Etnobotani; Tuhan Bersemayam di Pucuk-Pucuk Kanopi

Etnobotani; Tuhan Bersemayam di Pucuk-Pucuk Kanopi
©Medicine Man

Sepanjang film, pemirsa akan diampu gaya metode ilmiah ala perkuliahan kelas etnobotani yang menggabungkan studi botani dengan pengetahuan tribal dan tradisional.

When Aboriginal breasts and butts don’t affect film ratings, but Hollywood breasts and butts can do that! Ini kesan pertama yang bisa saya kanibal dengan mata telanjang di film “Medicine Man” yang rilis pada 1992 silam itu.

Selera buah dada dan pantat Hollywood tercermin pada rating film ini yang hanya 6.1 di IMDb. Paparan liar pantat dan buah dada ras American Mongoloid suku pedalaman hutan hujan tropis Amazon di film ini tentu lain ratingnya jika kisahnya di pedalaman ras Asian Mongoloid, seperti di hutan hujan tropis Borneo di film “The Sleeping Dictionary”.

Paparan tetek Jessica Alba tentunya sedikit unggul di 6.6 versi IMDb. Rasial memang serial penolakan wanita sebagai asisten peneliti dalam film ini. Namun itulah adanya yang berlaku di Hollywood.

Awalnya, sang sutradara, John McTiernan, memilih Borneo sebagai lokasi syuting. Sayangnya hutan hujan tropis Borneo yang pernah sutradara kunjungi lima tahun sebelum pembuatan film ini telah lenyap keasriannya! Akhirnya, dipilihlah lokasi syuting di Veracruz dan Catemaco, Mexico.

Kembali pada film “The Medicine Man”, pemirsa akan disuguhi alur lambat dari film berdurasi 1 jam 46 menit yang berkisah tentang penghancuran habitat, adat, dan keanekaragaman hayati ini. Menariknya, sepanjang film, pemirsa akan diampu gaya metode ilmiah ala perkuliahan kelas etnobotani yang menggabungkan studi botani dengan pengetahuan tribal dan tradisional budaya masyarakat setempat.

Sang sutradara, John McTiernan, yang pernah membesut “Die Hard” dan “Predator”, cukuplah lihai mengemas praktis kegunaan flora lokal untuk aspek kehidupan seperti: sebagai obat, makanan, minuman keras, dan pakaian dalam film ini. Seolah-olah ia telah menjelma menjadi Richard Evans Schultes, sang bapak etnobotani di alam nyata.

Film yang dibintangi Sean Connery dan Lorraine Bracco ini merupakan lanjutan tren kampanye gerakan lingkungan dan konservasi hutan Amazon yang semarak di akhir 90-an. Duet aktor Sean Connery sebagai Dr. Campbell dan aktris Lorraine Bracco sebagai Dr. Crane pas sekali, mampu memberi ciri khas karakter klasik film genre petualangan dan asmara saat itu, yaitu: lokasi syuting eksotis, asmara ala cinlok.

Awalnya, film “Medicine Man” sangat diremehkan, penuh khotbah konservasi ala hutan hujan tropis Amerika Selatan. Namun akhirnya film ini mampu mendorong dunia untuk kembali membangkitkan etnobiologi untuk pengobatan kanker.

Hal itu selaras dengan jalan cerita film, saat Dr. Campbell bersemangat tak putus asa menghabiskan enam tahun di hutan hujan tropis untuk mencari obat tradisional yang tumbuh di pucuk-pucuk kanopi hutan, anggrek! Seolah terang tegaskan bahwa tuhan penyembuh ada di alam, maka manfaatkanlah. Tekanan ini terasa cukup kuat saat dukun ala “shaman” suku Indian tak bisa berbuat banyak ketika terjadi wabah pandemik.

Keunggulan etnobiologi ini juga sudah sejak dulu ada dan terbukti. Seperti petikan cerita rakyat ini: Do not fear, for death will not visit you. For every disease that Beast sends you, you will find the cure in us.” (Iroquois 34).

