Indonesia Butuh PSI, Bukan Partai Pemalas, Korup, Oportunis, Pengecut…

Indonesia Butuh PSI, Bukan Partai Pemalas, Korup, Oportunis, Pengecut…
Ade Armando | Detik

Ahli komunikasi, pengajar, dan jurnalis Ade Armando tegas menyebut bahwa Indonesia butuh PSI (Partai Solidaritas Indonesia). Bukan semata karena mereka partai baru, melainkan karena diisi oleh anak-anak muda yang pintar, berani, berintegritas, dan pro-rakyat.

Hal tersebut Ade ungkapkan melalui catatan tertulisnya: Saya Akan Memilih Jokowi dan PSI demi Indonesia yang Sejahtera, Bersih, Damai, dan Hebat (3/15).

“Saya tidak dibayar oleh PSI. Saya bukan pengurus PSI. Sebagian pengurus PSI bahkan tidak menyukai saya karena, sebagai ilmuwan, saya tidak sungkan mengkritik PSI. Tetapi saya akan memilih PSI. Karena pilihan yang paling memenuhi persyaratan akal sehat saat ini adalah PSI,” tulis Ade.

Disebut pilihan akal sehat lantaran partai-partai tua dianggap gagal. Mereka, kata Ade, sudah diberi waktu yang cukup lama, tetapi—alih-alih mengabdi bagi kepentingan rakyat—malah sibuk memperjuangkan kepentingan sendiri dan memperkaya diri sendiri.

“Walau saya mengenal sejumlah nama anggota parlemen yang serius berkomitmen membela rakyat, saya tidak akan memilih dan merekomendasikan partai-partai lama karena mereka sudah gagal.”

“Sekarang saja, sidang-sidang DPR sudah tidak dihadiri para anggota DPR. Mereka sedang sibuk menjaga keberlangsungan hidupnya agar terpilih lagi untuk periode 2019-2024,” tambah Ade.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia itu makin yakin bahwa Indonesia butuh PSI lantaran diperkuat oleh pidato Grace Natalie pada 11 Maret lalu. Bagi Ade, pidato tersebut adalah pidato terbaik seorang Ketua Umum partai politik, setidaknya sejak era Orde Baru.

“Pidato Grace dahsyat dan benar adanya. Gara-gara pidato itu, parpol-parpol lama memaki-maki PSI yang dianggap tidak menjaga kerukunan koalisi pro-Jokowi. Parpol-parpol lama memaki-maki PSI yang dianggap menjadi pengkhianat dan hanya ingin mencari popularitas murahan. Sebagian bahkan berkoar bahwa apa yang dilakukan PSI merugikan Jokowi.”

Bagi Ade, sebagai rakyat, perkara kesetiaan PSI pada koalisi itu tidak penting. Yang terpenting menurutnya adalah apakah yang PSI ungkapkan melalui pidato Grace itu benar atau tidak.

“Ada begitu banyak dosa parpol saat ini. Seperti dikatakan Grace, partai-partai lama itu tidak peduli dengan ancaman terhadap hak asasi manusia, korupsi, kebinekaan, dan keberagaman. Partai-partai ini bungkam—sementara PSI bicara lantang—ketika berbagai rumah ibadah disegel; ketika hak masyarakat beribadah diancam; ketika ada seorang ibu rumah tangga dipenjara hanya karena mengeluhkan suara azan yang terlalu keras; atau ketika ada teror atas dasar agama.”

Bahkan, lanjut Ade, hampir tak satupun partai-partai itu, kecuali PSI, yang berani menyatakan dukungan ketika Nahdlatul Ulama (NU) membuat rekomendasi bersejarah berupa penghapusan istilah “kafir” kepada kelompok non-Muslim.

“PSI bicara lantang tentang rangkaian penindasan HAM itu. Sementara para wakil rakyat di parlemen bungkam. Mereka terlalu takut untuk melawan gerombolan penindas keberagaman. Jadi kalau sekarang mereka marah ketika Grace mengungkapkan kepengecutan mereka di depan publik, ya itu memang sifat dasar kaum penakut.”

Hal lain yang menurut Ade kenapa Indonesia butuh PSI adalah karena PSI merupakan satu-satunya partai politik yang peduli dengan keberlangsungan demokrasi Indoensia. PSI adalah partai paling keras mengecam segala bentuk praktik korupsi di negeri ini.

“Mayoritas fraksi di DPR menyetujui UU MD3 pada 2018 yang bisa memenjarakan warga kritis yang mengeritik DPR. Untung saja UU tersebut dinyatakan batal oleh Mahkamah Konstitusi. Dan PSI adalah satu-satunya parpol yang menggugat UU tersebut.”

Partai-partai besar itu, termasuk PDI-P, juga dikecam karena turut mendukung hak angket yang ditujukan untuk melemahkan eksistensi KPK. Ade juga mengingatkan untuk jangan lupa bahwa para wakil rakyat dari partai besar itu terlibat dalam megaskandal e-KTP.

Di luar itu, mereka juga disebut pemalas dan boros. Saking malasnya, kata Ade, dari 50 RUU di tahun lalu, hanya ada 4 yang berhasil disahkan. Padahal anggaran untuk itu sangat besar, mencapai Rp945 miliar.

“Jadi janganlah partai-partai besar itu berusaha menarik simpati dengan mengatakan bahwa PSI adalah pengkhianat koalisi.”

Dari segala catatan buruk partai-partai lama, Ade pun kemudian mengimbau bahwa parlemen Indonesia harus dirombak total. Tetapi itu tidak bisa terjadi kalau yang bertahan orang-orang lama dari partai-partai lama. Sebab, yakin Ade, mereka tidak akan bersedia memperbaiki DPR karena sudah menikmati miliaran keuntungan dari kebocoran DPR.

“Karena itu saya akan memilih PSI. Indonesia tidak membutuhkan orang-orang lama dari partai-partai lama yang pemalas, korup, oportunis, pengecut membela rakyat, dan sekadar pintar bacot. Saya berharap ada banyak orang Indonesia yang berpandangan sama.”