Doa untuk Ahok

Doa untuk Ahok
©Detik

Menjelang tengah malam ini, saya mendoakan seseorang yang berbeda agama dengan saya, tetapi tetap mulia di mata saya. Dia Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)—dan ini doa untuk Ahok.

Bagi saya, Ahok adalah sebuah catatan serius tentang sejarah dan kezaliman mayoritas atas minoritas. Ahok adalah seorang anak bangsa yang ingin menjaga negaranya dan menempatkan semua secara setara.

Karena satu kekhilafan yang semestinya masih bisa kita maafkan, Ahok terhalang untuk bekerja untuk negaranya.

Bagi sebagian orang, ia dipandang sebagai penghalang. Ada ambisi dan kerakusan yang menguasai lawan-lawannya, sementara ia harus bertarung sendiri. Ia terkapar.

Meski ia berdiri sendiri, ia tetap satu sosok yang besar. Butuh jutaan orang untuk menghadang dia yang sendirian.

Jutaan orang memilih menutup mata melihat kebaikannya dan memilih melihat satu kekurangannya saja. Dalam cara bicara.

Ia dihantam. Ia diserang. Jutaan orang melayangkan batu-batu hujatan dan fitnah, hingga ia babak belur sendirian.

Apakah yang jutaan orang itu sebagai pemenang? Tidak. Pemenang itu hanya mereka yang bertarung dengan jiwa kesatria. Bukan mereka yang menghalalkan segala cara.

Baca juga:

Satu orang terkapar oleh jutaan orang bukanlah orang kalah. Ialah pemenangnya. Ia menang karena ia mampu menguasai dirinya untuk tetap berdiri pada aturan. Tetap menghormati aturan.

Penjara untuknya bukan bukti bahwa dia kalah. Dia menang karena ia berhasil meninggalkan pesan penting yang akan sejarah catat: pemberani tak pernah takut untuk sendiri.

Apakah jutaan orang yang mengeroyok dia yang sendirian adalah pemenang? Hanya pecundang yang membuang tenaga terlalu besar untuk menghantam satu orang yang belum tentu salah.

Jutaan orang itu berpesta karena merasa menang telah menenggelamkan satu orang. Mereka berpikir Tuhan akan begitu saja berpihak kepada mereka.

Mereka lupa, anggapan mereka bahwa Tuhan di pihak mereka karena jumlah mereka yang besar, hanya sekadar anggapan. Dan mereka sendiri tidak tahu, apakah Tuhan benar-benar tersenyum atas hasil pekerjaan mereka atau justru sebaliknya?

Apalagi mereka hanya membanggakan besarnya jumlah mereka. Bahkan lupa jika Tuhan Maha Besar, jauh di atas jumlah mereka.

Tuhan masih bisa menunjukkan kebesaran-Nya meski hanya yang berjumlah sedikit yang mengikuti pesan-Nya; untuk tidak menzalimi; tidak menganiaya. Dia Maha Besar dan tak sulit menghancurkan yang besar jika mereka yang merasa besar membiarkan kezaliman membesar.

Untukmu yang terpenjara di sana, Tuhan takkan memenjarakan doa-doa baik yang tertuju untukmu di sana. Bukan tak mungkin Tuhan memberikan kedamaian atasmu lebih besar di penjara sana daripada mereka yang merasa menang di luar penjara.

Halaman selanjutnya >>>
Zulfikar Akbar