Kata “us” merujuk pada segala sesuatu yang ada di alam, termasuk hutan. Bukan pada tuhan yang berkata ganti “him” ataupun yang jamak.

Baca juga:

Hal menarik lainnya, ada banyak referensi dan legalitas mikrobiologi penyintas hutan ala etnobiologi. Semisal tentang proses tradisional mengunyah kulit pohon yang mengandung kafein.

Kemudian ada lagi penggunaan air ludah sebagai booster fermentasi buah atau sayuran sebagai pemecahan pati oleh amilase saliva. Dan tentunya penggunaan ekstrak anggrek yang bersemut sebagai antikanker.

Ada juga aspek epidemiologi menarik yang disampaikan film ini. Seperti, penggunaan masker bagi pendatang yang mungkin secara droplet menularkan penyakit impor dari peradaban kota ke koloni tribal di pedalaman.

Pesan itu difilmkan ketika Dr. Bracco tiba di suku tersebut, di mana Dr. Campbell mencaci makinya dengan sadis karena dia enggan mengenakan masker bedah sebelum aman dikoreksi data klinisnya. Ketika Dr. Crane menjawab bahwa itu tidak perlu, maka Dr. Campbell menjawab bahwa itu bukan untuknya, itu untuk orang Indian. Virus flu sederhana bisa membunuh seluruh suku!

Kemudian hari, Dr. Crane paham bahwa Dr. Campbell, saat awal datang, telah membawa wabah flu yang droplet dan menghancurkan suku yang dia kunjungi di masa mudanya. Ini adalah contoh sebuah disrupsi klinis atas peradaban urban terhadap peradaban tribal.

Klimaks film ini klise. Tekadnya untuk menemukan bahan etnobiologi obat kanker tetiba dihancurkan oleh kabut asap dan tebangan pohon yang mendekat peradaban tribal. Tentunya ini merupakan disrupsi pembangunan dalam bentuk proyek adikuasa pembangunan jalan yang merambah hutan dengan cepat.

Untungnya, klise mampu ditutupi gaya dramatis akting-akting sebelumnya, yaitu serunya bergelantungan di pohon-pohon besar ala teknik pemanjatan tinggi dan teknik vertical rescue. Dengan peralatan semisal karabiner, tali karmantel, figur delapan ataupun harnes (kata-kata ini pernah penulis usulkan ke KBBI, masih proses editing, alot), kedua peneliti ini seru berpindah di ketinggian.

Film “Medicine Man” memberikan indikasi yang sangat jelas tentang konsekuensi perusakan habitat dan pembukaan lahan. Dampak negatifnya sangat mengganggu kedamaian, gaya hidup berkelanjutan dari suku asli dan sejumlah besar flora dan fauna jika saja tidak diimbangi dengan program rehabilitasinya.

Film ini memberikan pelajaran kepada kita tentang kerusakan yang ditimbulkan proses deforestasi pada skala yang berlebihan yang akhir-akhir ini mulai diimbangi dengan nilai sustainabilitasnya.

Adapun “science misconduct” atau ketimpangan ilmiah di film ini cukup minim. Konsep peralatan dan teknis kerja kromatografi gas yang dikirim ke pedalaman sesuai prosedurnya. Dalam film, terlihat jelas bagaimana mereka melakukan analisis kimia terhadap senyawa yang dapat menguap tanpa mengalami dekomposisi dengan alat tersebut dengan benar.

Pemirsa akan diyakinkan dengan “hard science” dan “hard evidence” atas khasiat moscatilin, zat antiplatelet alami yang diekstrak dari famili orchidaceae (anggrek) sebagai antikanker. Keyakinan efek sitotoksik superkuat terhadap garis sel kanker jaringan seolah menjadi tuhan maha penyembuh yang mengalahkan telak semburan jampi-jampi dukun Indian.

Selamat menonton.

    Yudho Sasongko
    Latest posts by Yudho Sasongko (see all)