Etika Teleologi John Stuart Mill

Etika Teleologi John Stuart Mill
©Ermira

Dalam sistem etika, ada dua jenis yang menjadi dasar hampir semua etika yang ada saat ini, yaitu Deontologi dan Teleologi. Apabila semua teori etika yang ada saat ini kita masukkan dalam dua kolom besar, dapat kita pastikan kalau tidak deontologi, maka pasti teleologi.

Etika deontologi berpendapat bahwa nilai baik atau buruk itu merupakan hakikat dari satu perbuatan. Misalnya, menipu itu buruk dan jujur itu baik. Maka apabila baik dan buruk itu ada pada perbuatannya, itulah deontologi.

Sementara itu, etika teleologi berpendapat bahwa nilai baik atau buruk itu tergantung tujuan dan konsekuensinya. Misalnya jujur tapi menyakitkan itu namanya tindakan tidak bermoral. Sebab hasilnya menyakitkan meskipun itu jujur.

Etika teleologi kemudian dikenalkan dan dikembangkan dengan utilitarianismenya. Secara bahasa, utilitarianisme berasal dari bahasa Latin, utilis yang berarti “bermanfaat”. Sedangkan secara istilah sederhananya, yaitu baik atau buruknya sesuatu berdasarkan berguna atau tidaknya sesuatu bagi diri sendiri maupun orang lain.

Jeremy Bentham dan John Stuart Mill menjadi dua tokoh penting dalam pematangan sekaligus memperkokoh serta memperhalus utilitarianisme. Jeremy Bentham (1748-1832) dengan bukunya Introduction to the Principles of Morals and Legislation (1789) berpendapat bahwa utilitarianisme adalah dasar etis untuk memperbarui hukum Inggris, khususnya hukum pidana.[1]

Bagi Bentham, manusia membuat moralitas dan hukum, bukan manusia untuk hukum dan moral. Sedangkan John Stuart Mill (1806-1873), dalam bukunya Utilitarianisme (1864), menyempurnakan pemikiran Jeremy Bentham.

John Stuart Mill memiliki pendapat tentang utilitarianisme dan patut kita sebut dua hal. Pertama, ia mengkritik pendapat Bentham yang mengatakan bahwa kesenangan dan kebahagiaan harus kita ukur secara kuantitatif. Menurut Mill, kualitasnya perlu kita pertimbangkan juga, karena ada kesenangan yang lebih tinggi mutunya dan ada yang lebih rendah.[2] Kedua, kebahagiaan menurut Mill harus semua orang miliki dan bukan hanya oleh satu orang saja yang mungkin memiliki status khusus.

Lebih jauh lagi, Mill membagi kebahagiaan atau kesenangan menjadi dua berdasarkan ranking. Pertama, ranking bawah atau dasar, yaitu menyenangkan tetapi sifatnya sementara, bisa berubah menjadi kesusahan kalau salah porsi dan proporsi. Contohnya, makan, minum, istirahat, dan sebagainya. Kedua, ranking lebih tinggi, yaitu lebih abadi, lebih tahan lama, dan makin dalam makin menyenangkan. Contohnya, intelektual, estetika, spiritual, dan lain sebagainya.

Secara bahasa, teleologis berasal dari kata Yunani telos, artinya tujuan. Sebab menurut teori ini, kualitas etis suatu perbuatan kita peroleh dengan tercapainya tujuan perbuatan. Sementara utilitarianisme berasal dari kata latin utilis yang berarti “bermanfaat”.

Menurut teori ini, suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat. Tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang, melainkan masyarakat sebagai keseluruhan.[3] Misalnya, jujur; apabila jujur itu membuat orang tersakiti, maka itu merupakan tindakan yang tidak bermoral.

Baca juga:

Dari pengertian di atas, maka ciri umum aliran utilitarianisme adalah bersifat kritis, rasional, teleologis, dan universal.[4] Utilitarianisme juga bersifat teleologis seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Karena benar salahnya suatu perbuatan secara moral dikaitkan dengan tujuan (telos) yang mau dicapai atau dengan memperhitungkan apakah akibat baik tindakan tersebut lebih banyak daripada akibat buruknya.

Dalam kerangka pemikiran utilitarianisme, ada sebuah rumusan atau kriteria untuk menentukan baik-buruknya suatu perbuatan, yaitu the greatest happiness of the greatest number[5]. Sebab, utilitarianisme merupakan paham atau aliran dalam filsafat moral yang menekankan prinsip manfaat atau kegunaan (the principle of utility) sebagai prinsip moral yang paling dasar dan prinsip kebahagiaan mulia (greatest happiness).

Berdasarkan macamnya, utilitarianisme dibedakan menjadi dua macam, yaitu utilitarianisme tindakan (act utilitarianism) dan utilitarianisme aturan (rule utilitarianism).

Pertama, utilitarianisme tindakan menganut kaidah “Bertindaklah sedemikian rupa sehingga setiap tindakanmu itu menghasilkan akibat-akibat baik yang lebih besar di dunia daripada akibat buruknya”.[6] Kedua, utilitarianisme aturan (rule utilitarianism) menganut kaidah “Bertindaklah selalu sesuai dengan kaidah-kaidah yang penerapannya menghasilkan akibat baik yang lebih besar di dunia ini daripada akibat buruknya”.[7]

John Stuart Mill dilahirkan di London Inggris pada 1806, dan meninggal pada usia 67 tahun di Avignon Prancis pada 1873. Mill merupakan seorang filsuf, ekonom, serta pembaru sosial dan politik Inggris. Ayahnya bernama James Mill merupakan seorang filsuf dan ekonom yang cukup terkenal dan merupakan sahabat dari Jeremy Bentham.

Lahir dari anak seorang filsuf, Mill muda mendapat pendidikan yang cukup baik dari ayahnya. Pada usia tiga tahun, Mill muda sudah harus belajar bahasa Yunani. Maka tidak heran pada usia 13 tahun, dia sudah sangat akrab dengan sastra Yunani dan Latin kuno serta dengan sejarah dan matematika. Setahun kemudian, tepatnya pada usia 13 tahun, Mill sudah mempelajari tulisan para ekonom nasional seperti Adam Smith dan David Ricardo.[8]

Untuk memudahkan dalam memahami pemikiran utilitarianisme John Stuart Mill, berikut akan dibagi menjadi empat bagian penting:

Antara J.S. Mill dan Utilitarianisme Sebelumnya

Untuk membedakan antara utilitarianisme terdahulu dengan utilitarianisme Mill yang tetap mempertahankan prinsip utilitarianisme, maka Mill mencoba untuk memperbaiki dan menjelaskannya sedemikan rupa. Sehingga tidak lagi terkena oleh keberatan-keberatan terdahulu.[9]

Halaman selanjutnya >>>

Asep Saepullah
Latest posts by Asep Saepullah (see all)