Desa Membangun Negeri

Desa Membangun Negeri
©Indo Travel

Desa adalah ujung tombak membangun negeri. Kemakmuran bangsa dan negara terdapat pada desa. Negara dan bangsa akan bermartabat bilamana desanya makmur dan kokoh.

Indonesia, bagaimanapun, adalah kumpulan dari ribuan desa. Membangun Indonesia berarti meniscayakan pembangunan terhadap desanya. Bukan hal yang mudah untuk mencapai cita-cita kemajuan ketika desa tak diberdayakan secara optimal. Maka membangun negara adalah membangun desanya.

Desa seakan terlupakan dari pembangunan. Sehingga tidak heran jika banyak penduduk desa mencari pekerjaan di kota besar yang dianggap pembangunan dan ekonominya jauh lebih maju. Hal ini berdampak pada masalah urbanisasi; mulai dari kemacetan, tata kota yang semrawut, kepadatan penduduk, hingga tingkat kriminalitas yang tinggi. Disparitas pertumbuhan ekonomi antara desa dan kota sangat besar.

Padahal, menurut Budy P. Resosudarmo tentang pentingnya pemberdayaan desa, pembangunan daerah perdesaan sangat penting untuk meningkatkan perekonomian. Selain itu, pencegahan migrasi besar-besaran dari desa ke kota perlu dilakukan agar desa terbangun.

Memasuki akhir tahun ketiga sejak kebijakan pemerintah tentang desa diberlakukan, kiranya penting melakukan refleksi dan evaluasi tentang kesenjangan pembangunan serta pertumbuhan ekonomi yang terjadi di desa sehingga lebih  adil dan merata. Sebagai konsekuensi atas berlakunya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa adalah adanya kucuran dana miliaran rupiah langsung ke desa yang bersumber dari alokasi dana desa yang merupakan bagian dari dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota.

Dana desa telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang bersumber dari APBN. Miliaran dana yang masuk ke desa merupakan komitmen pemerintah untuk mengurangi kesenjangan dengan menggelontorkan banyak dana. Sepatutnya kita semua memperhatikan proses pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa dengan dana desa yang besar ini agar sampai pada tujuannya secara tepat dan efektif.

Mengurangi Urbanisasi

Kucuran dana desa ini diharapkan mampu menjadi solusi mengurangi urbanisasi dan mempercepat pembangunan di desa. Karena belum semua desa mampu menjalankannya. Ketimpangan pembangunan antara desa dan daerah kota perlu mendapat perhatian khusus. Pembangunan insfrastruktur, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan desa berbasis potensi lokal harus dijalankan secara simultan.

Pembangunan kawasan perdesaan bukan hanya berbentuk kegiatan, tetapi juga sebagai pendekatan untuk mengimbangi pembangunan perkotaan. Selama ini, ada ketimpangan antara perkotaan dan perdesaan, karena pembangunan yang bias perkotaan (urban bias).

Kota merupakan pusat pemerintahan, pelayanan publik, industri, jasa, perdagangan, keuangan, dan pusat pertumbuhan. Sebaliknya, desa merupakan ranah pertanian dan perkampungan yang selalu identik dengan keterbelakangan, ketertinggalan, dan kemiskinan.

Desa menghadapi kekurangan input dan output pertumbuhan sehingga merupakan sumber dan hulu kemiskinan. Desa menghadapi keterbatasan dalam hal infrastruktur, transportasi, komunikasi, dan lain sebagainya yang membuat desa terisolasi dari kemajuan dan pertumbuhan.

Karena ketimpangan itu, kota menjadi “daya tarik” dan desa menjadi “daya dorong” urbanisasi orang desa ke kota. Secara demografis, urbanisasi terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, yang membuat pengurangan penduduk desa dan penambahan penduduk kota.

Potensi Lokal Desa

Pandangan pengamat ekonomi dari Core Indonesia, Hendri Saparini, menilai bahwa banyak potensi desa di Indonesia yang belum muncul ke permukaan. Padahal jika potensi itu dimanfaatkan, maka upaya membangun ekonomi desa akan lebih mudah dan cepat terlaksana. Menurutnya, potensi di daerah harus diperjelas dan dirumuskan dalam buku agar terlihat lebih jelas. Sebab ini jadi acuan juga dalam menjalankan program desa.

Kearifan lokal sejatinya akan mampu mendorong munculnya kemandirian desa yang ditopang oleh kuatnya motivasi untuk berprestasi pada diri masyarakat. Hal itu tentu menjadi modal penting untuk menciptakan keunggulan tanah air.

Seperti halnya yang terjadi pada perkembangan di Korea Selatan. Dengan adanya Hallyu (gelombang budaya New Korea), keberhasilan Korea Selatan menjadikan dirinya sebagai salah satu negara yang diperhitungkan dunia saat ini, karena kebijakan pemerintah mereka untuk mendorong kemandirian bangsanya melalui upaya menanamkan nilai-nilai kompetitif dan senantiasa ingin berprestasi di tengah-tengah masyarakat.

Desa adalah jantung sebuah negara. Membangun desa sama artinya membangun negara.

Dalam formasi pembangunan partisipatif, pembangunan kawasan perdesaan bukan hanya menempatkan desa sebagai lokasi dan objek penerima manfaat, tetapi juga memperkuat posisi desa sebagai subjek yang terlibat mengakses dalam arena dan kegiatan pembangunan kawasan perdesaan. Tentunya pemberdayaan dalam sektor ini dapat kita rasakan dengan berlakunya BUMDes; walaupun belum merata ada di seluruh daerah.

Baca juga: