Dilema Security vs Civil Liberties

Dilema Security vs Civil Liberties
Ilustrasi: pribook.me

Dalam demokrasi modern, kita sering berhadapan dengan dilema ini: security vs civil liberties. Kedua tujuan ini kadang tidak klop.

Nalar Warga – Ramai-ramai kontroversi soal pembubaran ormas. Saya jadi ingat film lama yang dibintangi Jack Nicholson, Tom Cruise, dan Demi Moore: Few Good Men.

Few Good Men menyentuh tema penting dalam setiap demokrasi: dilema yang kadang tak mudah antara menjaga keamanan dan kebebasan/hukum. Dalam demokrasi modern, kita sering berhadapan dengan dilema ini: security vs liberty. Kedua tujuan ini kadang tidak klop.

Amerika pasca serangan WTC (World Trade Center), misalnya, berhadapan dengan dilema security vs liberty tadi itu; adalah memperketat keamanan vs menjaga civil liberty. Negeri kita saat ini juga menghadapi dilema serupa: antara mengamankan NKRI (security imperative) vs menjaga prinsip kebebasan berserikat.

Publik dalam hal ini terbelah dalam tiga kubu: ada yang setuju pembubaran ormas yang mengancam NKRI; ada yang menolak.

Yang menolak terbagi dua blok. Ada yang menolak karena diam-diam mereka simpati terhadap ormas-ormas yang dianggap mengancam Pancasila itu. Ada yang menolak karena konsisten dengan prinsip universal mengenai “civil liberties”. Wakil terbaik dari blok ini: LBH (Lembaga Bantuan Hukum).

Saya bersimpati pada dua kelompok: kelompok pendukung dan kelompok penolak yang didorong alasan civil liberties. Tapi, saya sama sekali tak bisa bersimpati dengan kelompok penolak pembubaran ormas karena diam-diam mereka ini simpati pada yang terakhir itu.

Dilema security vs civil liberties akan selalu muncul setiap saat. Bagi saya, tak ada jawaban yang “one size fits all” dan berlaku selamanya. Ada situasi-situasi tertentu yang memang bisa menjustifikasi pembatasan civil liberties. Ini situasi empiris yang tak bisa kita tolak.

Tetapi, setiap desakan ke arah pembatasan civil liberties memang harus diimbangi dengan kritik dari arah sebaliknya. Sebab pembatasan civil liberties yang memakai “cek kosong” bisa berbahaya dalam jangka panjang.

Saya juga tak bisa bersimpati pada kelompok pendukung pembubaran ormas yang menuduh kelompok penolak sebagai pendukung HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), misalnya. Tuduhan semacam itu berdasar cara pikir “oposisi biner” yang tidak tepat. Ini sama dengan mindset kelompok konservatif yang berpikir serupa.

*Ulil Abshar-Abdalla

___________________

Artikel Terkait:

    Warganet

    Pengguna media sosial
    Warganet

    Latest posts by Warganet (see all)