Hei, Mengapa Kita Harus Menulis?

Hei, Mengapa Kita Harus Menulis?
Ilustrasi

Menulis adalah kerja keabadian. Begitulah ungkapan RA Kartini, sosok perempuan yang mengabdikan diri sebagai anak dari bangsanya.

Secara umum, orang selalu berpandang bahwa kita menulis agar bisa eksis dan terkenal. Kerja itu hanya untuk diri kita sendiri. Inilah bentuk kesadaran naif yang mestinya harus kita hindari, jika mungkin dibungkam.

Mengapa kita harus menulis? Satu-satunya alasan untuk ini adalah karena ada kebenaran yang harus kita ungkap; ada kebenaran yang harus kita luruskan.

“Saya tak berkata, ‘saya akan buat karya seni’. Saya menulis karena begitu banyak dusta yang ingin saya ungkap.” ~ George Orwell, Why I Write.

Jadi tidak untuk semata mencapai kepentingan pribadi belaka (eksis dan terkenal). Tapi untuk kepentingan kebenaran secara umum. Dan tentu, berbeda dari yang pertama, inilah bentuk kesadaran kritis yang harus kita rebut, pertahankan, jika mungkin dikembangkan.

Alasan bahwa ada kebenaran yang harus kita ungkap tentu menjadi hal yang sangat krusial. Jauh hari sebelum sekarang, kebenaran tidak hanya cenderung didiamkan. Yang lebih fatal adalah kebenaran digambarkan tidak lagi pada tempat semestinya.

Ingat Joseph Goebbels, menteri propaganda rezim Adolf Hitler?

Ia percaya bahwa kebohongan yang terus diulang-ulang, dalam waktu yang lama, kelak akan jadi fakta di kemudian hari, terutama bagi kalangan yang picik dan tidak berpikir. Bahkan si pembohongnya bisa jadi percaya pada kebohongan yang dibangunnya sendiri.

“A lie told once remains a lie but a lie told a thousand times becomes the truth.” ~ Joseph Goebbels.

Ya, kebenaran didiamkan. Ketidakbenaran menguasai kehidupan. Upaya penindasan dipelintir sebagai pembebasan. Pemiskinan didefinisikan sebagai pemakmuran. Tentu semua hampir tidak tanpa dalih serta gaya tulis yang mampu melegitimasi ketidakbenaran tersebut.

Lantas apalagi yang mungkin untuk kita jadikan counter selain dengan aktivitas kepenulisan itu sendiri?

Menjadi Insan Pengabdi

Sebagai kaum intelektual, tentu kita tak cukup jika hanya menjadi insan akademis. Nilai-nilai kumulatif sama sekali tak pernah menjamin bahwa kita sudah berlaku sebagai insan pengabdi.

Ingat, pengabdian tanpa kesadaran mencipta adalah fatal. Di sinilah kerja keabadian ini menjadi pendamping utama. Ia merupakan pembuktian daya cipta kita sebagai syarat suatu pengabdian.

“Ilmu adalah buruan, tulisan adalah pengikatnya. Maka ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” ~ Ali bin Abi Thalib.

Sungguh tak bisa dibenarkan jika pengabdian hanya dipandang sebagai agenda take and give. Sebab pengabdian tak lebih sebagai upaya memanusiakan dan yang membebaskan (humanisasi dan liberasi). Tak ada pembodohan, tak ada pemiskinan (intelektual) manusia di dalamnya.

Lagi-lagi harus bertanya, “Hei, mengapa kita harus menulis?”

Ia adalah bentuk pengabdian kita pada hidup. Ini dimulai dari penjungkalan kebohongan menjadi kebenaran, pemiskinan menjadi pemakmuran, pembodohan menjadi pencerdasan, serta penindasan menjadi pembebasan.

Seperti kata Pram, orang boleh pandai setinggi langit; tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah. Maka menjadi benar ungkapan Kartini di atas, menulis adalah bekerja untuk keabadian.

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” ~ Pramoedya Ananta Toer.

___________________

Artikel Terkait:
Mimin NP
Latest posts by Mimin NP (see all)