Ekonom CSIS: UU Cipta Kerja Picu Permintaan Tenaga Kerja

Ekonom CSIS; UU Cipta Kerja Picu Permintaan Tenaga Kerja
©BarisanProKerja

Nalar Politik – Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menilai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja memicu permintaan tenaga kerja.

Hal itu dimungkinkan mengingat UU Cipta Kerja mengedepankan investasi dengan reformasi ekonomi yang serius. Ini sekaligus menjadi jawaban dari permasalahan ekonomi yang selama ini melilit Indonesia, khususnya di sektor ketenagakerjaan.

“Ini adalah angin segar untuk reformasi perekonomian kita yang selama ini dibebani regulasi yang tidak perlu. Bahkan, menjadi sumber-sumber resesi ekonomi,” jelas Yose melalui keterangan tertulis, Kamis (5/11).

Ekonom CSIS ini juga mengapresiasi Presiden Joko Widodo dan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto yang dinilainya telah mengambil langkah tepat untuk memulihkan ekonomi nasional di tengah pandemi.

Ia pun berharap kemudahan dunia usaha dalam negeri makin meningkat dengan adanya deregulasi yang signifikan dari UU ini. Ia sangat yakin, kelak, UU Cipta Kerja akan mendorong peningkatan investasi di Indonesia.

Hal senada turut disampaikan Kepala Ekonomi Bank Permata Josua Pardede. Menurutnya, di saat negara lain terseok-seok mengatasi resesi akibat pandemi, Indonesia justru mampu meneken aturan baru guna menciptakan iklim investasi yang baik bagi masa depan.

“Negara lain tidak akan mengira reformasi struktural dilakukan Indonesia saat pandemi melanda. Good point, kita sudah mencuri start,” kata Josua.

Membuat UU sebagai terobosan untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional di tengah pandemi, bagi Josua, adalah momentum terbaik. Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi kuartal 3 sebesar -3,49 persen, namun tren lebih baik dibandingkan dengan kuartal 2 yang mengalami -5,32 persen.

Itu berarti kebijakan penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional oleh pemerintah telah berada dalam track positif dan tepat. Mengingat dampak Covid-19 telah membuat angka pengangguran meningkat atau setidaknya terjadi pengangguran sebanyak 5-6 juta di mana jumlah tersebut belum termasuk angkatan baru pencari kerja yang terus bermunculan. [de]