Hambarnya Demokrasi Indonesia Tanpa Oposisi

Hambarnya Demokrasi Indonesia Tanpa Oposisi
©FB/zmutaqin

Nalar Politik – Mahasiswa UCLA School of Law Graduate Studies asal Indonesia, Zezen Zaenal Mutaqin, mengharap keberadaan oposisi. Ia khawatir kalau-kalau di periode kedua Jokowi nanti tidak ada pihak yang berdiri sebagai penyeimbang pemerintahan.

Hal tersebut ia kedepankan sebab ukuran sehatnya demokrasi, menurutnya, juga berlandas dari hadirnya oposisi. Dan itu mesti sama cerdas dan kuat, yang siap sedia berposisi sebagai pemberi kebijakan alternatif bagi warga negara.

“Sebagai sebuah prinsip, saya berharap ada kelompok yang dengan tegak, berwibawa, dan bangga berdiri di luar pemerintahan sebagai oposisi. Jika mau sehat, demokrasi meniscayakan hadirnya oposisi yang sama cerdas dan kuatnya,” kata Zezen melalui keterangan tertulisnya.

Ia menyadari, kecenderungan penguasa pasti ingin membuat semua lawan politiknya ditundukkan, termasuk dengan tawaran kekuasaan. Jika hal ini yang dipraktikkan di tubuh pemerintahan Jokowi, maka itu adalah blunder terbesar.

“Di satu sisi, semestinya Jokowi dan inner circle tahu bahwa dengan merangkul semuanya, justru blunder karena tak ada lagi sparring partner. Di sisi lain, Prabowo cs mestinya konsisten di luar pemerintah dan tidak tergoda kue kekuasaan jangka pendek.”

Alumnus sekaligus dosen UIN Jakarta Syarif Hidayatullah ini pun mengingatkan, bahwa dalam konteks demokrasi, menjadi penguasa hanyalah soal waktu selama konsistensi terus menubuh.

“Ingat, dulu PDIP adalah oposisi selama dua periode. Ketika penguasa dirasa tidak bisa lagi diharapkan, orang akan melihat apakah oposisi bisa jadi pilihan. Kalau tidak ada oposisi, lantas kepada siapa rakyat berharap ada alternatif?”

Sebelumnya beredar kabar, poros Cikeas (SBY) dan Hambalang (Prabowo) terlihat merapat ke kubu Jokowi. Padahal mereka notabene adalah lawan politiknya selama ini.

Meski terdapat PKS dan PAN yang masih tampak menjaga jarak sejauh ini, banyak kalangan yang menilainya tidak berarti apa-apa. Kediriannya sebagai oposisi nyaris tidak bisa warga harapkan sebagaimana Demokrat dan Gerindra, atau PDIP di zaman SBY. [fa]

Baca juga: