Friksi Jelang Muktamar NU di Lampung yang Ahistoris dan Menyimpang

Friksi Jelang Muktamar NU di Lampung yang Ahistoris dan Menyimpang
©Antara

Nalar Politik – Dosen Pascasarjana Insuri Ponorogo, Moh Sholeh-Basyari, mengharapkan semua pihak terkait agar mencermati secara serius dinamika dan friksi yang sangat tajam jelang Muktamar NU ke-34 di Lampung 2021.

Bukan tanpa alasan, ia menyinyalir adanya friksi yang terkonsentrasi pada para pendukung Said Aqil Siraj dan Yahya Cholil Tsaquf. Menurutnya, friksi ini agak unik jika dibandingkan dengan friksi serupa jelang Muktamar Cipasung (1994), ataupun friksi Cipete-Situbondo jelang Muktamar ke-27 (1984).

Ia pun menjelaskan bagaimana friksi jelang Muktamar Cipasung muncul akibat intervensi luar biasa rezim Orba (state) dengan misi menolak Gus Dur, simbol kekuatan LSM (society), menjabat kembali sebagai Ketua Umum PBNU.

“Kala itu, semua kekuatan mainstream NU berada dalam satu barisan melawan musuh bersama, yakni Abu Hasan, boneka Orba,” kata Moh Sholeh-Basyari dalam keterangan tertulisnya di Antara, Senin (20/12).

Friksi antara Cipete versus Situbondo, lanjut Direktur Eksekutif Center for Strategic on Islamic and International Studies (CSIIS) itu, berawal dan bermuara pada kelompok kiai yang “keukeuh” membawa NU berada di PPP melawan kiai-kiai yang menghendaki NU kembali ke khittah.

Baik friksi jelang Muktamar Cipasung maupun Muktamar Situbondo, tegasnya, sama-sama menempatkan para kiai sebagai pelaku utama.

Adapun friksi jelang Muktamar NU ke-34 di Lampung dilihat didominasi oleh para politisi lintas partai. Hal ini, menurutnya, membuat banyak pihak masygul.

“Keterlibatan, bahkan kebebasan para politisi mengacak-ngacak perhelatan jelang Muktamar Lampung adalah hal yang ahistoris dan menyimpang dari garis perjuangan dibentuknya NU.”

Disebut ahistoris karena dalam sejarahnya NU adalah gerakan kebangkitan yang diprakarsai para kiai, bukan politisi. Sementara itu, disebut menyimpang karena NU bukan tempat para politisi berkiprah dengan praktik dan kiprah wajarnya politisi berpolitik.

Melalui tulisan Pasang Surut Relasi Nahdlatul Ulama-Negara-Partai Politik, Moh Sholeh-Basyari turut memberi paparan bagaimana sejarah kelahiran NU sebagai organisasi tertua di republik ini. Bersama Syarikat (SI) Islam dan Muhammadiyah, ketiganya merupakan ormas-ormas yang lahir dari rahim ibu pertiwi dengan latar belakang pergolakan dan pergerakan, tanpa bercampur atau terkontaminasi ideologi Islam Timur Tengah.

Baca juga:

“Meski sama-sama lahir dari rahim Islam, NU memiliki sedikit perbedaan sekaligus keunikan dibanding SI dan Muhammadiyah.”

Ia kemudian menjelaskan latar belakang kelahiran SI yang dipengaruhi oleh dan sebagai reaksi para pedagang muslim atas monopoli pedagang Cina; Muhammadiyah lahir sebagai dorongan perlunya purifikasi dan semangat membangun perbaikan sosial ekonomi umat; dan NU lahir sebagai bentuk dan wadah gerakan pemikiran Islam khas pesantren, khas Indonesia.

“Hanya NU satu-satunya ormas yang lahir demi dan atas nama kebangkitan pemikiran. Oleh karena itu, siklus perubahan nama, sebelum menggunakan nomenklatur permanen Nahdlatul Ulama, penamaan NU sangat mencerminkan arah perjuangan yang tidak lepas dari dualisme gerakan kebangkitan-pemikiran.” [an]