Gibran, Korban Relasi Kekuasaan

Gibran, Korban Relasi Kekuasaan
©Liputan Today

Citra Jokowi menjelang akhir masa jabatannya sebagai seorang presiden memuat pelbagai aspek terhadap keterlepasannya dalam dunia politik. Aspek yang sangat melandasi generalisasi anaknya melingkupi dua hal, yakni: pertama, asumsi Megawati terhadap Jokowi sebagai alat partai, dan kedua, relasi Prabowo dengan Jokowi yang merujuk pada keamanan dan kenyamanan Jokowi setelah pemerintahannya.

Intuisi tersebut pada Jokowi merupakan suatu bentuk pengerdilan terhadap integritas dan loyalitas dari kepemimpinannya. Asumsi tentang kualitas kinerja juga adalah suatu kenyataan bahwa ‘dinasti politik’ merupakan upaya memaknai demokrasi sebagai spirit manusia-manusia Indonesia.

Namun, sejauh mana tinjauan penerapan politik demokrasi merupakan penyempurnaan terhadap keadaan demokrasi? Proyeksi relasi adalah bentuk keberlanjutan para pemimpin Indonesia, lahirkan dinasti politik. Lengserkan Gibran, tegakkanlah demokrasi.

Foucault tentang Kekuasaan

Konsep tentang kekuasaan dari Michel Foucault terbagi dalam beberapa bagian, yakni: pertama, kekuasaan bukan kekerasan atau represi, melainkan mekanisme dan strategi.

Kedua, kekuasaan bukan milik tetapi strategi. Yang berarti bagi Foucault, kekuasaan itu tidak dimiliki tetapi dipraktikkan dalam suatu lingkup di mana ada banyak posisi yang secara strategis berkaitan satu dengan yang lain dan senantiasa mengalami pergeseran. Sederhananya, kekuasaan bukan milik tapi srategi.

Ketiga, kekuasaan tidak bisa dilokalisasi tetapi mencair, ada di mana-mana.

Keempat, kekuasaan itu tidak bekerja melalui represi dan agresi, tetapi melalui normalisasi dan regulasi disiplin tubuh.

Berlandas pada konsep kekuasaan Foucsult ini, keadaan relasi mendapat tempat yang sangat besar pada kedirian Jokowi. Pemaknaan ini rupanya telah menjadi agenda dari Jokowi yang dirancang secara sadar demi kehidupannya setelah melepas jabatan sebagai presiden. Penetapan dan pengangkatan Prabowo sebagai menteri pertahanan bukan saja menenteramkan bangsa tetapi juga ‘menenteramkan Jokowi’.

Baca juga:

Asumsi terkait Jokowi sebagai alat partai oleh Megawati mengartikan keuniversalan relasi sebagai suatu keautentikan diri dari Jokowi. Relasi Jokowi dan Prabowo bagaikan serigala dan domba yang sangat mungkin mendapatkan tempat yang sama karena insting siapa yang akan dimakan. Konsekuensinya, salah satu pihak harus berani berkorban untuk keselamatan. Entah siapa yang mau diselamatkan, tetapi bahwa yang pasti ‘harus menguntungkan’.

Konsep kekuasaan Foucault tentunya dimaknai secara radikal oleh Jokowi. Apakah kualitas kinerja Jokowi selama kurung waktu dua periode tidak menjamin keamanan dan kenyamanan dirinya? Ataukah kehadiran Prabowo adalah Tuhan terhadap diri Jokowi?

Kegelisahan Jokowi mengakibatkan Gibran sebagai pencabut sistem demokrasi bangsa. Pendapat mengenai model dinasti politik yang dilakukan oleh oknum pemimpin lain adalah suatu bentuk penistaan terhadap suara-suara rakyat yang sangat menaruh harapannya pada diri Jokowi. Dengan maksud tersebut, maka Jokowi sangat menaruh perhatian hanya pada kediriannya saja ‘ego diri’. Membiarkan kebaikan, pasrah dalam keburukan.

Dengan demikian, konsep keempat dari Foucault merupakan jawaban yang tepat untuk menetralisasi keadaan dalam rumah Indonesia ini. Lepaskan persepsi kekerabatan untuk memaknai kehadiran yang lain, yang memiliki niat dan tujuan demi kebaikan bersama bukan untuk kebaikan segelintir orang apa lagi kebaikan kekerabatan saja. Yang lain adalah yang sama. Normalisasi menjadi bentuk implementasi jiwa-jiwa demokrasi.

Konotasi Massa

Pengaruh Jokowi mengartikan Gibran sebagai wujud nyata kediriannya. Potensi kebaikan dalam diri Gibran terkait kebaikan-kebaikan Jokowi terhadap kinerjanya memunculkan suatu konotasi besar dalam kehidupan masyarakat. Konsekuensinya, pembungkaman terhadap kehadiran Gibran sangat ketat dan memiliki pengaruh yang besar.

Potensi kebaikan tentunya ada pada Gibran, namun citra Gibran adalah kerusakan pada keterlibatan generasi muda dalam memaknai keberadaan pemimpin. Di satu pihak, Gibran adalah ketakutan dan, di pihak lain, Gibran adalah jawaban atas kerinduan yang tertunda dari Jokowi.

Roland Barthes dalam konsepnya tentang mitos dan kritik ideologi menekankan tentang pentingnya konotasi dalam masyarakat sebagai bentuk ideologi absolut, mitos. Yang tidak dapat digugat dan dihilangkan.

Konotasi Barthes ini adalah upaya pelampauan dari konsep denotasi Ferdinand de Saussure. Dasar dari konotasi Barthes terletak pada mitos-mitos yang berkembang pada suatu masyarakat hingga akhirnya membentuk suatu ideologi konvesional.

Baca juga:

Mitos tentang Gibran pun mulai berkembang dan hidup di dalam masyarakat, suatu ironi bahwa Gibran merupakan pemimpin ideal, wajah baru, jiwa muda. Konsekuensinya, ideologi terbentuk, kehadirannya selalu dinantikan; melihat Gibran berarti memaknai kehadiran Jokowi. Pemahaman seperti ini sebenarnya merujuk pada keunggulan keseluruhan diri dari kehadiran Gibran.

Lantas bagaimana dengan orang-orang di luar dirinya, sistem yang nanti diterapkan? Relasi perpolitikan antara Jokowi dan Prabowo merupakan model dari kepemimpinan nantinya.

Demokrasi sudah tidak adil saat seorang manusia melempar dadu dalam membangun sistem, kekerabatan disalah-artikan, relasi dimaknai berlebihan.

Sekali lagi, lengserkan dinasti politik, tegakkanlah demokrasi. Demokrasi yang utuh berasal dari citra bangsa bukan citra keluarga. Masih ada kekuranagan pada bangsa, perbaiki bukan memperparah keadaan.

Mario G. Afeanpah
Latest posts by Mario G. Afeanpah (see all)