Helicopter Parenting

Helicopter Parenting
©Audacy

Nalar Warga – Manusia dan hewan punya naluri memberi makan plus melindungi anak. Tapi kita sering kalah dari hewan. Mereka secara natural sanggup menyapih anaknya, mengajari survival. Sementara sebagian banyak homo sapiens terjebak fenomena helicopter parenting.

Helicopter view bisa melihat semua dari ketinggian. Orang tua dengan gaya pengasuhan helikopter seolah terbang mengitari anak di atas kepalanya. Siap jika ada kebutuhan, ada ancaman bahaya, siap menunjukkan jalan, juga jika anak butuh bantuan kapan pun. Tagline-nya: orang tua siaga.

Tujuannya, sih, sebenarnya bagus. Anak adalah prioritas. Orang tua ingin memastikan anak tumbuh sempurna dan menjadi yang terbaik. Tapi karena dosisnya kebanyakan, maka larinya ke arah over proteksi dan over fasilitasi. Enggak asyik lagi karena kesempatan anak untuk bereksplorasi jadi minim.

Orang tua tipe ini terlalu ingin terlibat di seluruh sudut kehidupan anak. Terlalu banyak kontrol. Karena takut anak terabaikan oleh dunia, maka orang tua memegang tanggung jawab terlalu besar atas keberhasilan dan kegagalan anak. Bisa dibilang orang tua mengambil alih tanggung jawab yang mestinya melekat pada anak.

Orang tua merelakan diri bertindak sebagai aspirasi anak. Menyiapkan semua keperluannya, menyingkirkan segala hambatan yang membuat anak terganggu. Orang tua jarang atau bahkan tak memberi kesempatan anak berlatih untuk belajar mandiri. Tak tega membiarkan anak menghadapi dunia sendiri.

Pada balita, orang tua heli akan ketat banget mengawasi anak. Anak terus digendong karena sangat takut jatuh. Saat bermain enggak boleh kotor, basah, kecapaian, dan lain-lain. Orang tua mengatur dan mengarahkan seluruh permainan sampai ke detail. Semua sudah disediakan polanya, anak tinggal mengikuti.

Kawan-kawan saya guru PAUD dan SD sering curhat, konon paling susah menghadapi orang tua model begini. Dikit-dikit komplain, dikit-dikit komplain. Ingin anaknya yang diberi prioritas perhatian. Paling ribet kalau si anak jatuh di sekolah atau berantem dengan teman. Waduh, bapak/ibu guru siap-siap diteror, deh.

Di usia sekolah, orang tua heli mengambil alih tugas dan PR. Sebelum pandemi, saya biasa melihat orang tua datang ke sekolah pagi-pagi untuk menyelesaikan PR, sementara si anak sibuk main dengan teman-temannya. Saya sendiri pernah beberapa kali ditelepon orang tua siswa untuk memintakan izin anaknya yang sakit. Duh.

Di usia dewasa, orang tua heli sibuk mencarikan anak pekerjaan, menyiapkan masa depan secara cermat. Saat anak sudah berubah tangga pun banyak keputusan penting rumah tangga tetap di tangan orang tua. Hati-hati, ya, ayah-bunda. Kasus-kasus begini bisa banget bikin para menantu kajian jadi ilfil.

Fenomena ini tak cuma milik golongan tertentu. Ada seorang bapak bekerja rendahan sowan bosnya. Si bapak “menginstruksikan” bos untuk mempekerjakan anak lelakinya. Si bos yang kaget makin bengong saat si bapak usul agar area kerja si anak sebelahan agar gampang jika perlu bantuan.

Baca juga:

Di kelas menengah ke atas bisa lebih parah lagi karena didukung fasilitas. Orang tua yang berduit bisa mereproduksi heli-heli lain dengan fungsi mirip heli master. Heli master pegang remote control untuk heli-heli bayangan ini: nanny, ART, sopir, bahkan bisa meluber ke guru sekolah, guru les, dan lain-lain.

Makin unik jika orang tua punya posisi tinggi. Meski belum tentu si orang tua yang mau pengasuhan ala heli (helicopter parenting), tapi lingkungan sekitar (yang notabene rikuh pada orang tua) membuat parenting normal jadi berantakan. Tambah parah jika lingkungan sosial membuat parameter ganda demi si anak karena orang tuanya ditokohkan.

