Din Syamsuddin dan Politik Jokowi

Din Syamsuddin dan Politik Jokowi
Foto: Antara

Reshuffle kabinet juga menggambarkan dengan jelas sikap politik Jokowi. Dalam hal ini, sebenarnya dia tidak banyak berbeda dengan SBY. Strateginya, rangkul sebanyak mungkin kelompok politik agar aman. Tinggal pihak sana memilih, mau bergabung atau gigit jari.

Nalar WargaBanyak pendukung Jokowi jadi gagap melihat Din Syamsuddin dilantik jadi Utusan Khusus Presiden untuk masalah keagamaan. Kok bisa? Bukankah Din ini sering mengompori orang untuk tidak toleran?

Itu karena banyak orang melihat politik secara hitam-putih. Sayangnya, politik itu tidak hitam-putih. Politik itu 80-90% abu-abu.

Din itu seorang politikus. Sejak sebelum jadi Ketua Umum PP Muhammadiyah, dia sudah berpolitik. Mungkin banyak yang lupa bahwa dia dulu adalah pengurus Golkar. Ia pernah jadi dirjen di Departemen Tenaga Ketja (heran, kan?), tentu saja melalui Golkar.

Jokowi tentu saja seorang politikus juga. Pertimbangan utama ketika ia memilih orang untuk suatu jabatan adalah pertimbangan politik. Maka, kita melihat Puan jadi menteri. Juga, Yuddy Chrisnandi dan Ferry Mulsidan Baldan. Karena pertimbangan politik juga, Luhut bisa jadi menteri apa saja, dan mengurus apa saja.

Reshuffle kabinet juga menggambarkan dengan jelas sikap politik Jokowi. Dalam hal ini, sebenarnya dia tidak banyak berbeda dengan SBY. Strateginya, rangkul sebanyak mungkin kelompok politik agar aman. Tinggal pihak sana memilih, mau bergabung atau gigit jari.

Jokowi perlu dukungan Din untuk mendapat simpati lebih banyak dari warga Muhammadiyah. Mengangkat Muhadjir menjadi Mendikbud belum cukup untuk keperluan itu. Maka, Jokowi mengangkat Din. Sesederhana itu alasannya.

Jadi, biasakan melihat politik dengan mengambil jarak dan tidak baper. Tidak ada malaikat di dunia politik. Juga tidak ada patung yang diam di satu tempat. Politikus adalah kodok yang selalu melompat-lompat.

*Kang H Idea

___________________

Artikel Terkait: