Diskriminasi Karakter Fisik dalam Relasi Interpersonal

Diskriminasi Karakter Fisik dalam Relasi Interpersonal
Ilustrasi: media.licdn.com

Nalar Warga Sepanjang kemarin, saya membuat beberapa status yang menggunakan kriteria-kriteria evaluasi fisik, khususnya kejelekan vis à vis kerupawanan dalam konteks relasi interpersonal dan sosial.

Secara sadar, kata “jelek” sengaja saya pilih untuk mempertajam dilema moral dari pilihan-pilihan yang harus dibuat seseorang. Menurut saya, ini diperlukan di tengah gaya bahasa formal yang eufimistik dan sering kali menyembunyikan bias-bias fisik. Terutama dalam suatu pengambilan keputusan di balik selubung “kompetensi” dalam konteks bisnis atau “kebaikan hati” dalam konteks relasi interpersonal.

Saya percaya, yang akan terusik dengan pilihan kata “jelek” yang saya gunakan bukanlah terutama mereka yang selama ini dihukumi sebagai “jelek” berdasarkan kriteria-kriteria evaluasi fisik oleh pengguna jasa atau pasar dalam skala publik yang lebih luas. Tetapi, yang akan terusik terutama adalah mereka yang secara diam-diam menggunakan kriteria evaluasi fisik.

Mereka gunakan itu untuk menghukumi orang sebagai “jelek” dan “tidak layak jual”. Namun, mereka terlalu “sopan” untuk mengakui bahwa ketika semua calon kompeten untuk menempati suatu posisi tertentu dalam bisnis, misalnya. Maka kriteria fisik itulah yang digunakan dan paling menentukan dalam proses rekrutmen.

“Beatifulisme”, bukan semata-mata seksisme, itulah yang menjelaskan bukan saja kenapa seorang bos sebisa mungkin mencari sekretaris yang tidak semata-mata kompeten tetapi juga rupawan, tetapi juga kenapa petugas customer services dan flight attendants selalu good looking.

Diskriminasi karakteristik fisik, lepas apakah ia positif atau negatif, tidak hanya mengendap di kepala seorang bos yang membayangkan bisa menikmati tubuh sekretarisnya, tetapi juga di kepala individu-individu dalam pasar yang lebih senang bertransaksi dengan orang-orang rupawan daripada orang-orang “jelek”.

The truth of reality is that people, even the ugly ones, only want to see pretty people at the stages. Tapi, kita terlalu “sopan” untuk jujur mengakuinya.

*Amor Fati

___________________

Artikel Terkait:

    Warganet

    Pengguna media sosial
    Warganet

    Latest posts by Warganet (see all)