Happy New Rise, Sayang

Happy New Rise, Sayang
©Dok. Pribadi

Apakah yang tersisa dari sebuah kota di bulan Desember? Selain jalan lembab, udara dingin, juga aroma tanah becek, tersebab hujan yang turun tanpa henti.

Ini kali pertama kembali kususuri jalan-jalan di kotamu, Yogyakarta. Kota yang telah lama kau tinggali. Rumah, katamu, yang sekali waktu selalu mampu memelukmu untuk pulang.

Setengah tahun berlalu setelah kau memutuskan untuk pergi, kotamu tak cukup banyak berubah. Gedung-gedung masih tegap berdiri. Berjejer sangat rapi di sepanjang jalan. Hanya satu-dua kafe dan supermarket saling berganti satu sama lain.

Aku menatap wajah kotamu yang sangat sibuk. Menerka, apakah Langkah kaki ini memang berjalan menyusuri kotamu—ataukah menyusuri masa laluku? Di sini, aku benar-benar merasa asing. Orang-orang berlalu-lalang, tukang becak dan kusir andong tak hentinya menjajakan jasa kepada orang yang lewat.

“Ya, bakpianya buat oleh-oleh. Masih hangat, kak,” sahut penjual bakpia, saling beradu dengan suara penjual kaos oblong seratus ribu lima. Mereka sibuk satu sama lain.

Tentu aku masih ingat bagaimana tertawanya aku melihat kau memperagakan adegan ala penjual bakpia dan kaos oblong itu. Sangat epic. Kau memang sangat ekspresif. Dan setelahnya tentu sudah kutebak, kau akan mulai mengobrolkan tentang itu—sepanjang jalan. Membenturkan dengan masala lumu, juga bacaan-bacaan yang kerap kau diskusikan meski aku dalam keadaan sangat malas membahas soal itu.

Toh, biar bagaimanapun, yang menang dalam pertarungan ekonomi tetap kaum kapitalis. Kita bukan siapa-siapa. Saat itu kau mengelak, dan aku tetap pada keputusasaanku.

***

Kini aku sudah tiba di Sayidan, masih sangat padat di waktu-waktu begini. Pukul 17.00, jalanan akan dipenuhi orang-orang yang saling berdesakan pulang, setelah disibukkan dengan pekerjaan dan aktivitas di luar rumah.

Udara di Sayidan sangat dingin, bercampur gerimis yang turun beberapa menit saat kuputuskan untuk tetap duduk di emperan jalan ini. Kau tentu belum lupa tembok hitam putih di sisi jembatan. Di situlah terakhir kali kita duduk bersama.

Baca juga:

Kau menunjuk ke arah selatan dari sisi jembatan. Ada dua musala berdekatan di sana. Ketika magrib tiba, azan akan saling bersahut-sahutan dari kedua musala. Aku senang sekali jika setelahnya kau langsung melantunkan azan kemudian mengajakku menyambung surah-surah pendek yang hanya dua ayat kau baca.

Jika sudah seperti itu, magrib di Sayidan menjadi sangat syahdu. Tiba-tiba kita seperti manusia bobrok yang baru saja dibisiki ilahi—seketika religius.

Malam masih belia, dan kau di ujung percakapan, selalu saja merasa bahwa masa depan tak akan pernah menjadi milikmu. Manusia akan saling berlomba memainkan perannya di muka bumi. Anehnya lagi, beberapa di antara mereka memilih untuk menghabiskan waktunya di jalanan ketimbang harus pulang ke rumah.

Ya, rumah memang tidak begitu penting bagimu. Kau bahkan memilki banyak rumah, bukan? Tetapi setiap pulang, kau selalu kembali merasa asing. Katamu, tak ubahnya seperti yang mungkin saja dirasakan orang yang baru saja mati meninggalkan dunia dan bersusah payah beradaptasi dengan kehidupan di alam kubur yang benar-benar asing.

Aku menarik lengan jaketmu seketika. Berusaha menghentikanmu larut dalam pikiran yang kutahu persis akan membuatmu seperti lelaki cengeng yang tidak berdaya. Kau memang sangat lemah jika bercerita soal rumah. Padahal dalam dadamu, gemuruh kerinduan itu tercipta kian besarnya.

***

Kau akan bangkit dari ilusimu, sayangku. Semuanya telah selesai. Tak ada lagi beban yang akan memberatkan pundakmu. Aku ingin kembali mendengarmu bercerita tentang orang-orang baru yang kau jumpai sepanjang perjalananmu, atau menertawai tingkahmu menirukan gaya mereka. Paling tidak, bisa kembali menyusuri hamparan sawah yang membentang hanya beberapa petak, dengan saluran irigasi yang airnya sangat keruh itu.

Ketika sore hari tiba, menyaksikan anak-anak yang berlari riang mencari ikan-ikan kecil di sawah yang telah lama dipanen. Bukankah di sana kau sering berkata bahwa kau adalah anak yang paling beruntung di muka bumi ini, karena telah menyaksikan hamparan sawah luas, dan juga saluran irigasi dengan air yang masih sangat jernih, di situ kau bebas mandi dengan kawan kecilmu?

Lama di Sayidan, malam tak kunjung pula menjajakan sunyi, malah kepadatan yang luar biasa. Manusia berbondong-bondong datang dari berbagai arah. Dan, aku membayangkanmu berada di antara mereka. Melambaikan tangan, lalu berlari ke arahku.

Halaman selanjutnya >>>

Naspadina
Latest posts by Naspadina (see all)