Interelasi Mahasiswa dan Organda: Kontribusi Positif dalam Mengatasi Krisis Degradasi Moral dan Budaya

Interelasi Mahasiswa dan Organda: Kontribusi Positif dalam Mengatasi Krisis Degradasi Moral dan Budaya
Ilustrasi: udemy.com

Keterkaitan antara mahasiswa dan organda bukan hanya sebuah relasi, melainkan interelasi. Keduanya saling berbaur dan tidak dapat dipisahkan.

Agent of Change dan Social Control merupakan dua istilah yang telah melekat dan tidak dapat terlepas dari mahasiswa. Hal tersebut tidak dapat dipungkiri akibat kiprah dan peran strategis mahasiswa dalam menyikapi problematika publik dan memberikan konklusi. Sehingga mampu membawa perubahan yang signifikan dengan memperhatikan dan memperhitungkan berbagai aspek agar perubahan yang dihasilkan bersifat positif.

Pada dasarnya, bukan hal yang mudah membawa perubahan ke arah yang lebih baik dan bersifat positif mengingat rintangan dan hambatan turut serta dalam perubahan itu sendiri. Semakin tinggi taraf perubahan, semakin tinggi pula rintangan dan hambatan yang menimbulkan masalah yang kompleks. Sehingga diperlukan ide dan langkah kerja yang tepat, terutama dari dan bagi para mahasiswa selaku Agent of Change dan Social Control dalam merumuskan dan menentukan solusi.

Tingginya taraf perubahan di dunia tidak dapat terlepas dari adanya globalisasi yang mampu mengakses dan bersinergi dalam ruang lingkup kehidupan suatu bangsa. Dalam diskursus globalisasi, terdapat definisi yang menyatakan bahwa pada pokoknya globalisasi berarti proses interkoneksi yang terus meningkat di antara berbagai masyarakat. Sehingga kejadian-kejadian yang berlangsung mempengaruhi negara dan masyarakat lainnya (Rais, 2008: 11-12).

Pengaruh dari arus globalisasi yang menjangkit ini dapat bersifat positif maupun negatif. Sehingga perlu adanya filtrasi untuk memilah dampak yang ditimbulkan.

Salah satu permasalahan di Indonesia yang timbul akibat dampak arus globalisasi baru-baru ini, yaitu munculnya fenomena Kids Zaman Now. Kids Zaman Now mengacu pada kondisi generasi muda saat ini, baik perilaku maupun moral, yang diidentikkan dengan konotasi negatif.

Hal tersebut tidak dapat dinafikan dari beberapa tindakan kenakalan generasi muda saat ini. Semuanya muncul dan memenuhi media cetak maupun media elektronik. Misalnya, gaya pacaran eksentrik, sex bebas, sikap durhaka, tawuran, gaya pergaulan berlebih, dan lain-lain yang tak ayal menimbulkan kecaman. Berbagai kenakalan maupun tindakan nyeleneh ini bahkan tak jarang dilakukan oleh anak usia dini yang masih menempuh bangku sekolah dasar.

Fenomena Kids Zaman Now menandakan telah terjadinya degradasi moral akut, yang disebabkan tidak terfilternya budaya asing secara baik, sehingga berdampak pada melemahnya eksistensi budaya lokal. Padahal bukan rahasia umum lagi bagi bangsa Indonesia bahwa budaya Indonesia telah menjadi bagian penting dalam pedoman hidup berbangsa dan bernegara. Itu sudah terkandung dalam Pancasila. Maka sudah sepatut dan seharusnya untuk dilakukan revitalisasi nilai-nilai budaya dan moral yang semakin hari semakin terdegradasi.

Permasalahan tersebut jadi PR para mahasiswa selaku Social Control untuk membatasi mewabahnya kerusakan budaya dan moral. Dan selaku Agent of Change mampu mendorong terjadinya perubahan pesat ke arah budaya dan moral yang lebih baik dan signifikan.

Untuk memulai dan mewujudkan tujuan ini, tidak hanya diperlukan strategi yang matang. Namun, juga dukungan dan fasilitas yang mampu mewadahi dan menampung ide dan gagasan yang ada. Ini bisa diretas salah satunya melalui organisasi daerah atau yang biasa disebut organda.

Organda sebagai organisasi kedaerahan memiliki sisi unik di mana anggotanya berasal dari wilayah atau daerah yang sama. Sehingga dapat dengan lebih mudah menyamakan langkah gerak dan persepsi karena arah tujuannya serupa.

Ini menunjukkan bahwa organda menjadi organisasi unggul, sesuai dengan pendapat Subir Chowdhury (2005: 1). Bahwa untuk menjalani masa kini dan masa depan, organisasi harus menekankan pada dua hal: bakat dan lingkungan.

Organda menjadi pilihan tepat bagi para mahasiswa untuk mewadahi ide atau gagasan dalam mengatasi budaya dan moral yang semakin merosot. Karena pada dasarnya nilai kebudayaan menjadi karakteristrik jati diri dari organda.

Melalui organda, mahasiswa memiliki ruang gerak yang strategis. Mahasiswa daerah mampu menjaga dan melestarikan nilai budaya kedaerahannya, serta memberikan cerminan positif bagi khalayak umum tentang pentingnya nilai-nilai kebudayaan lokal yang syarat akan nilai moral bangsanya.

Tidak hanya sekadar menjaga nilai budaya di kalangan para anggotanya, juga turut mengeksistensikan. Dan terpenting, memberi pengaruh terhadap apa yang menjadi isu-isu budaya lokal di tengah kehidupan masyarakat, terutama di tengah derasnya arus globalisasi.

Melalui organda pula, mahasiswa dapat intensif turut andil dalam memilah dan membatasi budaya yang terbawa arus globalisasi. Agar budaya yang terserap bersifat positif tanpa harus menyingkirkan budaya lokal.

Hasil dari kinerja keras tersebut nantinya dapat disebarluaskan dan diimplementasikan, baik melalui pengajaran, sosialisasi, bahkan praktik lapangan. Sehingga perilaku menyimpang pada generasi muda yang diakibatkan oleh budaya negatif globalisasi dapat dibatasi.

Organda bukan hanya sebagai mediator bagi mahasiswa, melainkan keduanya memiliki hubungan keterkaitan satu sama lain. Organda sebagai fasilitator peran strategis. Sedangkan mahasiswa sebagai penggerak aksi dan pendorong dari ide dan gagasan.

Sehingga dapat disimpulkan, keterkaitan antara mahasiswa dan organda, bukan hanya sebuah relasi melainkan interelasi. Mahasiswa dan organda saling berbaur dan tidak dapat dipisahkan. Maka bukan hal yang tidak mungkin jika degradasi moral dan budaya dapat teratasi akibat dari interelasi positif antara mahasiswa dan organda dalam berkiprah dan memberikan konklusi.

#LombaEsaiMahasiswa

Daftar Pustaka

  • Chowdhury, Subir. 2005. Organisasi 21 C- Organisasi Abad 21: Suatu Hari, Semua Organisasi Akan Melalui Jalan Ini. Jakarta: Indeks
  • Rais, M. Amin. 2008. Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia. Yogyakarta: PPSK Press

*Achmad Maulana, Mahasiswa Fakultas Saintek UIN Sunan Kalijaga; akun Facebook: Maul Lan

___________________

Artikel Terkait:
Peserta Lomba
Peserta Lomba 33 Articles
Peserta Lomba Esai Nalar Politik.