Ikama Sulbar dan Dinamika Konflik

Ikama Sulbar dan Dinamika Konflik
Ilustrasi: IST

Sebagai mahasiswa rantau, kita tentu sangat membutuhkan yang namanya organisasi daerah, meskipun ada dinamika konflik di dalamnya. Karena satu dan lain hal, itu sangat membantu kita, juga bagi teman-teman mahasiswa lainnya, yang ingin berproses di negeri orang. Bahwa mahasiswa dituntut harus bisa membaca situasi di daerah. Dan lewat organisasi daerahlah pembacaan yang demikian itu dimungkinkan.

Bisa kita lihat mahasiswa Sulawesi Barat yang ada di Yogyakarta. Contoh, misalnya, Johar atau biasa dipanggil Tibo. Seorang Johar sedang berproses di organisasi daerahnya yang bernama Ikama Sulbar (Ikatan Keluarga Mahasiswa Mandar Sulawesi Barat).

Sayangnya, organisasi yang digeluti Tibo itu sedang mengalami dinamika konflik di mana perang Mubes (Musyawarah Besar) pertama berlangsung di Kulonprogo, Yogyakarta.

Tetapi, perang tidak sesuai harapan. Karena salah satu IKPM daerah menyatakan dirinya keluar dari peperangan. Alasannya, tidak sesuai dengan peraturan perang Mubes. Oleh karena itu, perang harus dihentikan. Karena syarat berlangsungnya perang adalah hadirnya seluruh IKPM se-Sulawesi Barat yang ada di Yogyakarta, mulai dari Polewali Mandar, Majene, Mamuju, Mamuju Tengah, Mamuju Utara, dan Mamasa.

Sebelum berlangsungnya perang kedua, para Ketua IKPM mengadakan peraturan. Bahwa tidak ada lagi IKPM yang walk out dari perang yang akan berjalan.

Perang kedua ini berlangsung di hotel Cailendra, Yogyakarta. Di sini, semua warga IKPM berkumpul untuk melanjutkan perang Mubes yang satu bulan lebih terhenti. Perang kedua ini bakal menentukan siapa yang akan keluar menjadi penguasa.

Terbentuknya dua Ikama Sulbar adalah naiknya dari pihak Mamuju jadi penguasa. Nahas, Polewali Mandar tidak setuju hasil kesepakatan bersama ini.

Di sini, Ikama Sulbar meniru jurus Naruto “Genjutzu Jounin Konoha”, yang bisa menggandakan diri. Tetapi, dinamika konflik seperti ini sangat pembodohan. Mengorbankan teman-teman mahasiswa yang ingin berproses di dalam Ikama Sulbar.

Awalnya saya curiga terhadap Maman Suratman, Gio, dan Ihsan Tahir. Jangan-jangan mereka ini memang sengaja merusak organisasi daerah agar penerus bingung ingin berproses di mana.

Saya sarankan kepada pembaca, terhadap hal seperti ini, kita harus pintar membaca situasi seperti yang dialami Tibo. Itu bisa menimbulkan rusaknya moral penerus organda apabila mengikuti langkah seniornya di masa mendatang. Jangan biarkan dinamika konflik seperti ini berlangsung, apalagi sampai jadi tradisi.

Dinamika Konflik yang Baik

Saya tidak akan membahas tradisi atau moral, karena konflik seperti ini juga ada baiknya. Di dalam teorinya Nietzsche, memang dinamika konflik seperti sekarang ini salah. Tetapi tidak ada kesalahan kalau tidak dibarengi dengan kebenaran.

Masalah sekarang ini cukup bagus. Karena teman-teman mahasiswa rantau, khususnya daerah Sulawesi Barat, bisa tetap berproses di Ikama Sulbar. Dulunya cuma segelintir orang yang bisa masuk sebagai pengurus. Tetapi, dengan adanya dinamika konflik ini, bisa dikatakan, 90 persen mahasiswa Sulawesi Barat kini ambil bagian dalam mengurus Ikama Sulbar.

Pembahasan saya di atas terlalu kasar. Mungkin saya tidak pantas membahas masalah Ikama Sulbar. Tetapi, bagi saya pribadi, saya ingin membahas kebenaran dari masalah ini ketimbang membahas bayangannya.

Dari hal ini, muncul pertanyaan dalam pikiran Tibo terhadap saya. Pertanyaan Tibo adalah apakah kamu sepakat dengan konflik seperti ini? Itu pertanyaan yang pertama. Yang kedua, apa pendapatmu tentang Ikama Sulbar?

Jawaban pertamanya sudah saya utarakan di atas. Konflik yang dicipta senior-senior ini sangat baik. Karena semua teman-teman mahasiswa pada akhirnya bisa ambil bagian mengurus Ikama Sulbar.

Jawaban yang kedua adalah Ikama Sulbar sebagai organisasi daerah sangat membantu teman-teman mahasiswa yang ingin berkiprah di organisasi daerah.

Kesimpulan saya dari pembahasan di atas adalah organisasi daerah, khususnya Ikama Sulbar, merupakan ruang penggerak di masa mendatang, terutama di Sulawesi Barat. Ikama Sulbar harus tetap eksis sebagai pelopor. Menjadi wadah mahasiswa untuk tetap bisa berkiprah, memberi sumbangsih riil ke daerahnya kelak.

Dan pada akhirnya saya berpikir, konflik yang dicipta Maman Suratman ini ternyata baik.

*Agung HR, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

___________________

Artikel Terkait:

    Peserta Lomba

    Peserta Lomba Esai Nalar Politik

    Latest posts by Peserta Lomba (see all)