Dilema Tanah Duka Kami

Dilema Tanah Duka Kami
©BP Guide

“Duka tanah dilema kami merupakan suatu keadaan yang mau mengartikan posisi manusia sebagai yang terbatas.”

Tanah pada hakikatnya bersifat multidimensi, yang mana terkandung berbagai hal baik untuk keberlangsungan hidup manusia. Sifat ini secara positif memberi banyak hal baik untuk kehidupan manusia.

Namun demikian, manusia sebagai makhluk yang dipercayakan untuk mengolah tanah secara baik justru memanfaatkan peluang ini untuk kepuasan diri. Tanah dieksploitasi secara tak bertanggung jawab.

Tanah juga kemudian diberi tambahan keterangan sebagai tanah konflik, tetapi sebenarnya manusialah yang berkonflik. Di sini tampak jelas bahwa sebenarnya manusia adalah otak dari seluruh kerusakan yang terjadi pada alam.

Fakta mengenai keserakahan manusia terhadap tanah mengakibatkan penyusutan yang besar terhadap unsur-unsur dari tanah. Keadaan tersebut dapat dimaknai dari musibah kelaparan yang dialami oleh masyarakat Papua.

Ditinjau dari Kompas.id, permasalahan kelaparan yang terjadi di Papua bukanlah semata-mata karena keadaan iklim, melainkan adanya sikap untuk menghilangkan orang-orang asli Papua. Sikap menghilangkan ini diketahui melalui 3 aspek; pertama, proses pemberdayaan dana oleh pemerintah yang kurang cermat; kedua, tidak adanya sosialisasi tentang pengelolahan tanah yang baik; serta ketiga, penyesuaian petani dengan gejala-gejala alam.

Tentang ketiga aspek tersebut dijelaskan sebagai berikut. Pertama, mengenai pemberdayaan dana. Tentunya, letak utama dari seluruh sistem yang diterapkan ialah berbasis pada manusia, demi kebaikan bersama. Kurang cermatnya pengelolahan dana terjadi karena adanya pemaknaan terhadap uang yang berlebihan, yaitu mau mencari keuntungan sendiri.

Untuk mengatasi masalah tersebut, melalui pemerintah pusat perlu diterapkan pengelolahan dana berbasis dari pendapatan daerah setempat. Yang artinya, dana yang dicairkan diarahkan pada mutu dan hasil dari penghasilan masyarakat, sehingga sungguh berarti demi pengelolahan sumber daya alam.

Baca juga:

Kedua, mengenai tidak adanya sosialisasi tentang pengelolahan tanah. Masalah utama yang muncul adalah lemahnya sumber daya manusia pada masyarakat Papua, sehingga tidak adanya penelusuran lebih dalam terhadap unsur-unsur tanah yang akan menjadi sumber bagi masyarakat Papua. Masalah ini dapat diatasi melalui jalur komunikasi dalam kabupaten maupun jalur antar kabupaten, dengan harapan adanya penelitian yang memadai terhadap keadaan tanah di Papua demi kelestarian pangan lokal.

Dan yang ketiga, mengenai penyesuaian petani terhadap gejala-gejala alam. Selain masalah sumber daya manusia, terdapat juga pola hidup masyarakat Papua yang bersifat nomaden atau berpindah-pindah sesuai keadaan alam. Tentunya, pola nomaden menuntut tentang hasil dari setiap orang yang ingin menetap pada suatu tanah, sehingga membutuhkan waktu yang sangat lama menyesuaikan diri dengan keadaan tanah.

Akibatnya, tidak adanya pemahaman yang baik tentang jenis-jenis tanaman yang harus tertanam serta jenjang waktunya. Masalah ini dapat teratasi melalui pemberdayaan sumber daya manusia, khususnya tentang alokasi dana melalui berbagai bentuk penunjangan terhadap kemanusiaan manusia Papua, baik secara internal maupun eksternal.

Perputaran rotasi bumi pada beberapa tahun ini mengakibatkan perubahan iklim yang cukup besar, misalnya curah hujan yang kurang, kemarau berkepanjangan akibat panas matahari, dan angin kencang.

Gejala-gejala alam tersebut berpotensi mengakibatkan berbagai krisis lingkungan, mulai dari kekeringan, banjir, tsunami, hingga kelaparan. Keadaan tersebut juga banyak memberi berbagai persepsi pada manusia. Akibatnya, terjadi permusuhan, iri hati, dendam hingga pada respons yang sangat mengerikan, yakni pembunuhan terhadap sesama.

Dasar mengenai gejala-gejala alam saat ini sesungguhnya berawal dari manusia yang tidak pernah puas dengan keadaan-keadaannya. Kecenderungan memiliki sepenuhnya merupakan usaha untuk membunuh sesama dan ciptaan lainnya.

Krisis lingkungan saat ini adalah gambaran dari keadaan manusia. Oleh karena itu, lingkungan semestinya mendapat porsi yang sama dengan keadaan manusia, dan menjadi tanggung jawab semua manusia tanpa ada pengecualian. Landasan utama ialah mencukupkan diri dengan apa yang ada dan yang kita miliki, mulai dengan pemaknaan terhadap diri yang serba terbatas.

Sebagaimana yang Sidharta Gautama ungkapkan: bila Anda meludah ke langit, maka yang Anda dapatkan hanyalah ludah Anda sendiri. Pernyataan ini berarti sikap manusia yang berlebihan terhadap lingkungan mengakibatkan krisis yang besar bagi manusia, bukan saja kelaparan bahkan mengakibatkan kematian.

Baca juga:

Memaknai keadaan tersebut, seluruh manusia Indonesia harus menghidupi dan memulai semangat kebersamaan. Duka tanah dilema kami merupakan suatu keadaan yang mau mengartikan posisi manusia sebagai yang terbatas. Tanah pada hakikatnya adalah baik, karena memiliki sumber daya untuk menghidupkan seluruh ciptaan yang ada di dunia.

Berlandas pada tanah barulah kehidupan berjalan. Rantai ekosistem ini mengartikan bahwa setiap makhluk hidup saling membutuhkan satu sama lain. Dengan demikian, keadaan yang masyarakat Papua alami adalah keadaan kita bersama sebagai yang membutuhkan.

Dilema Papua adalah duka kami. Kami sebagai manusia-manusia Indonesia yang pernah memiliki nasib yang sama, dan dengan nasib yang sama kami mau memperbaiki keadaan lingkungan saat ini, sehingga usaha-usaha penistaan alam, lingkungan, manusia tidak berkelanjutan.

Mario G. Afeanpah
Latest posts by Mario G. Afeanpah (see all)