Denny JA, Puisi Esai, dan Rumah Bordil

Denny JA, Puisi Esai, dan Rumah Bordil
Sayembara Puisi Esai Denny JA

Nalar Warga – Denny JA mendidih ingin menjadi tokoh dalam dunia sastra Indonesia. Ketokohan dalam dunia seni, seperti dalam sastra, meminjam Bourdieu, merupakan modal intelektual.

Modal ini bisa dikonversi menjadi modal kultural, modal sosial, bahkan modal finansial. Masuk akallah jika Denny JA mau mengeluarkan modal finansial untuk meraup status sebagai tokoh dalam dunia sastra Indonesia.

Ketokohan yang diburunya adalah selaku pelopor kemunculan apa yang dibayangkannya sebagai genre baru dalam sastra Indonesia, yakni puisi esai. Untuk ini, dia betot orang-orang yang dianggap sudah bernama dalam sastra Indonesia.

Bersama mereka, diadakanlah berbagai kegiatan untuk memopulerkan yang disebutnya puisi esai itu, seperti menerbitkan buku kumpulan puisi esai, mengadakan sayembara penulisan puisi esai, mengadakan seminar dan diskusi mengenainya, dan sebagainya.

Untuk kesemuanya, Denny JA mengeluarkan dana. Dan, kalau melihat uang yang selama ini berputar di dunia sastra Indonesia, dana yang dikeluarkannya sangat bisa dikata besar.

Dana yang dikeluarkannya kini semakin besar lagi. Dia tengah membuat proyek penerbitan kumpulan puisi esai untuk tiap provinsi di seluruh Indonesia.

Untuk menjalankannya, dia bentuk yang disebutnya tim nasional. Tim ini ada di atas kordinator tiap provinsi. Mereka semua keruan dibayarnya. Belum terang bayaran masing-masingnya. Yang pasti tiap penyair yang ikut dalam proyek puisi esai itu dibayar Rp 5 juta.

Dengan demikian, Denny JA menganggap bahwa genre sastra dan sejarah sastra itu bisa dibeli dengan uang. Jika memang begitu, bukankah berarti dia menganggap dunia sastra Indonesia itu rumah bordil? Apakah dengan memperlakukan dunia sastra Indonesia sebagai rumah bordil sastra Indonesia akan berkembang dan bermartabat?

*Hikmat Gumelar

___________________

Artikel Terkait: