Insting Pemimpin Seorang Anies Baswedan

Insting Pemimpin Seorang Anies Baswedan
Foto: Brilio

Nalar PolitikSebuah Fanpage Facebook mengungkap insting pemimpin yang dimiliki Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Menurutnya, meski masing-masing pemimpin punya insting yang berbeda-beda, tetapi itu akan terlihat saat yang bersangkutan dihadapkan pada situasi yang tak terduga.

“Apalagi di situasi krisis. Di situ insting pemimpin, karakter asli, akan muncul,” tulis Fanpage bernama Anies Baswedan untuk Indonesia ini (12/8).

Ia pun mengarahkan publik untuk melihat cara Anies dalam berpikir dan bertindak saat listrik sempat padam di wilayah DKI. Yang mana, tidak ada seorang pun yang mampu menduga bisa terjadi pemadaman listrik secara besar-besaran seperti itu. Inilah yang baginya merupakan kondisi tak terduga, sebuah krisis yang sang gubernur alami.

“Menarik. Dia (Anies) langsung bertindak. Dia tidak menyalahkan siapa pun. Dan langsung menyiapkan langkah-langkah solusi.”

Bahwa satu hal yang selalu berulang, terangnya, adalah Anies punya insting untuk bertindak di saat krisis. Bukan diam dan menonton, tetapi hadir di lapangan dan bertindak.

“Ingat peristiwa 21-22 Mei di depan Bawaslu? Semua pejabat pemerintah pusat menghilang. Yang bergerak dan bertindak di lapangan hanyalah Gubernur DKI, Anies Baswedan.”

Pun demikian ketika ibu kota dilanda blackout, berimbas besar di bagian barat Pulau Jawa, yang bertindak di lapangan, katanya, adalah Gubernur DKI Jakarta.

“Coba perhatikan tindakannya.”

Fanpage tersebut lalu membeberkan satu per satu langkah-langkah Anies saat listrik PLN mati, di antaranya:

1. Mengumumkan bahwa nomor emergency 112 di Jakarta tetap berfungsi dan menyilakan publik untuk hubungi bila ada kebutuhan kedaruratan.

2. Langsung mengerahkan semua bus Sekolah dan bus cadangan. Dalam waktu singkat, mulai pukul 14.00, bus-bus itu mulai membantu publik yang tidak bisa naik kereta listrik ataupun MRT.

3. Semua genset di setiap rumah sakit di DKI Jakarta dipastikan berfungsi. Dia periksa ke RS-RS memastikan aliran listrik dari genset aman, karena pasien, alat-alat kesehatan, vaksin, dan lain-lain butuh tenaga listrik.

4. Petugas Dinas Perhubungan disebarkan untuk bertugas di persimpangan-persimpangan strategis guna mengatur lalu lintas saat hampir semua lampu pengatur lalu lintas mati semua.

5. Memeriksa di lapangan, mulai dari stasiun, rumah sakit, lalu lintas, hingga operasi pemadam kebakaran. Semua fasilitas pelayanan dasar untuk warga dipastikan kondisinya oleh Gubernur.

6. Menggratiskan layanan Transjakarta dan MRT sampai dengan akhir operasi pukul 24.00.

Ini langkah yang fenomenal. Semua alat-alat pembayaran elektronik mati saat itu, jadi pelanggan harus bayar tunai dan antre panjang; tapi Gubernur DKI langsung perintahkan gratiskan. Para pelanggan diizinkan masuk tanpa bayar sampai seluruh sistem bisa berfungsi lagi. Instingnya adalah ambil tanggung-jawab dan jangan bebani rakyat.

Hal yang sama sesungguhnya terjadi di pintu-pintu gerbang tol, tapi tidak ada perintah penggratisan dari pemerintah. Sehingga terjadilah kemacetan yang amat panjang di gerbang tol.

7. Mengeluarkan seruan untuk warga agar hemat air, mengurangi kegiatan bepergian dengan kendaraan pribadi, dan agar berhemat baterai.

Ini Tampaknya sangat sederhana. Tapi dalam situasi krisis, publik disadarkan bahwa ini kondisi khusus, maka berperilaku secara khusus pula.

8. Memerintahkan semua jajaran untuk langsung mengecek kondisi warga di wilayahnya dan memastikan pelayanan publik tetap terjaga baik. Lurah dan camat bergerak memantau kondisi rakyat, karena diperintahkan Gubernur untuk lapor kondisi rakyat di wilayahnya.

Akhirnya, dalam situasi krisis, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dinilai terlihat memiliki sifat dan sikap kepemimpinan yang inheren dengan dirinya. Jadi dalam kondisi tak terduga dan kondisi krisis seperti itu, simpulnya, insting yang muncul dari seorang Anies adalah insting pemimpin yang matang.

“Ini semua adalah pelajaran berharga bagi anak-anak muda. Yang kita butuhkan adalah leader, bukan bos.” [fb]

Share!