Fiksi Abu Janda

Fiksi Abu Janda
©Detik

Kenapa Abu Janda tidak menggunakan lema ‘berubah’ ketimbang ‘evolusi’ kalau yang dia maksud, mungkin, perubahan intelektual ataupun moral?

Natalie Portman:

Apa pendapat Anda tentang kecenderungan yang saya temukan: sebagian pembaca tak jarang mengaku bahwa otobiografi yang sedang dia baca bukan fiksi. Mungkin karena mereka merasa bahwa si penulis sedang berbicara tentang dirinya sendiri.

Di bagian lain mereka membaca karya-karya nonfiksi namun mendapati bahwa beberapa informasi di dalamnya tidak sebangun dengan realitas dan lantas memaklumi bahwa tulisan apa pun sebetulnya adalah fiksi.

Yuval Noah Harari:

Anda pernah dengar jeritan di Inggris beberapa tahun lalu ketika sebuah teater di sana menggarap naskah panggung Harry Potter?

Dalam konperensi pers, produser berkata bahwa mereka sedang menimbang sebuah kemungkinan bahwa tokoh Hermione akan dimainkan seorang gadis berkulit hitam. Apa yang kemudian terjadi?

Seluruh Inggris bereaksi, marah, dan menjerit. Hermione harus berkulit putih, teriak mereka. Padahal dari 7 buku Harry Potter, cuma terdapat satu bagian secara khusus yang mengindikasikan bahwa Hermione berkulit putih.

Buat saya, itu gila. Para pembaca tidak berkeberatan mendapati para tokoh di dalam buku Harry Potter terbang dengan menggunakan sapu, tapi berteriak kalap dan merasa tersiksa untuk menemukan Hermione bakal diperankan gadis berkulit hitam.

***

Kalau Anda belajar creative writing, ada satu sesi yang membahas “suspension of disbelief”. Maksudnya, seorang penulis harus berhasil menggiring pembaca untuk tercerabut dari realitas harian agar masuk sepenuhnya ke dalam realitas yang dibangun melalui kisah atau tuturannya.

Orang biasanya sikat gigi sehabis makan. Tapi saya mencoba meyakinkan pembaca bahwa kebiasaan Dira menyikat gigi sebelum makan—agar segenap rongga mulut dibersihkan dari aroma apa pun sehingga siap bagi makanan lezat yang sebentar lagi masuk—adalah kenikmatan unik tak terbanding.

Tentu saya harus menggambarkan bagaimana rasa makanan dicecap Dira mengalir mulus tanpa digangggu partikel atau remah atau aroma sehabis minum juice setengah jam lalu. Sepintas itu tak logis. Tapi kekuatan tuturan saya membuat pembaca tenggelam dalam logika baru.

Segala sesuatu sesungguhnya fiksi. Anda lewat di sebuah jalan raya dan mendapati kecelakaan lalu lintas di sana. Sesampai di kantor Anda ceritakan peristiwa tersebut kepada teman-teman.

Non-fiksi? No. Itu fiksi. Jalinan cerita yang Anda tutur pasti berbeda dengan kisah yang diceritakan Nita, yang juga lewat di jalan raya tersebut, kepada teman-temannya.

Anda menuturkannya menurut amatan Anda. Nita menceritakannya menurut amatan dia, yang lewat berlawanan dengan arah laju kendaraan Anda. Nita penyuka warna merah sehingga tanpa sadar fokus tuturannya bertumpu pada mobil berwarna merah yang menabrak.

Apa yang Anda tutur, diksi yang Anda gunakan, tempo tuturan yang Anda pilih, aksentuasi yang Anda mainkan, mengubah impresi atas sebuah peristiwa. Belum lagi kalau kita timbang masa lalu, memori, pendengar Anda masing-masing. Cerita yang sama mendarat dan mendapatkan resepsi yang berbeda satu sama lain dari para pendengar Anda.

Lihatlah dampak penggunaan kata ‘evolusi’ dalam ciapan Abu Janda tentang Natalius Pigai: “sudah selesai evolusi belum kau?”

Evolusi menurut KBBI berarti ‘perubahan secara berangsur-angsur’. Di ranah gradualisme filetik, itu perubahan pada bentuk raga oleh pengaruh alam dan kebiasaan. Dalam tempo singkat, perubahan tersebut terlihat pada tangan Anda: yang kanan sedikit lebih panjang daripada yang kiri karena Anda lebih sering menggunakan tangan kanan. Omong kosong kalau Anda tidak percaya evolusi.

