Disalip Nasdem, Tingkat Keterpilihan Golkar Tersungkur

Disalip Nasdem, Tingkat Keterpilihan Golkar Tersungkur
©Kompas

Nalar Politik – Elektabilitas Partai Nasdem berhasil menyalip tingkat keterpilihan Golkar jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Keduanya sama-sama masuk ke papan tengah dengan perolehan masing-masing 5 persen dan 4,7 persen.

“Golkar tersalip oleh Nasdem, sementara PDIP tetap unggul dan PSI stabil,” kata Direktur Eksekutif Polmatrix Indonesia, Dendik Rulianto, melalui rilis persnya di Jakarta, Mingu (5/12).

Dalam temuan surveinya, PDIP masih menempati posisi teratas dengan tingkat keterpilihan 15,8 persen. Di peringkat kedua, ada Gerindra dengan skor 11 persen, disusul PKB 9,4 persen, Demokrat 9 persen, PKS 5,7 persen, dan PSI 5,2 persen.

Di bawah Nasdem dan Golkar, PPP membuntuti dengan skor 2,5 persen dan Partai Ummat 1,5 persen.

Dendik menjelaskan, tingkat keterpilihan Golkar tersungkur, antara lain karena elektabilitas Airlangga Hartarto sebagai Ketua DPP Golkar masih relatif rendah dibandingkan dengan tokoh-tokoh lainnya.

“Golkar pada survei-survei sebelumnya memperoleh skor elektabilitas 8-9 persen dan biasanya menempati urutan tiga teratas.”

Adapun kemungkinan alasan mengapa Nasdem berhasil menyalip, kata Dendik, lantaran dipengaruhi oleh hubungan dekat Ketua Umum DPP Nasdem Surya Paloh dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

“Pendekatan Surya Paloh terhadap Anies Baswedan sebagai salah satu calon presiden terkuat turut mengerek kenaikan elektabilitas Nasdem.”

Tak salah jika ia meyakini bahwa di Pemilu 2024 ke depan, akan ada dua poros kekuatan politik yang kuat, yaitu PDIP-Gerindra dan Nasdem.

Hal ini mengingat PDIP memiliki stok calon presiden yang cukup banyak, antara lain Ketua DPR RI Puan Maharani, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Menteri Sosial Tri Rismaharini. Sementara itu, Gerindra memiliki dua calon kuat, yakni Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno.

“Jika pemilu berjalan serentak antara pilpres dan pileg, sosok capres-cawapres itu berpeluang mengerek suara partai pengusungnya.”

Oleh karena itu, Dendik menilai partai-partai politik memiliki pekerjaan rumah untuk memberikan dukungan bagi pasangan capres-cawapres ke depan.

Baca juga: