan lebih suka menginterpretasikannya ke hal yang lain pula.

Perempuan suka memegang janji dari seorang laki-laki karena pada hakikatnya mereka selalu menggunakan perasaan, tetapi laki-laki selalu mengandalkan logika sehingga tidak salah kalau laki-laki diibaratkan sebagai “laki-laki memang lidah buaya”. Laki-laki yang terpenting sudah mendapatkan apa yang menjadi visi dan targetnya dalam berpacaran.

Setelah itu dengan sendirinya akan merasa jenuh terhadap perempuan tersebut dan meninggalkannya dalam keadaan terluka. Laki-laki sulit memegang promise atau janji memang tidak semua laki-laki memiliki watak yang sama.

Halaman selanjutnya >>>