Dualitas Ikama Sulbar Itu Rahmat, Memicu Produktivitas

Dualitas Ikama Sulbar Itu Rahmat, Memicu Produktivitas
Bustan Basir Maras dan Ketua Umum Ikama Sulbar Yogyakarta Hairil Amri

Nalar PolitikBudayawan asal Mandar, Bustan Basir Maras, menanggapi persoalan dualitas Ikama Sulbar. Meski terkesan sudah mengakar serius, tapi menurutnya, dualitas itu adalah rahmat lantaran efeknya berpengaruh pada aspek produktivitas mahasiswa ke depan.

“Perbedaan pendapat itu adalah rahmat. Dengan adanya beda pendapat itu, teman-teman mahasiswa Mandar yang di Jogja kian produktif, lebih kompetitif,” ujar Bustan saat ditemui dalam acara bertajuk “Talkshow & Silaturahmi DPR RI – Ikama Sulbar”, Yogyakarta (4/1/2018).

Hal itu juga ia utarakan ketika mengisi dialog bersama dalam acara tersebut. Dengan pilihan tema Heteroginitas Masyarakat Sulbar, kembali ia tegaskan bahwa perbedaan pendapat sebagai rahmat itu adalah dogma suci agama, yang karenanya harus dikontekstualisasikan dalam laku sehari-hari.

“Meski selintas saya mendengar ada perbedaan pendapat di tubuh organ teman-teman Jogja ini (Ikama Sulbar), ada dualitas Ikama Sulbar, namun saya melihat di sinilah kontekstualisasi dogma agama itu,” pungkas lulusan Antropologi UGM Yogyakarta ini.

Dalam acara permulaan tahun Ikama Sulbar ini, hadir di antaranya anggota DPR RI Dapil Sulbar M Afzal Mahfuz. Di samping menyeru keharusan mahasiswa daerah, terutama yang mengejar pendidikan di tanah rantau seperti Yogyakarta, ia juga banyak mengulas perihal peluang pembangunan di Sulbar dengan penduduk yang sangat heterogen.

Dualitas Ikama Sulbar Itu Rahmat, Memicu Produktivitas
Foto bersama anggota DPR RI Dapil Sulbar M Afzal Mahfuz dengan para tetua Mandar di Yogyakarta (KKMSB) dan Ketua Ikama (Hairil Amri) dan wakilnya (Nasaruddin Ali).

Acara tersebut juga dihadiri para tetua Mandar yang tergabung dalam Keluarga Kerukunan Mahasiswa Mandar Sulawesi Barat (KKMSB) Yogyakarta. Kehadiran mereka memberi arti bahwa para sepuh mahasiswa Mandar tak pernah membeda-bedakan meski kondisi di internal Ikama Sulbar sendiri memang berbeda-beda.

“Jangankan diundang, kita tidak diundang saja kita tetap usahakan datang ke acaranya adik-adik supaya semua merasa diayomi,” tutur pihak KKMSB, Fudail.

___________________

Artikel Terkait: