Esensialitas Pendidikan Interkultural pada Program Kampus Merdeka

Esensialitas Pendidikan Interkultural pada Program Kampus Merdeka
┬ęSampoerna Academy

Esensialitas Pendidikan Interkultural pada Program Kampus Merdeka

Di era pendidikan kontemporer ini, tentu tidak asing lagi dengan istilah Kampus Merdeka. Yups, salah satu program yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pertama kali diluncurkan pada awal tahun 2020.

Kampus Merdeka memiliki banyak program, di antaranya Kampus Mengajar, Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB), Wirausaha Merdeka, Bangkit, hingga Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) dan Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA), serta program lainnya.

Program-program tersebut menjadi suatu pembelajaran yang cukup inovatif untuk membantu kesiapan mahasiswa menghadapi perubahan sosial, budaya, dan dunia kerja mengingat kemajuan teknologi digital dan informasi yang sangat pesat. Program ini mengedepankan otonomitas dan kebebasan mahasiswa terkait pembelajaran yang fleksibel dan tidak membatasi ruang geraknya hanya pada lingkup perguruan tinggi saja.

Secara kontekstual, Kampus Merdeka dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan beragam budaya dalam hubungannya dengan pendidikan interkultural. Akan tetapi, sebelum pembahasan yang lebih jauh, mari memahami terlebih dahulu apa itu pendidikan interkultural.

Pendidikan interkultural (intercultural education) adalah suatu pendekatan sistem belajar mengajar berdasarkan nilai-nilai dan keyakinan demokratis yang mencoba mempromosikan pluralisme budaya dalam konteks masyarakat yang beragam dan dunia yang saling bergantung (Bennet, 1998). Sementara itu, dalam Lestiono, dkk (2018), adapun pendidikan interkultural didefinisikan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang melibatkan unsur budaya asing maupun budaya lokal.

Dari kedua definisi tersebut, dapat diketahui bahwa pendidikan interkultural merupakan pendekatan dalam proses pembelajaran yang mengacu pada nilai-nilai keberagaman masyarakat dengan adanya keterlibatan interaksi dari suatu lintas budaya. Pendekatan dalam pendidikan interkultural memuat nilai atau norma, personalitas, tindakan, dan kebiasaan yang diintegrasikan dari dua kutub budaya yang berbeda.

Pendidikan interkultural melibatkan pengembangan keterampilan komunikasi lintas budaya dan kemampuan untuk berinteraksi dengan individu dari latar belakang yang beragam. Pengembangan keterampilan tersebut diharapkan menjadi pemantik seorang pelajar untuk terdorong mempertanyakan stereotip, prasangka, diskriminasi, serta penghargaan terhadap perbedaan budaya itu sendiri.

Baca juga:

Nah, kontribusi pendidikan interkultural terhadap penciptaan lingkungan pendidikan yang inklusif dan beragam budaya ini dapat terlihat implementasinya pada beberapa program Kampus Merdeka.

Program Kampus Merdeka yang sangat jelas terlihat terdapat aspek pendidikan interkultural di dalamnya adalah program Indonesian Internasional Student Mobility Awards atau biasa disebut dengan IISMA. Program ini merupakan program pertukaran pelajar yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa Indonesia untuk belajar di luar negeri guna memperluas wawasan, pengetahuan, dan pengalaman mereka, tentunya.

Melalui IISMA, aspek pendidikan interkultural yang diimplementasikannya yakni program pembelajaran bahasa asing. Bahasa asing ini memang menjadi unsur yang utama ketika berbicara mengenai prosesnya dalam pendidikan interkultural. Hal tersebut terkait dengan keharusan mahasiswa untuk mempelajari bahasa dan budaya negara lain, termasuk kebiasaan, adat istiadat, hingga norma kelompok yang berlaku.

Selama pelaksanaan IISMA, mahasiswa akan banyak terlibat dan berinteraksi langsung dengan individu atau kelompok-kelompok dari latar belakang budaya yang berbeda dengan dirinya, menggunakan bahasa selain bahasa Indonesia. Keterlibatan mahasiswa tersebut membuka banyak kemungkinan untuk memahami secara langsung nilai kehidupan dan perspektif budaya yang berbeda.

Adanya interaksi mencakup keterampilan komunikasi lintas bahasa yang dapat terjalin secara efektif apabila saling memiliki pemahaman antarkeberagaman budaya. Konsep interkulturalisme tersebut menjadi insight baru serta pengajaran bagaimana mengapresiasi perbedaan, toleransi, dan menyikapi diversitas kultural sebagai bagian dari suatu pendidikan.

Tak hanya pada IISMA, pendidikan interkultural juga terlaksana pada program Kampus Mengajar dengan adanya pembelajaran kolaboratif. Dalam program Kampus Mengajar, mahasiswa ditempatkan di beberapa sekolah sebagai upaya membantu peningkatan literasi dan numerasi di tingkat pendidikan dasar.

Lalu, di mana aspek pendidikan interkulturalnya?

Pendidikan interkultural dapat diimplementasikan dalam pembelajaran yang melibatkan kolaborasi dan kerja sama antara guru, mahasiswa, dan siswa dari berbagai latar belakang budaya untuk membangun pemahaman dan toleransi perbedaan budaya. Tidak hanya pengetahuan mengenai keberagaman budaya, kolaborasi ini juga menekankan pada pengenalan siswa terhadap nilai budaya, tradisi, dan praktiknya secara langsung antara budaya mereka dengan budaya lain dalam kehidupan sehari-hari.

Halaman selanjutnya >>>