Gadis yang Menyusuri Tangga Filsafat

Gadis yang Menyusuri Tangga Filsafat
©Erzbistum

Gadis yang menyusuri tangga filsafat
Aku baru mengenalnya ketika kaki kanannya
menyentuh tangga pertama
awal yang lumrah, helo… hai…
saling menegur lewat mata
bercakap dengan senyum jumpa pertama
nada minor yang mengayunkan hatiku

Ziarah pertama begitu asing
Yunani, Socrates, Plato, Aristoteles
mengusik ubun-ubun kepala
tamu akal budi adalah para filsuf
menggoda dan bikin lamun
tapi gadis di tangga pertama
pijar matanya lebih cerlang dari arche, idea

Aku mulai mencari maknanya, tak pernah aku raih
tapi puisi beri aku jalan pengertian tentang quidditas keindahan
aku turun dari tangga kedua, meraih tangannya
ia berdiri dengan dua kaki di tangga pertama
“Pelik,” katanya, “tapi bikin kagum.”
“Iya,” balasku, “filsafat adalah puisi para filsuf.”

Ia gembira dengan puisi yang aku kirimkan
“Asyik,” katanya saat kuliah Estetika. “Tapi kadang puisimu menyesatkan!”
Aku tahu jalan keindahan tak satu arah
Berliku melampaui arah angin
Begitu juga jalan kebenaran
Berkelok seperti dialektika
Iya, menjadi filsuf berarti belajar jadi eklektikus

Berlangkah lagi, meski tertatih
Ia tiba di tangga kedua
Merasa mual dengan kelimpahan pertanyaan teoretis
Nimbrung di perpustakaan, tersenyum sebentar
Buku-buku mreawat pikiran menghangatkan penalaran
Tapi sayang ia kadang mengamuk di dalam jaringan
Irama perasaan yang manis, melodi hati perempuan
Kadang jadi momok bagi pikiran laki-laki
Iya, perempuan di dalam kepala lebih berbahaya
Daripada di depan mata

Dari tangga ketiga aku titipkan isyarat cermin
Sinar terpantul pada wajahnya yang romantik
Ia berkeluh, “Aduh, filsafat ini terang sekali. Mengibarkan kelompak mataku yang primodial.”
Ia menafsir dengan tepat rasa curiga
Mulai asyik dengan pengertian aneh
Cemburu adalah cinta yang membara
Rindu adalah gairah romantika

Gadis yang menyusuri tangga filsafat
Kupanggil namanya, ina
Perempuan yang menentramkan debar dadaku
Pernah ia berbisik, “Filsafat adalah pengawal pikiran!”

Aku sadar, jatuh cinta di tangga filsafat
itu dialektika yang romantis
menakar harga perasaan dengan penalaran
supaya cinta menjelma pengertian baik

Ina
apabila langkah telah jauh
ingatlah di Ledalero, pelabuhan fajar
kita pernah erat berdua
melabuhkan sauh asmara dan bertahan begitu dalam

Malam (1)

Aku terhanyut
Dalam……
Badai mimpi

Malam (2)

Burung hantu bermain kicau
Merdu……
Dalam rimba rambutku

Malam (3)

Tuhan, bermalam
Di malamku
Dalam dan merdu
Dekapan-Nya

Luka

HP berdering kering
dan aku semakin miskin
sibuk mengobati luka
kabar buruk tentang kau
dan lupa bahwa aku punya luka

Selepas Lambaian Tangan

aku membungkuk menatap mawar
yang luruh dari langit kenangan
dan mengapa kau bingkiskan bagiku
semekar sunyi yang tak pernah selesai mewangi?

    Edy Soge
    Latest posts by Edy Soge (see all)