Gerakan Mahasiswa Indonesia Sangat Elitis, Cuma Tahu Bermonolog

Gerakan Mahasiswa Indonesia Sangat Elitis, Cuma Tahu Bermonolog
©Twitter

Nalar Warga – Salah satu ciri khas gerakan mahasiswa Indonesia dibanding dengan yang di negara lain adalah: institusional. Pendemo memakai jaket almamaternya atau membawa panji-panji bendera masing-masing. Yang di tempat lain lebih spontanitas mahasiswa tanpa banyak atribut.

Universitas-universitas di Indonesia juga khas. Setiap mahasiswa ada seragam berupa jaket seperti orang kerja lapangan.

Di lain tempat, umumnya mahasiswa pakainya t-shirts atau pakaian biasa doang. Ada sweater yang dijual di toko kampus dengan logo, tapi jarang sekali yang pakai jaket kayak mau kerja.

Gerakan Mahasiswa Indonesia perlu mencontoh mereka.

Ada yang perhatikan, tidak? Sebenarnya gerakan mahasiswa Indonesia sangat elitis. Makanya mereka tampil elite dengan jaket khas dan panji-panji.

Rekayasa Militer

Sejak kapan mahasiswa Indonesia bertingkah seperti ini? Kalau kita pelajari dari sejarah, gerakan ini tidak muncul spontan, tapi direkayasa militer.

Gerakan mahasiswa Indonesia mendapat tempat yang sakral pada awal Orde Baru. Itu memang dirancang oleh militer kelompok Soeharto. Peran mahasiswa dinaikkan sehingga terasa “wah”.

Kenapa Soeharto menggunakan mahasiswa? Karena, kalau tidak, akan terlihat jelas itu kudeta militer.

Jadi mahasiswa didukung dan ditepokin supaya terlihat bahwa pengambil-alihan kekuasaan itu bukan kudeta, tapi tantangan yang datang dari kaum intelektual muda. Lalu lahirlah tokoh-tokoh legendaris seperti Soe Hok Gie dan lain sebagainya.

Sesudah itulah terlihat gerakan mahasiswa Indonesia dibakukan. Serasa ada sense of mission, ada glorification. Pakaian jaket UI tahun 1966 diteruskan sampai sekarang, dan dicontoh oleh semua universitas. Memakainya mungkin mendatangkan rasa bangga.

Tidak Lagi Wah

Kayaknya peran mahasiswa sebagai topping yang disorongkan setiap kali ada elite mau merombak kekuasaan akan diteruskan di masa mendatang selama kebebasan berekspresi belum benar-benar dihargai. Walaupun peran mahasiswa makin minim, karena masyarakat umum makin berpendidikan.

Mungkin dulu, waktu masyarakat umumnya cuma tamat SD, atau SMP, melihat mahasiswa itu sebagai dewa intelektual. Tapi di saat kini, apalagi waktu mendatang, umumnya masyarakat lebih tinggi pendidikannya daripada mahasiswa. Mereka melihat mahasiswa seperti anak kecil. Makanya efek mahasiswa menurun.

Saat ini konyol sekali. Kritikan terhadap mahasiswa adalah mereka tidak baca RUU yang diprotes. Tidak mempersiapkan diri. Akhirnya mahasiswa mundur sampai ada yang melakukan aksi perusakan.

Kayaknya dulu, kalau baca-baca tahun 1966, tidak ada mahasiswa yang merusak. Mereka cuma pawai doang.

Lebih baik mahasiswa mengikuti zaman sih. Era BEM, atau Senat Mahasiswa, sudah lewat. Mahasiswa itu bukan lagi pemilik kemampuan intelek seperti dulu. Seharusnya mahasiswa, jika mau protes, benar-benar dari passion-nya, dan tampil sebagai individu, bukan bagian dari BEM, misalnya.

Lihat gerakan mahasiswa di Amerika, kira-kira begitulah entar cara mahasiswa protes. Protes dalam waktu panjang sekali, tetapi tidak merusak. Jadi yang diuji adalah endurance, bisa berbulan-bulan, bertahun-tahun. Mereka protes dalam kelompok kecil, melakukan diskusi-diskusi, dan lain sebagainya secara konsisten.

Monolog dan Tidak Independen

Satu event yang membuat saya rada miris melihat mahasiswa adalah ketika BEM diterima DPR baik-baik. Lihat cara bicara sang Maha Siswa, itu bukan dialog atau debat. Mereka merasa seperti Sang Kebenaran.

Gerakan Mahasiswa Indonesia

Saya setuju dengan banyak tuntutan mereka, tapi muak melihat sikap seperti itu.

Ketika berhadapan dengan DPR, itulah kesempatan untuk berdebat dengan anggota Dewan yang kita tahu tidak berfungsi itu. Itulah saat terbagus untuk membego-begokan anggota Dewan. Tapi eh, malah kesempatan ini dilewatkan, lalu diganti yel-yel monolog.

Para aktivis mahasiswa itu sama sekali tidak mengerti, bahwa ladang paling penting dalam pergerakan semacam ini adalah pembentukan opini umum, bukan memaksakan kehendak.

Kenapa pula anggota Dewan atau pemerintah harus ikut tuntutan kalian? Toh mereka yang dapat mandat, bukan kalian.

Saya setuju dengan banyak tuntutan mereka, tetapi jadi malu dengan cara mereka menyampaikan dan memaksakan tuntutan tersebut. Karena itulah, saya pikir, mereka sudah menjadi tidak banyak beda dengan para pemaksa berserban, dan bisa jadi ada yang jadi perusuh juga.

Dan perhatikan, BEM juga tidak mandiri. Mereka ketahuan memang mendapat “wejangan” dari banyak pihak yang bersengketa. Ini melahirkan tanda tanya, seberapa besar independensi gerakan mereka.

Tapi ya, dari sejarahnya, gerakan mahasiswa Indonesia memang tidak pernah benar-benar independen.

@Mentimoen

Warganet
Latest posts by Warganet (see all)