Gunjan Saxena dan Peran Perempuan di Ruang Publik

Gunjan Saxena dan Peran Perempuan di Ruang Publik
©Times of India

Film Gunjan Saxena: the Kargil Girl (2020) mencoba mengulik stereotip dan persamaan gender (equalty gender) di ruang publik.

Film Bollyhood, demikian para pencinta film India menyebutnya. Mungkin sebutan ini digunakan untuk membedakan antara film Hollyhood besutan Amerika Serikat.

Untuk saat ini saja, siapa yang tak kenal dengan Shahrukh Khan, Salman Khan, Amir Khan, Amitabh Bachchan, Karina Kapoor, Rani Mukherjee, Kajol, dan Aishawarya Ray serta sederet bintang Bollyhood ternama lainnya? Sekiranya sederet nama-nama ini tentu sudah tak asing lagi di telinga kita, khususnya bagi para penggemar film-film India.

Film Bollyhood di tanah air begitu populer dan sukses sejak diputarnya film Kuch Kuch Hota Hai yang dibintangi Shahrukh khan, Salman Khan, Rani Mukherjee, dan Kajol di sekitar tahun 1998, serta beberapa film seperti Kabhi Kushi Kabhi Gham. Bahkan hingga kini salah satu televisi Indonesia masih menayangkan serial film India, Mahabarata, Mahadewa, Jodha Akbar. Hal ini tentu membuktikan bahwa hingga kini film India masih memiliki tempat di hati masyarakat Indonesia.

Film India memiliki gaya kekhasan di setiap filmnya. Kekhasan itu selalu ada romansa, musik, tari-tarian yang menghiasi, baik itu film bergenre action kolosal, apalagi film bergenre romance dan komedi, dan ini menjadi identitas film India.

Selain itu, film India secara konsisten menyampaikan pesan sosial dan mempromosikan harmoni, perdamaian, keadilan sosial, persamaan gender (equalty gender), dan penempatan pada persoalan kemanusiaan. Oleh karenanya, film India tak melulu soal industri dan bisnis.

Film Gunjan Saxena: the Kargil Girl (2020) mencoba mengulik stereotip dan persamaan gender (equalty gender) di ruang publik. Ini merupakan film biopik Hindi India yang berkisah tentang seorang perempuan bernama Gunjan Saxena, seorang pilot Angkatan Udara pertama sepanjang berdirinya negara India yang ikut berperang dan menyelamatkan tentara dalam perang Srividya Rajan. Gunjan Saxena selama menjadi angkatan udara dianggap ikut memiliki peran penting atas kemenangan tentara India dalam perang Kargil dan pencarian tentara Pakistan.

Film besutan Sharan Sharma ini begitu tampak pesan-pesan yang ingin disampaikan. Dibintangi oleh aktor dan aktris yang sudah bertalenta dan lihai serta tak diragukan lagi seperti Janvi Kapoor, Pankaj Tripathi, Angad Bedi, Veneet Kumar Singh dan Manav Vij.

Film Gunjan Saxena: the Kargil Girl (2020) seolah ingin hendak mengatakan bahwa di ruang publik apa pun jenis gender itu tak penting, tak perlu ada diskriminasi gender di ruang publik. Paling tidak atau seharusnya posisi laki-laki dan perempuan harus dilihat dari segi kualitas bukan dari segi kekuatan fisik. Hal semacam ini yang dialami langsung Gunjan Saxena selama mengikuti pelatihan Angkatan Udara India.

Pengalaman, pelatihan, serta jam terbang di udara kurang lebih 100 kali diragukan kemampuannya oleh sikap superior laki-laki hanya dengan sebatas adu panco, termasuk oleh kolonil yang merasa tersaingi. Setelah melakukan perlawanan, pada akhirnya kemampuan Gunjan Saxena diakui bersamaan ketika melakukan penyelamatan dalam berbagai perang bersama tentara Angkatan Udara India.

Diskriminasi gender di ruang publik seperti yang dialami Gunjan Saxena ini sering kali terjadi. Kaum laki-laki merasa pongah, angkuh, dan merasa selalu superior karena kekuatan fisik yang dimiliki, serta menolak hak-hak perempuan secara advokasi di ruang publik. Salah satu intelektual India, Asghar Ali Engineer menolak anggapan dan gagasan atas pembagian peran publik dan peran domestik bagi laki-laki dan perempuan yang selama ini berkembang, khususnya dalam dunia Islam.

Selama ini, peran publik biasanya selalu diasumsikan sebagai wilayah aktualisasi kaum laki-laki. Sementara peran domestik dianggap sebagai dunia kaum perempuan yang hanya tersekat dalam konteks “dapur, sumur, dan kasur” dan sama sekali tak dianggap lumrah jika terlibat dalam konteks kepublikan, mulai dari persoalan politik, ekonomi hingga sosial.

Kodrat seorang perempuan dianggap hanya sebagai “ciptaan kedua” (second personality), atau the second sex meminjam istilah Simon de Beauvoir, sebatas di rumah menjadi penanggung jawab pekerjaan rumah tangga, mengurus rumah, memasak, mencuci, dan mengurus anak. Sementara laki-laki adalah kepala, pemimpin, pelindung, penguasa, pengayom keluarga, sekaligus pencari nafkah.

Film ini bertindak sebagai semangat revolusioner dalam menghadapi ketidakadilan gender, eksploitasi dan penaniayaan, serta menegakkan prinsip-prinsip persamaan gender dan keadilan gender di ruang publik. Selain itu, film ini seakan-akan mengatakan bahwa tak semua lak-laki harus bekerja keras, sebab perempuan juga bisa melakukannya.

Apa yang selama ini dilakukan laki-laki, pada dasarnya perempuan juga bisa melakukannya, jadi polisi, tentara, politisi, pengusaha dan sebagainya. Dengan kata lain bahwa perempuan memiliki superioritas rasional yang sama dengan laki-laki.

Meskipun film ini berupa film biopik Hindi India, akan tetapi, di dalamnya tetap ada romansa keluarga, musik, tari-tarian yang selalu menghiasi film selama kurang lebih satu jam 52 detik ini. Di akhir film, kita disuguhi tentang realitas pengaruh Gunjan Saxena terhadap kaum perempuan India, khususnya perempuan yang masuk angkatan udara, hingga kini tercatat sebanyak 1.625 opsir perempuan yang bertugas di Angkatan Udara India.

Film ini paling tidak telah membedah sikap dan peranan perempuan India di ruang publik yang selama lebih banyak dikenal sebagai perempuan terbelakang. Tentang perempuan yang tak mau mengalah pada laki-laki hanya karena perbedaan gender.

Syahuri Arsyi