Hubungan Chairil Anwar dengan Film India

Hubungan Chairil Anwar dengan Film India
Foto: Deccan Chronicle

Ulasan Film Aku tonton film ini bersama kawan-kawan di kafe Boenga Ketjil milik Andhi Setyo Wibowo—lebih akrab disapa Cak Kepik. Perkara apa yang mendasari nama itu muncul, aku tidak tahu. Toh kita di sini mau membahas film India berjudul Filmistaan.

Tokoh utama di film India ini bernama Sunny. Diperagakan polos, lucu, dan rela berkorban, meski lengan kanannya tertembak saat berdrama di hadapan anak-anak kecil membawa senapan asli saat disekap oleh sekolompok orang desa yang memperjuangkan ideologinya masing-masing.[1]

Cerita diawali dengan suara-suara lelaki yang hendak mengiklankan cokelat yang sungguh nikmat. Tetapi orang di balik layar mengatakan, yang intinya, “Kita ini sedang berusaha mengiklankan cokelat, bukan kondom!”

Itu adalah pembuka yang sempurna bagi kaum-kaum santuy[2] dan anak muda yang menyenangi hal aluy[3]. Juga cinta sekolah rendah[4], tentang betapa berusahanya orang mendambakan cinta monyet[5] dengan berbeda harta. Cinta si kaya dan si miskin. Cinta si pejabat dan si melarat. Di situlah film berjudul Filmistaan ini diadakan agar mengkritik film-film berkelas yang tidak memberikan manfaat banyak, selain menangis dan melegakan perasaan.

Adegan favoritku adalah ketika Sunny menang taruhan. Dia menantang orang berserban itu. Bila India menang, Sunny akan dibebaskan.

Oh ya, lupa, Sunny ini disekap oleh orang-orang Islam yang jalan hidupnya sudah salah. Islam yang sesungguhnya itu berangkat ke masjid, berzikir, dan mencari nafkah. Bukan membawa pedang, tombak, apalagi senapan dengan bendera-bendera yang sejatinya tidak diperlukan.

Bila betul Anda seorang Islam, maka berzakatlah, berpuasa. Bila ada harta banyak, umrah, haji, kurban. Dan banyak hal sunnah lain yang bisa dilakukan ketimbang demo tanpa penyelesaian masalah.

Karena Indonesia ini sudah damai sebetulnya, cuma, kenapa kita suka sekali mendramatisasi hal yang semestinya sederhana? Apa perlu dunia nyata ini kita bikin layaknya sinetron?

Bahkan Chairil Anwar termasuk penyair yang mempersulit pembaca dalam memaknainya. Karena terlalu multitafsir. Berbeda dengan W.S. Rendra, Wiji Thukul, Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, Aan Mansyur, Norman Erikson Pasaribu, Mario F. Lawi, dan lain-lain.

Chairil ini tipe manusia terluka yang tidak ingin dimengerti bahwa dia sebetulnya sungguh-sungguh menderita dalam hidup. Dia batuk darah[6], berak darah, terkendala usus, bahkan sampai berjajan perempuan[7] di Senen karena kesepian. Ditinggal istri dan anaknya pula.[8]

Aku kadang membayangkan pada puisi Chairil yang berjudul Selamat Tinggal di bait pertama baris kedua: bukan buat ke pesta[9]. Dia berdansa sendiri di dalam kamar. Di kepalanya terngiang lagu-lagu Rhoma Irama[10], lagu India, atau bahkan pianonya Beethoven[11]. Dan dia menangis sendiri, tanpa suara. Karena dia merasa, laki-laki tidak berhak menangis.

Mungkin hanya diperbolehkan kepada perempuan saja menangis itu? Laki-laki tidak boleh?


[1] Ini berbau terorisme. Tetapi di film ini, terorisnya punya hati nurani dan imut meski wujudnya tampak seram.

[2] Santai.

[3] Alay.

[4] Puisi Chairil Anwar berjudul Derai-Derai Cemara (bait tiga, baris dua).

[5] Cinta yang difungsikan untuk bersenang-senang saja, namun berakhir derita.

[6] Tuberkulosis.

[7] Prostitusi.

[8] Sumber: dari buku berjudul Chairil karya Hasan Aspahani.

[9] Puisi Normantis, Dua Versi Sajak “Selamat Tinggal” – Chairil Anwar.

[10] Raja Dangdut.

[11] Komponis tunarungu yang membikin lagu berjudul Fur Elise.

    Arham Wiratama

    Lahir di Jombang, 1 Agustus 1997 | Penulis "Deru Desir Semilir" (Intelegensia Media, 2016) dan "Segara Duka" (J-Maestro, 2018) | Belajar biola dan gitar di Spirit of Musik Jombang

    (see all)

    Share!