Dialog Akhir Tahun Ikama Sulbar: Natal dan Toleransi tanpa Batas

Dialog Akhir Tahun Ikama Sulbar: Natal dan Toleransi tanpa Batas
Dialog Akhir Tahun Ikama Sulbar Yogyakarta, 23 Desember 2017.

Nalar Politik Akhir Desember 2017 di Yogyakarta, bersama Pendeta Makmur S. Tore, Ikatan Keluarga Mahasiswa Mandar Sulawesi Barat Yogyakarta (Ikama Sulbar-Yk) hadirkan dialog akhir tahun bertajuk Natal dan Toleransi tanpa Batas.

Bertempat di Asrama Dayang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Yogyakarta, 23 Desember 2017, dialog bersama ini sekaligus jadi ajang peringatan Hari Natal, hari lahir Nabi Isa as.

Dalam paparannya, Pengasuh Ponpes Mahasiswa Madrasah Muthahhari-Rausyan Fikr, AM Safwan, menyampaikan tentang falsafah kebinekaan dan religiusitas. Menurutnya, religiusitas harus dimulai dari kemanusiaan dan keadilan sebagai basis prinsip keagamaan umat manusia.

“Toleransi beragama adalah suatu keniscayaan oleh karena, dalam filsafat, orang memiliki tingkat pemahaman dan kesadaran yang berbeda-beda,” terangnya.

Ketika salah satu hadirin menanyakan tentang batas toleransi, Safwan kemudian menegaskan itu bahwa, secara epistemologis, toleransi adalah tanpa batas.

“Kalau toleransi memiliki batasan, maka ia bukan toleransi lagi. Karena itu, upaya kita tetap menjaga toleransi bahkan kepada yang tidak toleran kepada kita sekalipun, karena toleransi tanpa batas.”

Dialog Akhir Tahun Ikama Sulbar: Natal dan Toleransi tanpa Batas

Namun, secara aksiologi, tambahnya, toleransi tidak berarti membenarkan keyakinan agama orang. Toleransi menuntu setiap orang untuk bisa memahami bahwa masing-masing berhak punya keyakinan dan kita tidak boleh memaksakan keyakinan kita pada yang lain.

“Saya akan mengatakan kepada agama lain bahwa agama sayalah yang saya nilai paling benar. Tetapi saya tidak memaksakan pendapat saya dan saya menghormati pendapat dan keyakinan agama orang lain. Dan, pada akhirnya, kita mencintai mereka yang berbeda agama dengan kita.”

Agama, lanjutnya kembali, tidak mungkin bertentangan dengan prinsip kemanusiaan oleh karena setiap kita punya fitrah (apa pun agama kita). Dan agama adalah fitrah manusia (seperti penjelasan Muthahhari tentang fitrah).

“Catatan akhir, sebagai refleksi di luar diskusi, bahwa Natal begitu berarti buat kita semua. Karena ajaran Isa as adalah ajaran damai dan kasih sayang. Dalam banyak riwayat Islam, Rasul sering kali menunjukkan kepada sahabatnya akhlak Nabi Isa as.”

Dari sinilah ia kemudian memandang bahwa Natal buat kita (umat muslim) adalah sebuah peristiwa yang justru membantu kita untuk menempatkan akhlak Nabi Isa as sebagai bagian dari ajaran kemanusiaan.

“Di situlah kita memasuki sebuah pintu dialog Islam dan kristen,” pungkasnya.

___________________

Artikel Terkait:

    Redaksi

    Reporter Nalar Politik
    Redaksi