Ibuku Bukan Seorang Pengkhianat

Ibuku bukan seorang pengkhianat…

Kita pernah dengar kisah sang rasul di buku antologi puisi sang nabi suci itu, tentang lima koin, cambuk, ludah, dan salib? Waktu itu pagi berdusta dengan embun, membuat lidah makin liar menari dengan silat liurnya.

Barangkali, masih menunggu lonceng berdenting dari lorong-lorong sunyi. Api dan tungku kian akrab menghangat tubuh. Sedang embun jadi pelacur jalanan.

“Ibu, maafkan aku.” Saat itu sang nabi telah diseret bak tontonan gratis dari teater amal dengan ayam yang kian melacur.

Pagi itu kudengar seorang bocah menggumam, “ibuku bukan seorang pengkhianat.”

Kutulis puisi ini dari rekam jejak ibu negeri akhir-akhir ini.
Arnoldus, di sebuah taman-Agust 2019

Nitapleat-Rumah Sebuah Lagu

Aku memulainya dari sebuah kata pertama, “aku dan rumah bersetubuh dalam jubah.”

Nitapleat….

Di sini aku menjubahkan tubuh dan bertubuh pada jubah sambil berkhayal pada akal, berimajinasi pada nalar. Persis seperti perpaduan sebuah narasi dan puisi sambil meneguk hangatnya aroma kopi dari cangkir-cangkir sabda dan menyeduhnya dengan kisah-kisah sederhana.

Niceplace, Agustus 2019.

/1/

Madah Maria sore hari itu, masih bersenandung dengan aroma-aroma pelaut yang melaut. Jangan sungkan bertolak dan jangan ragu untuk ditolak.

Barangkali, sore dan malam saling menjegal juga pagi dan siang masih terlalu terik memanjakan mimpi, jangan-jangan petang dan senja masih terlalu romantis untuk berkeliaran. Asal ketika Madah Maria masih disenandungkan sebab bisa jadi itu sebuah narasi doa saat kita pergi mengutus dan diutus.

/2/

Lagu salve regina sedang akrabnya menggema dari ruang tengah kamar-kamar kita. Senja itu masih terlalu dini mungkin ia sedang mengajak kita kencan. Sambil malam masih menyibukkan acara perjamuan malam yang romantis.

Bulan dan bintang juga segenap gelap dan terang masih bernegosiasi. Kapan-kapan jangan lupa bertamu dan menetap. Bisa jadi sehabis lagu salve regina kita akan bersenandung pada Madah Zakharia meski waktunya sedang hangat di luar mata yang kian berair.

Nitapleat-wisma Arnoldus, 2019
“Nitapleat-Rumah Sebuah Lagu” bisa jadi sebuah rindu untuk pulang

Chan Setu
Latest posts by Chan Setu (see all)