Desa Wisata Jelok, Sensasi Djogja Tempo Doeloe

Desa Wisata Jelok, Sensasi Djogja Tempo Doeloe
Foto: Dinas Pariwisata DIY

Sebagai destinasi favorit dalam daftar tempat wisata di Indonesia, Yogyakarta tenar di kalangan domestik hingga para turis mancanegara. Karena memang, sejumlah daerah wisatanya menyimpan pelbagai keunikan dan kekayaan mempesona, salah satunya adalah Desa Wisata Jelok.

Statistik kepariwisataan membuktikan bahwa pertumbuhan kunjungan wisata ke Yogyakarta mengalami pertumbuhan setiap tahunnya. Tahun 2012 saja, kunjungan wisata mencatatkan angka 3.4 juta turis domestik dan 148 ribu turis mancanegara.

Ya, wilayah yang dipimpin seorang Sultan ini memiliki keindahan alam yang memikat serta kehidupan masyarakat lokal yang unik. Tidak hanya candi-candi yang telah lama jadi cagar budaya. Bukan pula pesona eksotis pasir putih dan pantainya. Tetapi masih terdapat lagi satu keunikan yang dapat memanjakan siapa pun yang berkunjung ke daerah penuh nuasan keromantisan ini.

Desa Wisata Jelok namanya. Konsep perkampungan yang hampir menggambarkan bagaimana DJogja di Tempoe Doeloe yang dapat dilihat pada dewasa ini. Desa Wisata Jelok memiliki potensi yang luar biasa dalam mengemas paket wisata sebagai perpaduan upaya pelestarian lingkungan dan tradisi budaya lokal dengan semangat pluralitas, kebersamaan, dan gotong royong.

Terletak di Padukuhan Jelok, Desa Beji, Kecamatan Patuk Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tepatnya di Jl. Wonosari KM 25, sekitar 30 KM arah Tenggara Kota atau 15 KM arah Barat kota Wonosari, Gunung Kidul.

Walaupun tidak begitu jauh dari pusat Kota Yogyakarta, namun desa ini seakan tidak mau mengikut arus modernisasi. Alam yang membentang menyuguhkan pemandangan yang elok. Terbentang di bantaran beningnya Sungai Oyo yang airnya tak pernah kering sekalipun musim kemarau panjang.

Sensasi Djogja Tempo Doeloe

Hal paling menarik dari desa wisata ini adalah penduduknya yang ramah, juga para pemandu wisatawan. Siapa pun dapat bermalam di rumah warga akan merasakan masakan “ala kampung”. Itu dipetik dari sawah organik dengan biaya yang sangat murah, kisaran Rp. 50.000 per malam untuk 4 orang.

Menginjakkan kaki di Desa Jelok serasa terbang di langit dunia yang  berbeda. Jauh dari polusi dan kebisingan kota. Di antara semilir angin sepoi pedesaan, gemericik jernihnya air sungai, indahnya kicauan burung yang bersahutan, dan menikmati panorama pemandangan bunga di pohon tebu yang bermekaran menjadi nuansa tiada dua. Ditambah dengan adanya gubuk (rumah-rumahan) yang ada, semakin menambah sensasi alami pedesaan.

Pesona tempat wisata ini juga menyaji aneka kuliner yang memikat. Dapat dijadikan oleh-oleh khas Yogyakarta. Inilah salah satu kegiatan yang lazim dilakukan wisatawan yang pernah menginjakkan kaki di kota ini untuk berbelanja merogoh gocek menikmati segala rasa, alam, penghuni dan masakannya.

Selain itu, desa wisata jelok juga dikelilingi oleh pemandangan khas pegunungan di sepanjang perjalanan dan aliran Sungai Oyo yang jernih di berbagai kondisi cuaca. Bila hari sudah menjelang sore, berjalan ke arah perbukitan dengan kamera di tangan begitu dianjurkan. Di situ wisatawan akan disuguhi pemandangan khas pedesaan lainnya, senja sang surya yang turun ke peraduannya.

