Elegi Semesta

Elegi Semesta
©Distorsi

Sakit
Pilu
Panas
Gerah
Setiap saat aku rasakan
Kulitku dicincang kapak-kapak raksasa

Badanku letih
Setiap saat harus ditempa mesin-mesin beringas itu
Aku dibakar dalam tanur api
Panas dan mengerikan sekali

Aku heran
Berulang-ulang harus kudengar ratap tangis kalian
Mengapa harus longsor?
Mengapa harus banjir bandang?
Mengapa suhu dunia kita panas?
Kalian tidak pernah sadar kalau telingaku kesakitan menangkap keluhmu

Kalau mau sejahtera
Hentikan kejahilan kalian
Satu pintaku obati lukaku yang dalam dan pelik ini

Banjir

Sampahmu berserakan
Parit-paritmu lumpur berdekil
Mulai dari plastik sampai kaleng-kaleng hedonmu

Hujan datang dan parit itu meluap
Bencana tak lagi terelakan
Masih mau banjir lagi?

Percakapan Manusia dan Semesta

Ada dua pihak beradu elegi
Manusia menangis pilu
Bencana silih berganti datang
Panas bumi
Longsor banjir

Mau persalahkan siapa saudara tanya semesta kepada manusia?
Kalian punya akal dan nurani
Sadar tidak jika engkau sendiri yang menanam lukamu

Engkau ego saudara
Memikirkan diri sendiri
Sedang aku lesu menatap sendu

Kau inginkan penderitaan berakhir?
Aku juga sama
Aku mau kalian bertobat
Aku rindu Firdaus yang duluKau juga kan?

Mari kita berdamai!

    Latest posts by Flori Fanto (see all)