Eksistensi Manusia; Antara Nietzsche dan Imam Ali

Eksistensi Manusia; Antara Nietzsche dan Imam Ali
Ilustrasi

“Aku adalah kata-kata yang sangat hening yang mengundang badai.”

Itulah salah satu penggalan kalimat angkuh dari Nietzsche yang selalu meminta perhatian bagi penganut eksistensialis. Tapi Nietzsche terjebak dalam nihilisme sehingga dia seolah menggapai-gapai di lautan tak bertepi, tak berpantai, nihil, kosong; orang Jawa menyebutnya suwung.

Seharusnya dia bisa mencapai fana fillah kalau dia seorang sufi dan penganut tasawuf. Pemikiran Nietzsche bisa mencapai ubermensch atau insan kamil dalam eksistensialisme teosofi Islam. Tapi sayang, dia hanya menjadi superman yang kata-katanya mengundang badai nihilisme.

Kenapa orang cerdas ini menjadi fana dan nihil ketika mencapai pengalaman eksistensial? Faktornya adalah jiwa dalam dirinya yang bergemuruh dan seperti dinamit.

Insan kamil atau ubermensch (superman) dalam pikiran Nietzsche dibentuk oleh energi (gairah, hasrat, kehendak untuk berkuasa), intelek, dan kehormatan.

Dalam buku Kehendak untuk Berkuasa (Der Wille zur Macht), Nietzsche menyatakan: “Dunia ini adalah kehendak untuk berkuasa dan tidak lebih dari itu. Anda sendiri pun adalah kehendak untuk berkuasa ini.”

Inilah tesis Nietzsche yang menurut falsafah teosofi Islam sangat sewenang-wenang dan menurunkan derajat eksistensi manusia menjadi sebatas material yang ekonomistis.

Dalam eksistensialisme Islam, Ali bin Abi Thalib meletakkan dasar-dasar untuk menganalisis tentang jiwa. Pemikiran ini juga dikembangkan oleh filsuf-filsuf seperti Al Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali.

Dalam kitab Majma’al Bahrain, Syeikh Fakhr ad Dinath Tharihi Kumayl ibn Ziyad ra menceritakan bahwa ia memohon penjelasan dari Amirul mukminin Ali (a.s) tentang deskripsi jiwa. Ia bertanya: “Wahai Imam, aku berkeinginan agar Anda menjelaskan tentang jiwa.”

Imam Ali (a.s) bertanya, “Wahai Kumayl, jiwa apa yang engkau maksudkan?”

Kumayl bertanya lagi, “Bukankah jiwa itu satu?”

Imam Ali (a.s) berkata menjelaskan: “Wahai kumayl, jiwa itu ada 4, yakni namiyah nabatiyah (pertumbuhan ketumbuhanan) hissiyah hayawaniyyah (penginderaan kebinatangan), nathiqah qudsiyyah (pembicara kekudusan), dan kulliyah ilahiyyah (universalitas ketuhanan).”

Masing-masingnya memiliki 5 kekuatan dan kekhususan: namiyyah nabatiyyah memiliki lima kekuatan, yakni masikah (penahan), jadzibah (penarik), hamidah (pencerna), dafi’ah (pendorong), dan murbiyyah atau pengembang.

Ia juga memiliki dua kekhususan sebagaimana lazimnya kelebihan dan kekurangan. Kemunculannya dari hati sebagaimana segala sesuatu yang terdapat pada binatang.

Hissiyah hayawaniyyah memiliki 5 kekuatan, yakni pendengaran, penglihatan, penciuman, perasaan, dan perabaan. Ia juga memiliki 2 kekhususan, yaitu keridaan dan kemarahan (ghadhab). Kemunculannya dari hati menyerupai segala sesuatu yang terdapat pada binatang buas.

Nathiqah qudsiyyah memiliki 5 kekuatan, yakni berpikir (fikr), mengingat (dzikr), mengetahui (ilm), bersabar (hilm), dan memahami (nabahah). Ia tidak memiliki kemunculan/penampakan.

Ia menyerupai segala sesuatu yang terdapat dalam jiwa malaikat. Ia juga memiliki 2 kekhususan, yaitu kenetralan (nazahah) dan kebijaksanaan (hikmah).

Kulliyah ilahiyyah memiliki 5 kekuatan, yaitu kekal dalam fana, kenikmatan dalam kesengsaraan, kemuliaan dalam kehinaan, kefakiran dalam kekayaan, kesabaran dalam ujian. Ia juga memiliki 2 kekhususan, yaitu kesabaran (hilm) dan kemurah-hatian (karam).

Inilah yang bermula dari Allah dan kembali kepada-Nya berdasarkan firman: “dan Kami tiupkan padanya ruh-Ku” (QS. Al Hijr 15:30).

Adapun ketika kembali kepadanya berdasarkan firman:

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan rida dan diridai. Sementara akal adalah pertengahan dari segala sesuatu agar kalian tidak mengatakan sesuatu kebaikan atau keburukan kecuali berdasar analogi yang rasional.”

Jiwa yang bergemuruh dan tidak mencapai tingkatan nafs al muthmainnah inilah yang menjadikan Nietzsche begitu songar, terlihat angkuh tapi rapuh.

Dalam bukunya yang berjudul Ecce Homo dia menyatakan:

“Mengapa aku adalah takdir? Aku tahu takdirku, suatu hari kelak akan diasosiasikan dengan namaku kenangan tentang sesuatu yang menakutkan, tentang sebuah krisis yang belum ada bandingnya di muka bumi, tentang perbenturan kesadaran yang paling dahsyat, tentang sebuah keputusan yang dibangkitkan menentang segala hal yang hingga saat itu dipercayai, dituntut, disakralkan. Aku bukan seorang manusia, aku sebuah dinamit.”

Dan Nietzsche mengucapkan selamat pagi…

    Aly Mahmudi

    Alumnus Filsafat UIN Yogyakarta
    Aly Mahmudi

    Latest posts by Aly Mahmudi (see all)