Hasil Revolusi Mental: Antikritik, Perisak, Konspiratif, dan Bungkam

Hasil Revolusi Mental: Antikritik, Perisak, Konspiratif, dan Bungkam
©Tunggal Pawestri/Kumparan

Nalar Politik – Tunggal Pawestri menyebut hasil dari program Revolusi Mental Presiden Jokowi adalah munculnya segerombolan pembelanya yang antikritik. Mereka juga tak canggung untuk merisak pendapat-pendapat lain yang berbeda dari kelompoknya.

“Sekarang saya tahu hasil Revolusi Mental Jokowi. Penghasil ahli-ahli teori konspirasi dan orang-orang yang bungkam lihat semua kengacoan. Bravo!” kicau Feminis yang juga merupakan Konsultan HAM dan Gender ini melalui akun Twitter @tunggalp.

Sebelumnya ia kesal dengan hadirnya pemberitaan di mana Veronica Koman ditetapkan sebagai tersangka. Pihak kepolisian menyebut Veronica sebagai salah satu yang sangat aktif membuat hoaks berbau provokasi, baik di dalam maupun di luar negeri, yang diyakini jadi penyebab terjadinya kerusuhan di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya.

“This is insane!”

Ia khawatir dan mengamini kemungkinan terbesar bahwa semua orang akan mengalami nasib yang sama dengan Veronica di kemudian hari.

“Hari ini mereka menjadikan Veronica Koman tersangka. Tunggu saja waktunya sampai tiba giliran kita, giliran kamu. Saya bersama Veronica Koman.”

Dengan kicauan yang demikian, banyak orang lalu me-mention Divisi Humas Polri dengan nada bahwa Tunggal Pawestri adalah bagian dari provokator sebagaimana Veronica. Ia pun tak tinggal diam dan memilih menyerang balik.

“Dear Jokowi, jadi begini hasil revolusi mental yang dibanggakan?”

Sentilan pun dilayangkan Tunggal kepada mereka yang gemar mengadu seperti anak kecil. Ia merasa bahwa mereka kini jadi intel era kolonial.

“Coba diperhatikan. Kritik dan protes kami itu selalu ke pemerintah. Lawan kami ya struktur, sistem. Gak pernah ada urusan sama elu yang tiba-tiba mau melaporkan gue atau teman-teman. Kalian ini dapat didikan siapa? Gue berasa menghadapi intel Melayu zaman penjajahan Belanda.”

Padahal Tunggal mengaku tidak pernah mengganggu mereka secara individu. Karenanya, ia heran mengapa mereka malah mau mengkriminalkan dirinya dan menyeretnya ke polisi.

“Lu gak suka sama pendapat gue yang mengkritik pemerintah? Ya lawan, goblok. Lawan argumentasinya. Bukan malah kayak anak manja yang manggil orang tua kalau kalah berantem.” [tw]

Baca juga:

    Redaksi

    Reporter Nalar Politik
    Redaksi
    Share!