Enu Maria yang Menguasai Ruang Kosong di Hati Ini

Enu Maria yang Menguasai Ruang Kosong di Hati Ini
©Pixabay

Seolah enggan untuk mengakhiri percakapan kita. Ya, itulah kita. Aku dan Enu Maria.

Ada yang tak mampu kulupa. Tentang percakapan kita. Percakapan yang hampir setiap hari kita lakukan, bahkan tak jarang baru berakhir ketika pagi menjelang.

Sesuatu yang mungkin tidak Enu tahu, aku selalu berusaha mengoleskan sedikit minyak gatsby pada rambutku, sekadar berusaha mengusir kantuk yang menerjang. Bahkan, aku masih berusaha menahan kepalaku yang berkali-kali terjatuh sekedar ingin membalas pesanmu dan menanti pesan apa yang Enu kirim untukku.

Aku selalu lupa, ah bukan, aku memang tidak ingat, mengapa kita bisa begitu dekat. Aku tahu, Enu bukan sosok yang mudah dekat dengan siapa pun. Aku juga tahu, Enu bukan tipe orang yang mudah membuka hatimu untuk siapa pun.

Sulit kupercaya saat Enu Maria memberikan nomor dengan alasan agar aku punya teman berbincang saat terjaga tengah malam. Saat ini, aku menyesal tidak menanyakan alasanmu. Apa aku terlalu terkesima mengetahui siapa dirimu? Apa aku terlalu bahagia kamu membuka hatimu untukku? Entahlah.

Enu, terlalu banyak perbedaan di antara kita. Enu seseorang yang memandang segalanya berdasarkan analisismu dan aku selalu menyertakan perasaanku. Dalam hal apa pun, kita tidak pernah bertemu dalam satu titik yang sama. Percakapan kita melalui pesan-pesan singkat dan panjang pun tak pernah berujung mufakat.

Bagaimana bisa, aku yang tidak suka diatur dan kamu yang suka mengatur serta memaksakan pendapatmu yang aku akui kebenarannya–bisa terlibat percakapan panjang seolah tak berujung? Lucunya, kita seolah enggan untuk mengakhiri percakapan kita. Ya, itulah kita. Aku dan Enu Maria.

Sejujurnya, aku menyukai percakapan kita. Saat tumpukan pekerjaan memaksamu untuk jeda sejenak. Saat dingin pagi membuat tanganku gemetar mengetik pesan untukmu. Aku menikmati setiap detik yang bergulir bersamamu. Apakah ini salah? Perasaan yang aku miliki? Rasa yang tumbuh di hatiku? Perasaan yang menyiksaku. Perasaan yang membuatku takut suatu hari kamu akan pergi dariku. Ketakutan yang tidak beralasan dan konyol. Mungkin karena aku tahu bagaimana rasanya kehilangan. Menyedihkan, bukan?

Tidak ada yang salah di antara kita. Mungkin ini hanya rasaku saja. Sejujurnya, Enu tidak pernah menawarkan rasa apa pun padaku. Tidak juga hatimu. Sejak awal aku sudah tahu semuanya. Aku mengerti seperti apa hubungan kita. Mungkin karena aku terlalu nyaman bersamamu. Membicarakan segala hal denganmu.

Ah, seharusnya tidak kubiarkan hatiku bermain-main di hatimu. Tidak seharusnya kubiarkan perasaanku mengembara terlalu jauh hingga memasuki ruang di hatimu. Enu seolah menyediakan celah yang memudahkan aku masuk ke dalam hatimu.

Pria seperti apa aku ini? Saat ini, apakah terlambat bagiku untuk menghapusmu? Sesulit inikah melepasmu dari ingatanku? Saat aku sadari, betapa aku selalu merindukan percakapan kita. Kerinduan yang sudah menjadi candu untukku.

Selamat malam, Enu sudah tidur? Apa yang Enu lakukan seharian ini? Apakah harimu menyenangkan? Tadi kamu tidak terlambat makan siang, ‘kan? Sudah makan malam? Tidurlah, jangan terlalu malam! Tidak baik untuk kesehatanmu.

Enu sudah menyelesaikan buku yang pinjam kemarin? Bagaimana ceritanya? Apakah aku harus membacanya juga? Oya, film yang aku bilang kemarin, apa sudah Enu tonton? Bagaimana menurutmu? Apa kita akan mengulasnya? Hmmm, jangan terlalu lelah. Jaga kesehatanmu. Aku sedih bila kamu sakit. Enu membuat aku cemas. Jangan lakukan itu.

Betapa aku merindukan semua pertanyaan itu memenuhi aplikasi WA-ku. Perhatian kecil yang tidak pernah berhenti membuat perasaanku melambung. Perhatian kecil yang membuatku tidak peduli siapa dirimu. Perhatian kecil yang membuat aku menjadi perempuan serakah dan tidak tahu malu.

Konyolnya, hatiku menolak untuk tersadar. Ah, begitu besarkah artimu bagi diriku? Sehingga aku menolak untuk kehilanganmu? Kurasa, ada yang salah dengan isi kepalaa dan juga hatiku. Kata perpisahan memang tidak pernah terlontar darimu. Baik secara langsung saat kita bertemu maupun melalui pesan. Namun, aku terlalu enggan untuk menanyakan perubahan sikapmu. Bisa jadi, aku terlalu takut mendengar pengakuanmu bila kutanyakan kesenjangan yang tercipta di antara kita.

Takut Enu Maria mengatakan sesuatu yang akan membuatku terluka. Takut Enu mengatakan bahwa apa yang terjadi di antara kita adalah suatu kesalahan atau kekhilafan? Ketakutan yang seharusnya tidak boleh ada. Ya, seharusnya karena kita tidak pernah bersepakat dalam satu rasa.

Sejak awal kita tahu di mana posisi kita masing-masing. Di mana sebenarnya hati kita berada? Oh, bukan. Tepatnya, di manaya Enu hatinya berada? Namun, aku berusaha tidak peduli akan kenyataan itu. Aku terlalu nyaman bersamamu. Aku takut kehilanganmu. Aku takut bila tidak bersamamu, melewati dini hari yang hening tanpa menerima pesanmu.

Tidak rela kehilangan perhatian-perhatian kecil yang membungkus hangat hatiku. Perhatian kecil yang tak pernah gagal menghadirkan senyum tipis di bibirku, degup tak beraturan di jantungku, serta perasaan asing yang mengaliri sel-sel di tubuhku. Konyolnya, aku izinkan perasaanku lepas kendali karenamu.

Sesungguhnya, aku merindukan percakapan kita. Saat anganku tak mampu melupakanmu sedikit pun. Tentangmu yang terlalu dalam tertinggal di ingatanku. Menguasai seluruh ruang di kepalaku. Sesulit apa pun aku berusaha untuk melenyapkanmu dari ingatanku, tetapi aku selalu balik pada titik yang sama, aku terlalu takut kehilanganmu. Kamu mungkin akan tertawa melihat kebodohanku.

Aku selalu ingat apa yang kamu katakan di awal kedekatan kita. Saat itu aku hanya tertawa tanpa suara mendengar kata-katamu. Bila kamu tahu apa yang terjadi dengan hatiku, mungkin kamu yang akan tertawa melihat kebodohanku. Bisa jadi juga kamu kasihan padaku.

Enu berhasil mengacaukan perasaanku. Mematahkan hatiku. Konyolnya, aku butuh patah berkali-kali untuk bisa melupakanmu. Membencimu. Terlalu banyak ruang di hati dan ingatanku yang kamu curi dariku. Menyedihkannya, kamu tidak tahu itu. Mungkin kamu memang tidak peduli itu.

Jangan jatuh cinta padaku karena Enu akan terluka. Aku telah memilih di mana hatiku berlabuh. Tapi, jika Enu sedang bersedih dan perlu teman bercerita, hubungi aku. Aku akan selalu ada untukmu. Aku akan menghiburmu. Aku akan membuatmu kembali tersenyum.