Eksil: Sebuah Pengungkapan dari Yang Terlupakan, Dokumenter Sejarah Indonesia

Eksil: Sebuah Pengungkapan dari Yang Terlupakan, Dokumenter Sejarah Indonesia
©Himmah Online

Eksil merupakan sebuah film dokumenter karya Lola Amaria yang menyajikan cerita para eksil yang mencari jalan untuk pulang. Film yang berdurasi 1 jam 59 menit ini tampil di sinema layar lebar pada 2022 dan hanya dimainkan di beberapa teater tertentu termasuk Plaza Senayan, Jakarta Pusat.

Film dokumenter ini cukup menggiurkan hati atas poster film tersebut yang memberikan sepatah dua kata atas keseluruhan film ini, “Indonesia adalah tanah airku. Di sana, aku lahir. Apapun akan kulakukan untuk melindungi tempat di mana aku lahir. Tapi mereka mengenyahkanku dari tanahku sendiri”. Tentu saja kalimat ini mendukung opini penonton sebelum film diputar yang menimbulkan rasa empati yang tinggi terhadap para eksil.

Dari awal film, kita diberikan gambaran yang jelas tentang kehidupan para eksil di tempat kediamannya. Lola Amaria hadir sebagai pengingat akan masa lampau yang terkubur dan hal yang dapat di prediksi di kemudian hari.

Melalui kisah para eksil psca tragedi G30S PKI pada 1965, film ini menceritakan kembali sejarah yang sering diceritakan hanya pada satu sisi tanpa mengetahui kebenarannya. Pertarungan ideologi hanya terjadi di ruang diskusi para intelek yang akan berujung konflik tanpa ada resolusi untuk keberlangsungan kehidupan masyarakat.

Dengan menganalisiskan dengan teori Liberalisme, Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) PKI merupakan salah satu pilar sejarah Indonesia yang dipicu oleh perebutan kekuasaan antara kelompok militer dan Partai Komunis Indonesia.

Film ini menunjukkan bagaimana mereka (para eksil) kehilangan hak-hak dasar mereka, seperti hak untuk hidup di tanah air Indonesia dan kembali berkumpul dengan sanak saudara bahkan berdiskusi. Setiap kegiatan yang dilakukan akan dipantau dan juga dipaksa untuk hidup di pengasingan.

Film ini juga menunjukkan kecemasan pasa penonton saat narasumber mengatakan bahwa di negara asing tersebut mereka masih diperlakukan berbeda dengan yang lain, diskriminasi terjadi disaat mereka masih terus mempertahankan identitas dan budaya mereka di negara asing tersebut.

Dalam sisi kemanusiaan yang beradil dan beradab, film ini menimbulkan ketidakpastian dari para eksil untuk hidup dengan ketidakpastian di negara asing. Perjanjian untuk kembali ke tanah air juga diberikan namun tak juga di realisasikan untuk berpulang. Sehingga dalam hal ini, sistem hukum yang diberlakukan tidak menjamin untuk bisa memberikan perlindungan terhadap seluruh warga Indonesia.

Baca juga:

Kehilangan tanah lahir dan juga keluarga yang menunggu di rumah selama berpuluh-puluh tahun bukanlah hal yang mudah. Tuduhan keanggotaan PKI atau ber-afiliasi dengannya menciptakan stigma yang mencabut hak-hak kewarganegaraan mereka secara sewenang-wenang. Liberalisme menjadi cita-cita para eksil.

Film ini menunjukkan bahwa keberagaman pandangan politik yang seharusnya dihormati namun kian menjadi pemicu pembungkaman. Simbol palu arit yang khas akan gaya komunis untuk memberikan arti perjuangan.

Namun, setelah adanya G30S PKI simbol tersebut menjadi pertanda bahwa paham komunisme selalui menghantui sebagian besar masyarakat Indonesia. Adapun alasan yang di akui sebagian besar masyarakat adalah simbol tersebut anti-agama dan kejahatan kelas berat. Sedangkan di luar negeri, simbol ini biasa digunakan bahkan terang-terangan dipakai sebagai simbol perjuangan.

Film ini “eksil” tidak hanya berpusat dengan hak asasi manusia yang dilanggar namun juga film ini berhasil membantu menjelaskan apa yang terjadi di masa lampau lewat koleksi-koleksi buku dari salah satu narasumbernya yaitu Sarmadji yang gemar membaca buku hingga rumanya penuh dengan koleksi buku.

Tak kalah juga dengan pengingatan para eksil seperti Asahan Aidit, Chalik Hamid, Djumanini Kartaprawira, Kuslan Budiman, Sardjito Mintardjo, dan juga Sarmadji yang bercerita tiada henti tentang situasi yang saat itu terjadi. Mereka, mahasiswa, dipaksa untuk “mengamini” rezim yang baru atas dasar pembasmian paham komunisme.

Dokumenter ini menyajikan bagaimana mereka berusaha untuk mempertahankan hidup yang tidak mudah di negara asing salah satunya adalah Moskow yang menjadi saksi hidup para eksil yang dianggap condong kiri oleh pemerintah. Ribuan pelajar dikirim oleh Presiden Soekarno sebagai representatif Indonesia dan melanjutkan pendidikannya.

Namun, hal tersebut tidak hanya menimbulkan reaksi yang sederhana tetapi dalam film ini memberikan respon dari para keluarga yang bersangkutan atas kecemasan akan kepulangan dari mereka yang dikirim untuk belajar.

Para eksil yang tidak bisa pulang, tak memiliki pilihan lain selain bertahan di negara yang di tempatinya. Paspor mereka dicabut dan kewarganegaraannya juga di cabut, dalam film mereka menyatakan bahwa meskipun tubuh mereka berada di tempat lain namun darah kebanggannya tetap Indonesia. Mereka yang tidak bersalah dibuai tanpa jeruji dan tidak bisa melakukan hal sebebas masyarakat Indonesia lainnya.

Halaman selanjutnya >>>
Radenroro Pinkan Larasati Hendrarso
Latest posts by Radenroro Pinkan Larasati Hendrarso (see all)