Dialektika tentang Nalar

Dialektika tentang Nalar
©University of Birmingham

Dialektika tentang Nalar

Menyikapi setiap konflik pluralisme yang irasional, Rawls mengajukan pendapatnya tentang nalar publik, public reason. Nalar publik adalah bagian dari konsepsi politik yang hanya berlaku di dalam forum publik.

Nalar publik bukan hasil dari konsepsi moral dalam ruang privat. Rawls yakin bahwa semua manusia mempunyai energi atau sumber daya untuk mencapai konsesus di tengah perbedaan.

Energi itu berupa kemampuan untuk mengajukan kebenaran ajaran dan cara hidupnya lewat argumen-argumen yang rasional. Tujuannya bukan sekadar untuk dimengerti dan dipahami, tetapi lebih dari itu, agar dapat diterima dan sekaligus pula menerima argumen yang lain.

Meskipun setiap doktrin komprehensif secara substansial tidak dapat diterima dalam ruang publik, namun semuanya bisa diajukan melalui argumen politik dalam bentuk nalar publik, public reason. Alasannya, nalar publik adalah ciri utama dari warga negara yang demokratis, karena nalar publik berkenan dengan nalar dari warga negara yang setara. Selain itu, subjek utama dari nalar publik adalah keadilan sebagai konsepsi politik.

Nalar publik hanya berlaku dalam forum politik publik, dan bukan dalam budaya latar, background culture yang berbeda-beda. Selain itu, nalar publik bersifat menyeluruh, complete. Ia mampu menyuplai jawaban-jawaban yang rasional terhadap segala persoalan yang berhubungan dengan konstitusi dan hal-hal yang mendasar dari keadilan.

Tujuan dari nalar publik adalah justifikasi politik yang dinalarkan kepada yang lain dalam kapasitas mereka sebagai warga negara demokratis yang waras. Di sini, nalar publik dan justifikasi politik mempunyai hubungan timbal balik.

Pandangan Rawls ini bukan tanpa kelemahan. Secara kritis kita dapat melihat bahwa Rawls membatasi pluralisme dalam ruang publik hanya dalam kerangka nalar publik dan hanya pada level aksiologi.

Baca juga:

Pluralisme seolah-olah dipermiskin oleh nalar publik, karena pluralisme hanya dimengerti dalam bingkai nalar publik. Apalagi nalar publik dalam pandangan Rawls lahir dari rahim yang liberal. Hal seperti ini dapat menguntungkan pihak yang liberal dan merugikan kaum komunitarian.

Argumen penolakan terhadap Rawls. Abdullahi An’Naim, pemikir islam liberal menganjurkan civic reason, nalar sivik, sebagai bahasa bersama yang dipakai dalam dialog berkenaan dengan nilai-nilai yang berbeda.

Yang menjadi penting dalam dialog adalah kesediaan untuk mengubah pandangan sendiri dan rela beralih karena perubahan pandangan yang lain dalam terang consensus. Semuanya demi kebijakan publik. Agama bisa terlibat dalam ruang publik asal dalam terang kewarganegaraan yang beragam, bukan dalam terang pemaknaan ajaran atau doktrin-doktrin dari agama.

An’Naim memberi batasan civic reason dalam tiga aspek berikut. Pertama, nalar sivik bersifat konstitusional. Kedua, nalar sivik berhubungan dengan HAM. Ketiga, nalar sivik berkenan dengan kewarganegaraan yang setara. Dengan demikian, nalar sivik berlaku hanya ketika semua orang tampil di ruang publik sebagai warga negara, bukan sebagai umat dari agama tertentu.

Proposal pemikiran An’Naim bertujuan agar Islam sebagai agama sebaiknya mampu menerjemahkan diri di dalam dunia sekuler dan beradaptasi dengan realitas negara modern. Agama tidak perlu digeser ke pinggir, atau tidak harus diprivatisasikan dalam ruang yang khusus.

Agama harus terbuka dan memainkan peran sosialnya di dalam ruang publik. Setiap umat beragama sebaiknya memiliki kesanggupan untuk pesan-pesan imannya secara baik sebagai warga negara di tengah ruang publik.

Kalau kita melihat dengan teliti, kita dapat berkesimpulan bahwa nalar publik dan nalar sivik adalah bagian esensial dari pluralisme. Keduanya tidak terlalu berbeda karena sama-sama bersentuhan dengan ruang publik dan juga berkenan dengan kewarganegaraan yang plural.

Selain itu, baik nalar publik maupun nalar sivik, keduanya sama-sama bergerak secara dialektis dalam memadukan identitas dan diferensiasi, serta memahami diferensiasi dari latar diversitas kultural itu.

Baca juga:
Mario G. Afeanpah
Latest posts by Mario G. Afeanpah (see all)