Pola heli bisa dialami juga oleh anak yang diasuh kakek/neneknya. Tahu sendiri, kan, gimana tumpahan rasa sayang kakek/nenek pada cucu? Bukan salah beliau-beliau juga sih. Konon tugas orang tua mendidik anak dan tugas kakek/nenek memanjakan cucu. Maka gimana pun orang tua tetap harus jadi manajernya.

Efek helicopter parenting? Jelas anak jadi minim effort. Enggak perlu susah payah untuk mencapai sesuatu karena segala sudah tersedia. Anak mungkin tak paham apa itu kreativitas untuk memecahkan masalah, karena selama ini enggak pernah disajikan kesulitan. Lha, kan, semua sudah di-back up?

Anak enggak terbiasa berkompetisi secara natural dan sehat. Karena enggak punya pengalaman menghadapi tantangan normal, maka ia akan sulit menyikapi masalah dan ambil keputusan. Sebelum problem datang, orang tua atau orang-orang di sekitarnya selalu siaga dan duluan menstrelilkan.

Anak berpikir, kalaupun masalah telanjur sampai di depan mata, toh nanti ada orang tua yang bisa jadi sandaran. Pokoknya ayah/bunda superhero, deh. Ditinggal tidur, mimpi indah juga boleh, entar begitu bangun dunia sudah pasti aman tenteram kembali berkat ayah/bunda yang super hebat.

Masalahnya adalah, dunia di luar sana beda dengan di rumah. Tak setiap orang tua punya waktu dan kuasa untuk menaklukkan segala sesuatu demi meringankan anak melangkah. Hati-hati melepas si jago kandang. Karena begitu di luar jangkauan orang tuanya atau begitu masuk belantara yang natural, dia bisa shock.

Sebagian dari anak-anak ini mampu belajar dari lingkungan dan akhirnya bisa melalui rintangan dengan baik. Anak-anak hebat ini berjuang dan bisa beradaptasi dengan dunia luar rumah yang garang. Tapi sebagian lagi, begitu dihadapkan pada tantangan nyata, auto merasa kalah, tertekan, minder, dan senewen.

Banyak anak produk orang tua heli mampu berpikir kritis. Interaksinya dengan dunia di luar rumah memberikan insight bahwa perlakuan orang tuanya tidaklah tepat. Anak menyadari serta risi dengan gaya orang tua, untuk kemudian dengan kesadaran penuh ingin keluar dari zona proteksi dan menjadi diri sendiri.

Sebagian lagi anak produk heli tak menyadari hal itu. Karena sejak lahir diperlakukan seperti kristal tanpa mengerti dunia riil, akhirnya keistimewaan dianggap sebagai kewajaran, berharap zona nyaman itu abadi. Hidup yang full proteksi dan steril dari masalah membuat ia tumbuh naif.

Baca juga:

Anak seperti ini sejatinya butuh bantuan. Hidupnya dalam gelembung, tak pernah berinteraksi alamiah dengan dunia nyata. Lebih kasihan jika orang-orang yang mengelilingi anak menggunakan norma khusus yang beda dari standar umum dan berlomba-lomba mengatakan bahwa yang dilakukan anak adalah baik dan benar.

Dan bagi orang-orang yang tak punya ikatan kepentingan apa pun, pemandangan tersebut jadi terasa absurd. Ini barangkali dampak sedari kecil anak kurang diajak menjejakkan kaki ke bumi, jarang dirangkul untuk turut merasakan kepekaan kehidupan orang lain, semua terpusat ke dirinya.

Lalu mesti gimana?

Sejak kecil orang tua harus membenamkan konsep di pikiran kalau enggak selamanya bisa di samping anak. Anak tumbuh membesar, mendewasa. Sementara kita orang tua menua dan mati. Hidup anak enggak selalu harus berisi hal yang bagus, indah, lancar. Ia mesti siap beragam tantangan.

Orang tua enggak bisa selalu “hadir” untuk anak. Mesti ada kerelaan dari orang tua bahwa anak perlu mencicipi gagal dan kecewa. Dalam porsinya, anak pun perlu sedikit merasakan jatuh, berjuang, bangkit untuk survive. Dari situ anak akan memaknai arti kenikmatan dan kebanggaan yang sesungguhnya.

Maka paling ideal adalah membentuk perilaku anak sejak dini, dari hal-hal kecil di rumah. Beri tugas normal yang bisa dilakukan anak seusianya; beri bantuan hanya jika perlu; apresiasi dengan pujian. Yuk, jadi orang tua yang keren.

*Lita Widyo

Warganet
Latest posts by Warganet (see all)