Dikotomi Cinta dalam Perspektif Romantisisme

Dikotomi Cinta dalam Perspektif Romantisisme
©Lip6

Dalam perspektif romantisisme, cinta adalah tentang bagaimana melukis tentang kisah-kisah romance.

Manusia adalah benih yang dihasilkan dari proses bercinta. Dengan sangat hinanya jika kita menilik lebih jauh korelasinya antara cinta dan manusia, ada dan bertumbuh pada kehidupan yang diciptakan oleh norma-norma yang sejatinya datang dari manusia itu sendiri.

Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang sangat membutuhkan cinta. Salah satu kekuatan yang mampu mendorong manusia untuk bangkit dari keterpurukan adalah dengan cinta. Hanya saja problem manusia tentang cinta masih menemui masalah yang sama, yaitu masalah klasik.

Material atau finansial masih menjadi tantangan yang begitu besar dalam melunturkan idealisme tentang cinta. Bahwa ketika kita melihat realitas yang ada, ternyata imajinasi tentang cinta tak mampu menembus dinding-dinding tersebut. Nyatanya ia masih menjadi pagar pemisah di antara keduanya.

Mencintai itu rumit, yang sederhana adalah bercinta. Lantas apakah bercinta bisa dilakukan oleh mereka yang tidak saling mencintai? Jawabannya iya, karena seksual adalah kebutuhan setiap manusia. Maka ketika nafsu sudah membajak nalar itu dapat saja terjadi. Dalam filsafat cinta, ini disebut sebagai eirahi, sedangkan cinta yang sejati disebut sebagai “Metta” dan cinta antara dua insan adalah asmara.

Perspektif cinta terkadang tidak mampu untuk dianalogikan menggunakan nalar. Kita dapat berkehendak atas dasar hasrat yang melampaui nalar. Tindakan atas perbuatan ini didorong oleh satu kekuatan yang memaksanya menjadi semacam intuisi. Bahkan untuk sang penyair andal sekalipun tidak akan mampu menggambarkan dan mendefinisikan cinta yang sesungguhnya. Karena cinta adalah kehendak atas dasar dorongan perasaan.

Ketika cinta sudah mencapai kata buta, semua logika yang mencoba membenarkannya akan disalahkan sebab bertentangan dengan kehendaknya untuk memenuhi kepuasan emosional yang bersangkutan. Begitu sakaunya manusia sehingga manusia selalu haus akan cinta.

Mengapa manusia begitu sangat ketergantungan akan cinta? Bisakah manusia untuk tidak melibatkan cinta dalam hal apa pun? Misalnya kepada pasangan? Atau kepada barang-barang yang sangat disayangi, atau bagaimana jika manusia tidak mencintai tuhannya, apakah agama hari ini masih punya relevansi?

Tampaknya cinta masih menjadi kunci utama atas jawaban yang paling mujarab bagi manusia untuk meyakini atas sebuah keputusan yang diambil. Karena logika terkadang masih menemui titik ketidakpastian. Maka di situlah perasaan mampu bermain dengan reflektivitas yang disebut sebagai intuisi moral.

Baca juga:

Etika dan moral dalam Cinta

Etika dimaksudkan sebagai konsep atas sifat kebenaran nilai yang diciptakan untuk sebuah kebaikan dari sebuah tindakan sosial berdasarkan tradisi yang dimiliki oleh setiap individu di lingkungan sekitarnya. Sedangkan moral dimaksudkan sebagai perbuatan atau sikap yang baik. Bahwasanya cinta tidak membutuhkan keduanya, sebab cinta tidak terikat oleh nilai-nilai yang diciptakan untuk mengatur kehidupan manusia.

Bagaimana mungkin cinta dibatasi oleh nilai- nilai tersebut sedangkan cinta mampu melampaui keduanya? Dalam bercinta misalnya, ia tidak membutuhkan keduanya. Sebab pemenuhan hasrat adalah melampaui nilai-nilai moral.

Hanya saja kita diikat olèh kontrak sosial bermasyarakat. Kita hidup pada lingkungan sosial yang menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut. Maka konsep cinta harus mampu menyeimbangi nilai-nilai tersebut.

Penuhi dulu prasyarat nilai-nilai sosial tersebut seperti legalnya suatu hubungan adalah sah di mata hukum dan agama. Maka ini adalah satu konsekuensi ketika kita berbicara etika dan moral dalam bercinta.

Romantisisme dan Rasionalisme

Romantisisme adalah aliran filsafat yang berusaha menampilkan keindahan dan kemolekan. Romantisisme dicirikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan emosional, menyentuh perasaan, dan kedashayatan melebihi kenyataan. Aliran ini muncul pada revolusi Industri di Eropa barat pada abad ke-18.

Romantisisme selalu dikaitkan atau dikorelasikan dengan romantika, padahal keduanya begitu jauh berbeda. Gejolak asmara tidak selalu tentang romantisisme, sebab romantisisme masih mengamini rasio sedangkan romantika menolak rasionalitas itulah mengapa romantika sangat bertentangan dengan rasionalisme.

Rasionalisme sendiri adalah aliran filsafat yang dipelopori oleh Rene Descartes. Rasionalisme adalah paham yang menyatakan bahwa kebenaran hanya dapat diperoleh melalui pembuktian yang dapat diterima oleh rasio atau logika.

Cinta adalah seni, maka dalam perspektif romantisisme menganalogikan cinta adalah tentang bagaimana melukis tentang kisah-kisah romance.

Baca juga:

Lantas di mana letak seni dalam cinta? Ternyata ia terletak pada kemampuan kita dalam mentransfer emosional menjadi semacam kekuatan yang bergejolak, lalu menciptakan suasana yang tidak biasanya. Inilah kenapa cinta mampu membakar semangat, sebab cinta adalah kondisi di mana ia mampu menetralisir perasaan.

Ada pepatah mengatakan bahwa seni mencintai yang paling tertinggi adalah mengikhlaskan, bagaimana rasio mampu menerima realitas jika cinta pada akhirnya harus menyakitkan. Maka dalam perspektif romantisisme itu bisa saja terjadi, tetapi dalam perspektif rasio ini tidak dapat diterima oleh nalar.

Tujuan cinta adalah kebahagian tetapi romantika justru mengamini rasa sakit dengan cara merelakan atas dasar keterpaksaan yaitu mengikhlaskan.

Sebagai penutup, tidak semua ideologi dapat menyatukan umat manusia, tetapi cinta mampu menyatukan dua insan yang berbeda ideologi sekalipun. Cinta mampu menciptakan peradaban dan mampu melahirkan peradaban umat manusia. Bagi siapa pun yang mencoba untuk tidak berkompromi dengan cinta, maka dapat dipastikan ia tidak akan mampu melahirkan peradaban.

Febrianto Arifin
Latest posts by Febrianto Arifin (see all)