Filsafat, Mencerdaskan Pola Pikir Warga Negara dan Memajukan Peradaban Bangsa

Filsafat, Mencerdaskan Pola Pikir Warga Negara dan Memajukan Peradaban bangsa
©Google Plus

Mengapa ilmu filsafat sangat berguna bagi warga negara?

Beberapa bulan ini, berbagai kegiatan sangat menyibukkan saya. Harus bolak-balik Malang-Surabaya untuk sebuah pekerjaan. Tidak hanya itu, saya harus pandai-pandai mengatur waktu dan strategi untuk menyelesaikan studi saya di kampus.

Seketika di dalam kereta api, saat perjalanan saya dari Surabaya ke Malang, tiba-tiba melihat dari jendela kereta begitu indah pemandangan padi yang hijau nan indah. Sekita itu pula saya teringat perjungan para pendahulu bangsa, seperti Bung Karno, Bung Hatta, Hos Cokroaminoto. Mereka pernah menggunakan kereta api untuk perjuangan, berpetualangan, pindah dari satu kota ke kota lain. Itu demi sebuah organisasi dan mendengarkan aspirasi keluhan hati rakyat.

Sehingga pada akhirnya, pada tahun 1945, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Serentak pada saat itu bumi Indonesia merasa bangga bahwa sebuah negeri yang banyak orang menyebut Gemah Ripah Loh Jinawi Toto Tentrem Kerto Raharjo (kekayaan alam yang berlimpah keadaan yang tenteram). Merdeka dari para penjajah Belanda.

Dalam perjalanan bolak-balik Malang-Surabaya, penulis selalu menggunakan kereta api untuk bepergian. Dan padi hijau di kebun petani selalu membuat penulis ingin melihat dari jendela kereta api. Padi hijau itu selalu menjelma menjadi sebuah pisau untuk selalu mengasah pikiran. Padi itu juga menjelma menjadi hikmah dan ilmu bagi penulis. Karena ada keringat para petani yang selalu bercucuran demi menghidupi kelurganya ketika panen tiba.

Jikalau di Barat yang terpenuhi dunia materialisme para intelektual, politisi, penulis, novelis, filsuf sosial selalu menjadikan filsafat sebagai pisau tajam mereka untuk mengasah pikiran. Berbeda dengan penulis yang hanya cukup ladang padi hijau pemilik petani untuk menjadi inspirasi dan pisau tajam untuk mengasah pikiran.

Mengapa ilmu filsafat sangat berguna bagi mereka? Alasan sederhananya, karena jika kita artikan bahwa filsafat berasal dari bahasa Yunani yang terbagi dalam dua kata philo yang artinya cinta serta sophos yang artinya hikmah atau ilmu. Yang apabila keduanya kita gabungkan, maka arti filsafat adalah cinta akan ilmu atau hikmah.

Sedangkan menurut Bertrand Russel: Filsafat adalah sesuatu yang berada di tengah-tengah antara teologi dan sains. Sebagaimana teologi, filsafat berisikan pemikiran mengenai masalah-masalah yang pengetahuan definitif tentangnya. Sampai sebegitu jauh, tidak bisa kita pastikan. Namun, seperti sains, filsafat lebih menarik perhatian akal manusia daripada otoritas tradisi maupun otoritas wahyu.

Mencerdaskan Pola Pikir Warga Negara

Pada bagian itu, penulis teringat bahwa mencerdaskan pola pikir warga negara sangat mampu membuat suatu bangsa maju dan mampu bersaing dengan negara-negara lainnya. Jikala pola pikir warga negara cerdas, maka penjajahan teknologi yang sangat maju saat ini tidak gampang membodohi rakyat.

Cerdasnya pola pikir warga negara bisa menciptakan kecerdasan kehidupan bangsa. Karena termaktub batang tubuh UUD 1945 pasal 31 ayat (1): “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.”

Apakah warga negara Indonesia saat ini terdidik dan pemerintah menjalankan amanat konstitusi? Tentu ini menjadi pertanyaan besar yang harus kita jawab.

Sedangkan menurut penulis, ya warga negara mendapatkan pendidikan, akan tetapi pendidikan yang tidak mendidik. Mengapa demikian? Jika melihat berbagai macam media sosial, ada narasi kalimat binatang yang beredar, baik di tengah-tengah masyarat maupun dunia ilusi media. Narasi kalimat itu berasal dari kata “Cebong, Kampret, Sontoloyo, dan Genderuwo”.

Apakah kata-kata itu mampu mencerdaskan rakyat? Menurut penulis, tidak sama sekali. Solusi penulis, jika kehidupan warga negara ingin maju, yang harus kita lakukan adalah membangun pendidikan-pendidikan di pedalaman Indonesia dari Sabang-Merauke. Karena masih banyak warga negara yang belum dapat pendidikan dan tersentuh oleh teknologi.

Tidak hanya itu, pendidikan harus ada di warung-warung kopi dengan diisi oleh diskusi intelektual. Dan ini adalah tugas kita bersama sebagai warga negara Indonesia.

Majunya Peradaban Bangsa

Pada bagian akhir ini, penulis berpendapat bahwa majunya peradaban bangsa itu bisa kita lihat dari kerja keras negara itu untuk menciptakan peradaban yang mampu kita ingat sepanjang masa. Tidak hanya itu, harus pandai-pandai memanfaatkan teknologi untuk membangun suatu peradaban bangsa. Karena mustahil pada sekarang luput dari genggaman teknologi yang maju sedemikian cepat.

Jika  membaca dan melihat sejarah bangsa masa lalu, terlihat bahwa 3000 tahun lalu kincir angin Persia kuno menjadi kebanggaan peradaban bangsa. Peradaban Romawi kuno telah memanfaatkan energi panas bumi untuk memenuhi kebutuhan energinya. Begitu pun dengan energi surya penemuan peradaban Yunani kuno.

Bangsa Persia, Yunani, Romawi menjadi saksi bisu majunya peradaban bangsa pada masa lalu. Tidak hanya itu, peradaban bangsa Yunani dan Romawi kita jadikan tolok ukur pikiran orang-orang Eropa sehingga negara-negara mereka maju sekali pada saat ini. Dan hal yang menarik dari majunya peradaban bangsa Yunani dan Romawi ketika itu karena para akademisi sangat menjunjung tinggi filsafat sebagai pisau tajam pikirannya.

Pada akhirnya penulis menarik benang merah untuk menjadi kesimpulan. Jika Indonesia ingin maju, yang harus warga negara lakukan adalah menjalankan ideologi Pancasila dengan sebenar-benarnya. Tidak hanya itu, harus menjalankan amanat konstitusi yang termaktub di dalam batang tubuh UUD 1945. Dan terakhir, menjadikan filsafat sebagai pisau tajam untuk mengasah pola pikir demi terciptanya kecerdasan kehidupan bangsa.

Baca juga:
Bilken Halendra