Perubahan berangsur juga bisa disebut evolusi meski hanya terjadi pada pikiran dan perasaan. Anda semula takut ketika berjalan melewati kuburan. Namun, setelah lebih dari sepuluh kali berjalan di sana ditemani ibu, Anda tidak takut lagi dan berani jalan sendirian.

Sekali lagi, omong kosong jika Abu Janda tidak percaya kepada teori evolusi. Semua begitu jelas, sederhana, dan dapat dibuktikan secara jiwani maupun ragawi.

Masalahnya, kenapa KNPI tersinggung ketika kata ‘evolusi’ digunakan Abu Janda kepada Natalius Pigai? Apakah KNPI akan juga tersinggung kalau Abu Janda menggunakannya untuk Ari Wibowo misalnya? Kayaknya nggak. Kenapa?

Karena Pigai berkulit hitam, bertubuh besar sehingga mengesankan beruang atau binatang buas? Lho, itu ‘kan persepsi KNPI, belum tentu persepsi Abu Janda, dan sudah pasti bukan persepsi atau resepsi saya terhadap Pigai. Yang membuat evolusi jadi berkesan rasistikal terhadap Pigai adalah otak KNPI, belum tentu otak Abu Janda, sudah pasti bukan otak saya dan Anda.

Kalau begitu, siapa yang seharusnya diperiksa polisi dan dibawa ke meja pengadilan?

Kesalahan Abu Janda adalah bertanya, ‘sudah selesai evolusi belum kau?’

Siapa di jagat ini yang sudah selesai berevolusi? Tak satu pun. Semua masih terus berevolusi. Kalau Ari Wibowo pindah ke Zimbabwe dan diam di dalam rumah beratapkan rumbia, bermandi sinar matahari setiap pagi, harus berjalan kaki sejauh 7 kilometer untuk mendapatkan air, perlahan dan pasti kulit Ari menghitam. Jika kelak punya anak di sana, dan lalu cucu, dan lalu cicit, mereka secara berangsur berkulit yang tidak sama dengan Ari Wibowo hari ini. Ya, Ari berevolusi di dalam anak, cucu, dan cicitnya.

Dua juta tahun dari sekarang keturunan saya mungkin bersayap dan bisa terbang. Waktu 150.000 tahun semenjak kemunculan manusia masih terlalu singkat untuk menemukan bentuk evolusi yang signifikan. Tapi, satu hal sudah terlihat adalah hilangnya sifat barbarik, berubah secara cepat menjadi spesies pencinta, pengasih, penyayang, peduli, dan berbelarasa. Itu berbeda jauh dari sapiens generasi pertama.

Tapi, itulah masalah kita terbesar di abad komunikasi: serampangan menggunakan diksi yang tidak kita pahami secara menyeluruh. Kenapa Abu Janda tidak menggunakan lema ‘berubah’ ketimbang ‘evolusi’ kalau yang dia maksud, mungkin, perubahan intelektual ataupun moral?

Kata evolusi akhirnya mendarat di benak KNPI dalam pemahaman berbeda. Kenapa? Karena di otaknya KNPI, Natalius Pigai, mungkin, lebih mirip ke spesies lain daripada sapiens. Dan dia lalu meluaskannya ke segenap rakyat Papua. Dengan kata lain, KNPIlah yang menyimpulkan rakyat Papua sebagai kaum yang terlambat berevolusi.

Sementara saya menerima ‘evolusi’ dalam tweet Abu Janda sebagai kekhawatiran bahwa Natalius Pigai sudah selesai berevolusi sehingga kehilangan kemungkinan untuk lebih cerdas lagi—itu kalau kita mau setia pada konteks dalam tweet Abu Janda.

Abu Janda memang kenes, petakilan. Dia gunakan ‘evolusi’ sementara di video klarifikasi dia mengaku sebagai orang yang tidak percaya kepada teori evolusi, taklid pada iman percaya bahwa semua kita keturunan Adam.

Ganjen, kan? Ya, tapi gak usah dipolisikan.

Kembali ke awal, bagian mana yang sebetulnya fiktif: Harry Potter terbang dengan menggunakan sapu atau Hermione berkulit hitam?

*Sahat Siagian

Warganet