Saat fenomena matahari terbenam hingga larutnya malam, yang terasa spesial adalah ketenangan suasana sekitar. Suara jangkrik dan kilauan kunang-kunang yang jarang atau bahkan sangat jarang bagi wisatawan temukan lagi di perkotaan. Semua muncul menemani keheningan setelah lama bingar dengan pekerjaan kota.

Hal yang begitu dinanti dari malamnya Desa Wisara Jelok adalah nyala lilin dan obor yang temaram dari pondok-pondok kecil memantul di jernihnya air kolam. Sambil menikmati makan malam romantis, wisatawan akan dihibur oleh lantunan kecapi dan biola yang ikut menambah syahdunya suasana Djogja tempo doeloe.

Wisata Pendidikan (Non-Formal)

Desa Wisata Jelok menyuguhkan wisata yang berinteraksi langsung dengan  kehidupan nyata di alam pedesaan. Terdapat juga beberapa kegiatan yang bersifat outbond dan tracking. Pengunjung dapat memilih paket wisata alam yang diinginkan, seperti menyusuri kali Oyo dengan menggunakan perahu Kano.

Pengelola Desa Wisata Jelok menyediakan 3 paket guna menyusur sungai, yakni trip panjang, menengah, dan pendek. Bagi penggemar petualangan, susur Goa Cokakan sambil menikmati stalaktit dan stalakmit khas goa-goa karst Gunungkidul bisa menjadi pilihan. Berbagai fasilitas menarik tersedia, salah satu yang terus dikembangkan adalah cottage unik tempat menginap bagi wisatawan.

Visi dari Desa Wisata Jelok adalah mengutamakan kearifan lokal, dengan harapan pengunjung dapat mengerti dan ikut merasakan adat dan tradisi yang ada. Tradisi yang dapat diikuti pengunjung antara lain Kenduri, Mongmong Pedet, dan tradisi Metik. Namun tradisi metik hanya bisa dijumpai setelah musim panen tiba.

Hal menarik lainnya adalah Desa Wisata Jelok yang memiliki jembatan gantung artistik di atas aliran sungai, lokasi yang cocok dan indah untuk diabadikan bagi para penggemar fotografi.

Di sini juga terdapat komunitas belajar yang disebut Kampoeng Nusantara. Sensasi menikmati makan malam (Romantic Dinner) di atas sungai dengan suguhan kuliner tradisional dan iringan musik etnik Jawa Desa wisata, diharapkan mampu menjadi “Venesia-nya Indonesia”.

Konsep Keramahan

Di Desa Wisata Jelok, suasana kampung dengan penduduknya yang ramah telah terjaga dan terlestarikan. Wisatawan dapat berpetualang, bertani, belajar, bahkan makan malam di atas Kali Oyo tanpa khawatir tak dapat senyum ramah dan tingkah santun ala adat jawa. Hal ini dikuatkan oleh sumber daya manusia yang terlibat di desa wisata Jelok berasal dari warga sekitar, serta hidangan yang disediakan pun merupakan hasil dari warga setempat.

Pihak sekertariat Desa Wisata Jelok terus berupaya meningkatkan kampung wisata yang terbukti mampu mengangkat perekonomian masyarakatnya. Rencananya akan menambah beberapa wahana dengan harga yang relatif terjangkau. Hal ini dimaksudkan agar Desa Wisata Jelok dapat lebih berkembang. Melalui sebuah bendungan di aliran kali Oyo, nantinya diharapkan wahana perahu bebek dan balon apung dapat semakin melengkapi wahana yang ada di Desa Wisata Jelok.

Tak hanya di situ saja, ke depannya pihak sekretariat Desa Wisata Jelok juga akan membangun sebuah panggung besar. Itu akan digunakan oleh masyarakat lokal untuk menampilkan kebolehannya dalam berbudaya. Selamat berkunjung!

_____________

Baca juga:

    Moh Ariyanto Ridwan

    Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta | Pemimpin Redaksi Majalah Nusantara.
    Moh Ariyanto Ridwan

    Latest posts by Moh Ariyanto Ridwan (see all)