Fenomena Hustle Culture Dipandang dengan Perspektif Weber

Fenomena Hustle Culture Dipandang dengan Perspektif Weber
©Glints

Hustle Culture merupakan budaya yang menjadikan produktiviras menjadi sebuah tolok ukur kesuksesan.

Pandemi Covid-19 membawa banyak perubahan di kehidupan saat ini. Setelah beberapa saat mengalami kebingungan dan fase adaptasi dengan keadaan yang baru, maka tercipta kesadaran bahwa aspek ekonomi menjadi salah satu aspek yang tidak bisa berhenti begitu saja sehingga manusia dituntut untuk bisa terus mengembangkan potensi dirinya.

Bekerja sebagai salah satu langkah untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi saat ini banyak dijadikan tujuan hidup. Manusia-manusia kini berlomba-lomba mendedikasikan dirinya menjadi seseorang yang produktif, menjadikan setiap embus napas dan gerak-gerik tubuhnya membuahkan hasil (dalam konteks ini materi). Dan menganggap kerdil mereka yang bersantai dan bermalas-malasan menjalani hari, sebab malas adalah pangkal miskin.

Hustle Culture merupakan budaya di mana menjadikan produktiviras menjadi sebuah tolok ukur kesuksesan. Fenomena ini tak terlepas dari gaya hidup workaholic yang mana seseorang seolah-olah selalu mementingkan pekerjaan dibanding aspek kehidupan lainnya. Aspek kemanusiaan, kesehatan, keagamaan seringnkali menjadi bagian yang tidak tersentuh.

Fenomena ini menuntut manusia untuk selalu bekerja kapan pun, di mana pun, dan bagaimana pun. Yang mana seakan memaksa manusia untuk menilai suatu kesuksesan dari segi finansial, tentunya dengan anggapan “makin bekerja keras makin cepat sukses”. Mereka sangat merasa bangga dan terus berasumsi bahwa hustle culture itu bagus dan produktif.

Nyatanya tidak sepenuhnya bagus dan baik. Sebab gaya hidup ini memaksa kita untuk bisa multitasking yang berpengaruh terhadap kualitas pekerjaan yang sedang dilakukan. Dari mulai melakukan tugas dengan terburu-buru, sampai tidak bisa meluangkan waktu untuk kegiatan lainnya.

Sisi negatif yang sangat tampak dari fenomena hustle culture ini adalah mereka menjadi tidak punya waktu untuk melakukan hal kecil yang lain dengan fokus, seperti makan sambil membalas email, beribadah menjadi tidak khusyuk, liburan pun menjadi tidak bisa dinikmati sebab masih dihantui untuk melakukan video call dengan atasan, dan lain-lainnya yang membuat tidak terciptanya work life balance.

Mindset hustle culture ini sangat diglamorisasi, yang mana mereka sangat bangga jika bisa over work, merasa kurang tidur demi bekerja, selalu membutuhkan kopi agar tetap terjaga. Di samping itu juga over work berpengaruh buruk bagi kesehatan baik itu fisik ataupun mental. Bermula dari mengabaikan waktu istirahat atau tidur yang cukup, makan dan kebutuhan lainnya yang terbengkelai sehingga muncul fenomena burn out yang disebabkan dari stress kronis yang tidak terkelola dengan baik.

Dilansir dari Maize.io menurut Eksekutif Kesehatan dan Keselamatan di Inggris, sebanyak 595.000 pekerja menderita kecemasan, stress, dan depresi akibat pekerjaan. Dan di Jepang pun ada sebanyak 2000 kasus bunuh diri terkait work-related stress pada tahun 2016. Bahkan Jepang memiliki istilah khusus untuk fenomena ini yaitu “Karoshi”, yang artinya kematian akibat over work.

Trend hustle culture merupakan buah dari era neoliberalisme di tahun 1980an, ketika banyak negara melakukan liberalisasi dimana pelayanan didasarkan keuntungan pemilik modal, bukan berdasar pada keuntungan masyarakat. Hal ini membuat adanya ketidakrataan dalam masyarakat.

Di beberapa negara maju, rata-rata seorang pekerja memiliki hari libur, sedangkan di negara berkembang tidak. Seiring terus berkembangnya zaman dan dengan semakin banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi, maka mau tidak mau dan bisa atau tidak bisa trend ini pun tak terhindarkan.

Baca juga:

Sejatinya, setiap manusia memiliki kekuasaan penuh atas dirinya untuk melakukan dan memutuskan hal sekecil apapun, termasuk untuk memutuskan terhanyut dalam fenomena ini. Mungkin saja ada hal yang sangat mendasar dan mengakar kuat yang membuat mereka dengan mantap dan penuh perasaan bangga menjalani kehidupan dengan belenggu hustle culture. Seperti yang terjadi pada orang Jepang yang mana mereka menganggap bahwa hidup di dunia hakikatnya adalah untuk bekerja.

Rasa bangga terhadap pekerjaan akan tumbuh ketika telah melakukan pekerjaan dengan baik, sebaliknya rasa malu dan perasaan payah akan muncul saat tidak dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Loyalitas yang tercipta di sana merupakan sikap penghargaan tertinggi terhadap sebuah pekerjaan. Bahkan tak jarang dari mereka yang menganggap perusahaan adalah rumah kedua.

Sementara yang terjadi di negera berkembang seperti Indonesia, setelah semakin berkembangnya era globalisasi yang membawa perubahan mendasar pada elemen-elemen kehidupannya, tak terkecuali dunia bisnis perbankan. Banyaknya jumlah target, tuntutan kerja, beban kerja, lingkungan, dan kondisi internal diri mempengaruhi adanya kecenderungan untuk bekerja secara berlebihan dan mengalami ketergantungan terhadap pekerjaannya.

Persaingan dunia perbankan yang sangat ketat seakan membuat para pekerjanya harus bekerja dengan keras bahkam berlebihan. Ada sebuah pendapat yang dikemukakan oleh Combs, yang menyebutkan bahwa “Anda harus gila kerja untuk bertahan di dunia kerja”, sehingga kecanduan terhadap pekerjaan bisa dikatakan sebagai the best dressed problem.

Belakangan ini individu yang berlebihan dalam bekerja tidak dianggap sebagai seseorang yang mengalami masalah, justru mereka dianggap sebagai pekerja keras yang mampu bekerja dengan sangat baik. Masyarakat cenderung menjadikan mereka sebagai contoh, apalagi ketika bisa dianggap sukses di usia yang masih tergolong muda.

Sebenarnya sah-sah saja bagi individu untuk mengatur dan memilih segala yang akan dilakukan terhadap dirinya, asalkan ia bisa bertanggung jawab penuh atas pilihannya sendiri. Fenomena hustle culture ini mungkin dianggap buruk dan merugikan bagi sebagian besar orang, tentunya dengan segala dampak negatif yang mengikutinya.

Namun kita tidak akan pernah bisa tahu jika memang benar-benar ada seseorang atau sekelompok orang yang justru sangat menikmatinya. Asalkan individu-individu tersebut bisa mengerti dan mengatur segala piroritasnya, maka setiap gaya hidup merupakan hal-hal yang sah saja untuk dipilih.

Yang meresahkan adalah ketika gaya hidup tersebut terlalu digaungkan kemudian terkesan terlalu diglorifikasikan sehingga banyak yang menjadi hanya ikut-ikutan alih-alih tahu apa saja risiko yang akan diterima.

Baca juga:
    Latest posts by Muhammad Hanan (see all)