Evolusi Tuhan dan Agama

Evolusi Tuhan dan Agama
©Geralt/Pixabay

Nalar Warga – Saya meyakini bahwa teori evolusi adalah teori segala hal. Ia bisa menjelaskan apa saja, termasuk tuhan. Bukan cuma manusia yang berevolusi, tuhan juga berevolusi. Jika jejak evolusi manusia ada pada bukti-bukti fosil dan DNA, jejak evolusi tuhan ada pada pikiran manusia.

Salah satu buku yang paling bagus menjelaskan evolusi tuhan (dan agama) adalah bukunya Daniel Dennett, Breaking the Spell. Dalam buku ini, Dennett menjelaskan asal muasal munculnya agama, sebagai konsekuensi dari pertumbuhan otak manusia.

Manusia menciptakan agama sebagai bagian dari upayanya untuk bertahan hidup. Sama seperti sejarah evolusi apa pun, agama pada mulanya bersifat sederhana, kemudian berkembang makin kompleks dan kompleks. Agama-agama besar yang kita kenal sekarang adalah bentuk paling advanced hasil evolusi panjang.

Tuhan juga mengalami evolusi. 70 ribu tahun silam, “bentuk” tuhan sangat sederhana, sesuai dengan gambaran manusia pada masa itu. Tuhan umumnya dipersepsi sebagai kekuatan supranatural. Manusia primitif menyebutnya dengan berbagai nama, termasuk fungsi-fungsinya. Ada tuhan hujan, tuhan kemarau, tuhan malam, tuhan siang, tuhan jahat, tuhan baik, dan seterusnya.

Dalam bukunya, The Evolution of God, Robert Wright menyimpulkan, tuhan yang kita kenal sekarang, yang banyak diimani kaum monoteis, adalah bentuk paling advanced dari evolusi tuhan yang panjang. Kaum monoteis merangkum tuhan-tuhan yang banyak itu menjadi satu dan menggabungnya menjadi satu entitas, yang biasanya kita bubuhkan kata “maha” di depan sifatnya.

Evolusi tuhan belum berhenti, sama seperti evolusi agama, dan juga evolusi manusia. Yang jelas, tuhan dan agama yang kita kenal sekarang berbeda dari tuhan dan agama 70 ribu tahun silam, ketika kedua konsep ini pertama kali diciptakan manusia.

*Luthfi Assyaukanie

Baca juga:
    Warganet