Hari-Hari Terakhir Gus Dur

Hari-Hari Terakhir Gus Dur
Dok. Pribadi

Setahun menjelang Mbah Wali Gus Dur berpulang, aku mulai sering menyadari hal yang tidak normal pada beliau. Kadang terlihat wajah beliau seperti bengkak, kadang kulit tangan tampak sangat kencang (methentheng).

Itu adalah akibat dari komplikasi yang sangat parah dari sakit beliau. Beberapa hari sekali beliau wajib cuci darah. Biasanya tanda-tanda itu muncul jika beliau terlambat cuci darah.

Namun bukan Mbah Wali namanya jika tidak bisa membuat suasana menjadi riang gembira. Seakan tidak merasakan apa yang dideritanya.

Kami pun yang awalnya kaget dan terenyuh dengan keadaan beliau jadi lupa dan ikut larut dalam bahagia.

Dan anehnya, dalam kondisi fisik yang sudah separah itu, beliau seperti biasa tetap beraktivitas ke mana saja. Tetap bisa keliling negeri Indonesia. Negeri yang begitu beliau cintai ini.

Hingga pada akhir Desember 2009, aku dapat kabar beliau sedang melakukan perjalanan di beberapa wilayah di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Karena sudah seperti biasa seperti itu dan semua tampak baik-baik saja, kami pun menjalani rutinitas seperti biasanya. Nanti bisa sowan lagi kalau beliau sudah ada di Jakarta.

30 Desember 2009….

Baca juga:

Pulang dari kantor, aku menghidupkan TV. Kaget setengah mati, karena ada kabar Mbah Wali Gus Dur wafat.

Rasanya tidak bisa percaya. Serasa mimpi. Sebab, terakhir ketemu masih penuh dengan canda tawa seperti tak kurang suatu apa pun.

Aku masih menganggap berita itu hanya rumor saja. Aku pindahkan channel TV. Ternyata beritanya sama semua: KH Abdurrahman Wahid, Presiden RI masa bakti 1999-2001 telah wafat.

Aku masih tidak percaya. Aku menelepon Mbak Yenny Wahid. Entah berapa puluh kali dan tidak diangkat. Telepon sibuk.

Beberapa sahabat yang dekat dengan keluarga ndalem juga aku hubungi. Hasilnya nihil. Semua telepon sibuk. Hingga akhirnya aku menelepon Kang Sulaiman, asisten pribadi Mbah Wali.

Entah berapa puluh kali aku ulangi dan selalu sibuk. Hingga akhirnya bisa diterima. Beliau membenarkan berita tersebut. Aku gak bisa berkata apa pun. HP langsung kumatikan.

Rasanya nyawaku juga ikut lepas. Begitu sakit kurasakan hingga untuk menangis pun aku tak sanggup. Malam itu kuhabiskan dengan menyebut asma Allah. Serasa duniaku yang berakhir.

Suamiku berusaha menenangkan aku. Mengajakku untuk takziyah. Memberikan penghormatan terakhir untuk Guru Tercinta. Aku menolak. Aku khawatir jika tidak bisa mengendalikan diri jika ada di lokasi.

Halaman selanjutnya >>>

Shuniyya Ruhama
Latest posts by Shuniyya Ruhama (see all)