Enigma Strategia

Enigma Strategia
©Och Tamale Magazine

“Seni, ya, seni. Etika, ya, etika!”
“l’art pour l’art. Seni untuk seni!”

Suara-suara itu memecah keheningan doa penutup yang khidmat dan khusuk. Kurang ajar, apa-apaan ini!

Pak Ustaz yang didatangkan panitia itu naik pitam. Peserta kajian keagamaan dengan polos dan lugunya sepakat bahwa: seni untuk seni! 

“Ustaz pasti suka seni bugil, kan?”
“Astaghfirullah!”

Pertarungan pandangan dunia yang membagi kehidupan yang berpasangan secara oposisional: fisik dan gaib, rohani dan jasmani, substansi dan arti, dan lain-lainnya dengan pandangan tauhid yang bersikeras bahwa kehidupan merupakan bentuk tunggal sebuah kebenaran saja.

Sore itu, estetika sebagai suatu hak kebebasan berekspresi, yang bebas, tidak ada urusan dengan etika, baik bagi seniman atau bukan seniman, tanpa ada batas, pematang, dinding etika, apalagi agama, telah mendapatkan tempatnya di hati para remaja peserta kajian sore di sebuah ruangan sakral.

Demikianlah yang disebut dengan kebebasan seni, seni yang liberal humanis.

“Bertelanjang adalah indah, estetis, Pak Ustaz!” Mereka makin beringas. Pak Ustaz mati kutu.

“Itu estetika keburukan. Hmmm….buruk itu adalah indah dan nikmat!”

Tanpa sadar ia tebersit di hati Pak Ustaz. Duh…..

Sebagaimana Kaisar Nero berestetika keburukan dengan menikmati pembakaran Kota Roma dari puncak sebuah bukit. Menurutnya ia adalah pemandangan yang indah, bahkan terindah.

Petang memenggal burai keemasan sore. Peserta kajian mulai meninggalkan kesadisan yang indah ala Marquis de Sade yang mereka sintesis dari topik kajian tentang Kitab Seni Bergumul. 

“De Sade, sadis!”

Baru merasa nikmat, indah atau merasakan sesuatu yang estetis dengan melakukan perbuatan penyiksaan.

Hukum-hukum pasar kapitalisme dan ideologi liberal yang menggerakkan dan memungkinkan prosa-prosa vulgar di Kitab Seni Bergumul itu menggiurkan dibungkus lingua sacra yang menarasikan dan mengeksploitasi seksualitas secara vulgar tersebut telah ditulis dan dirayakan.

Ketika prosa yang ditulis para Syekh itu tak segan-segan menarasikan seksualitas secara verbal dan blak-blakkan, yang memang tak jauh berbeda dengan pornografi, bila pengertian pornografi adalah upaya sadar untuk mengeksplorasi dan menggambarkan tubuh dan seksualitas ke dalam media tulisan, utamanya media sastra, sebagaimana hal demikian pernah dilakukan Marquis de Sade.

“Ini dia Sastra Liberal!”
“Bukan!”
“Terus apa?”
“LA.”
“Apa itu?”
Liberal Arts.

Beberapa Salik meloncat kegirangan dengan ujaran itu! Wah…..kegirangan. Mereka mulai menyimpulkan ini filsafat!

Tulisan-tulisan Syekh itu beraliran kebebasan ekstrem, tak terikat dengan etika, agama, atau hukum, dengan prinsip utama pengejaran kepuasan personal.

Namun, tidak dibui seperti De Sade. Tak pernah ditahan di beberapa penjara dan rumah sakit jiwa. Apakah mereka para Syekh tidak pernah secara teknis didakwa melakukan kejahatan apa pun?

Apakah dengan upaya-upaya seperti itu, barangkali, seni bergumul malah akan kehilangan unsur erotiknya yang enigmatik dan sekadar menjadi reifikasi tubuh dan seksualitas itu sendiri?

Diskusi lanjutan tanpa pengawasan Pak Ustaz itu makin memanas. Para Salik merona wajah, bergidik, berkeringat, kadang bergetar.

Mereka sudah memisahkan isi Kitab Seni Bergumul itu dari unsur sakralnya, balutan Lingua Sacra-nya!.

“Ini masokhis, hmmm.”
“Ideologi ini bukan statis dan pasif, akan tetapi aktif dan dinamis!’
“Maksudnya?”
“Ia adalah perubahan menuju keadaan yang lebih baik dan komprehensif.”

Arwah Leopold V Sacher-Masoch yang membawa mazhab Masokhis sepertinya hadir dalam diskusi para Salik itu. Ia merupakan estetika, nikmat, indah atau estetis dengan menyakiti diri sendiri bahkan menghancurkan diri.

Tiga tokoh dunia yang menghebohkan itu telah mampu membolak-balik pandangan mereka tentang seni. Mereka mulai menikmati tiga jenis besar estetika keburukan, pertama estetik anero, kedua estetik asade, ketiga estetika masoch.

Estetika diberi pematang atau diletakkan dalam takaran baik dan buruk, maka estetika akan berontak liar dari budi bahasa, bahkan juga tidak dengan logika.

“Pak Ustaz, agama jangan dipakai sebagai sumber penindasan. Biarkan, seni untuk seni!”

Para Salik kembali menemui Pak Ustaz, tidak puas! Mereka ingin menikmati apa yang dirasakan Kaisar Nero, De Sade, dan Masoch.

“Kami muncul dari kalangan Salik jelata!”
“Siap berkomunikasi dengan jelata untuk menciptakan semboyan-semboyan baru!’

Ruang diskusi membara.

“Orang yang sadar akan keadaan manusia (human condition) di masanya, serta setting kesejarahannya dan kemasyarakatannya yang menerima rasa tanggung jawab sosial. Ia tidak harus berasal dari kalangan terpelajar maupun intelektual. Mereka adalah pelopor dalam revolusi.

Para Salik sudah keluar jalur. Mereka mulai berani menindas Pak Ustaz yang mulai suka sekaligus benci dengan seni bugil. Kini, para Salik mulai senang menindas tapi sangat patuh beragama.

Konsep-konsep yang mulai mengoyak tauhid mereka kini jadi sublim dengan gagasan mengenai “ke-liyan-an (otherness), tentang radikal, kesenangan terhadap citra hibriditas.

Perubahan sosial (termasuk revolusi) dan perkembangan masyarakat tidak dapat didasarkan pada kebetulan, karena masyarakat merupakan organisme hidup, memiliki norma-norma kekal dan tak tergugat yang dapat diperagakan secara ilmiah.

Mereka para Salik berubah menjadi “Penggerak Massa” yang memiliki ideologi dan mempunyai keyakinan kuat tentang bagaimana mengubah status quo adalah rausyan fikr atau pemikir yang tercerahkan. Mereka kini memiliki ideologi yang dipilihnya sendiri secara sadar.

Akhirnya pula mereka menemukan pola untuk idealisasi pembebasan sekaligus pengembangan dan idealisasi masa depan yang bercorak teologis.

Ia membebaskan dengan identitas ketimuran dengan semangatnya yang sejati, liberal, humanistik, agar esoterisme Islam yang universal dan demokratis tidak tertutupi oleh tafsiran yang bias dan patriarki dan progresif. Memberikan perhatian tuntutan seni yang tersingkir, diasporik, dan terjajah.

Lingkar-lingkar kajian yang biasa disebut dengan halaqoh, kini menjadi pusaran arus-arus pemikiran liar yang mencerahkan kejumudan sebuah konservatif. Bergerak tanpa teologi yang membelenggu, tapi justru dengan teologi yang membebaskan, menyinari, memberinya kekuatan, dan harapan-harapan untuk masa depan.

Halaqoh itu telah berubah menjadi ruang pendidikan seni liberal yang mungkin setara dengan program sarjana empat tahun di University of Wisconsin-Madison, Amrik sana!

Para Salik itu mulai mengeksplorasi banyak bidang studi dengan tujuan untuk mengembangkan pengetahuan umum sambil memperkuat kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan keahlian menyelesaikan masalah.

Mungkin tempat sakral tempat kajian melingkar itu nantinya menjadi Metropolitan Boston, jantungnya seni dan budaya. Boston sebagai kota pelajar. Di mana para Salik Liberal suka belajar di mana saja – tidakhanya di perpustakaan, di kafe, bahkan di taman tanpa ditindas agama.

“Bagaimana kalian menerjemahkan Liberal Art Education?” tanya Pak Ustaz tiba-tiba.

Suasana diskusi dadakan yang tak melingkar lagi  itu hening. Temaram antara magrib dan Isya semakin membuat mencekam.

“Jika diterjemahkan secara harfiah ke dalam bahasa Indonesia berarti Pendidikan Seni Liberal, Pak ustaz!” jawab seorang Salik yang sok tahu. Yang mulai menikmati kebebasannya.

“Indonesia tidak mengenali istilah itu, karena lembaganya pun tidak eksis sama sekali!” jelas seorang Salik lainnya yang juga mulai bebas berpendapat.

Pak Ustaz terpingkal hingga bergulung-gulung di lantai. Lupa akan jabatannya.

Liberal Art Education bukanlah pendidikan tentang liberalisme, atau liberal dalam pengertian ideologis!” jawab Pak Ustaz yang tiba-tiba jadi seorang liberal.

Loh, kok! Semua Salik terheran. Terperanjat dengan penjelasan pak Ustaz yang mereka kira sebelumnya adalah seorang konservatif.

“Kalian sih, sok, tahu!” sergap Pak Ustaz kepada para Salik yang masih mendelik matanya.

“Aku sudah lama menikmatinya.” Sebuah akhir kata dari Pak Ustaz sambil pergi seenaknya meninggalkan mereka tanpa salam.

Yudho Sasongko
Latest posts by Yudho Sasongko (see all)