Islam Mereposisi Perempuan

Islam Mereposisi Perempuan
©Miriam Alster/FLASh90

Dalam sejarah dunia, perempuan memiliki sejarah kelam mengenai status, terutama dalam khazanah timur tengah.

Pada zamannya, status perempuan dalam masyarakat timur tengah diberi penguatan doktrin dari keyakinan penduduk pada saat itu. Semisal mempunyai keturunan perempuan adalah hal yang sangat memalukan. Sedang di era modern ini, kita masih dapat melihat bagaimana gaya bonceng motor didiskriminasi oleh doktrin sosial.

Dari doktrin sosial yang sangat kuat, membuat superioritas pria menjadi tak bisa dilepaskan. Sampai pada akhirnya, Islam datang dengan membawa ajaran kesetaraan antara pria dan wanita.

Namun, di sisi lain, menurut M. Atho Mudzhar, masih ada diskriminasi yang tak bisa dilepas kungkungannya melalui pemikiran tradisional. Karena letak sosio-kultur membuat pemikiran tidak melepaskan secara keseluruhan kebebasan dan kesetaraan kepada kaum hawa. Sehingga membuat interpretasi dan penafsiran yang dilakukan hanya menaikkan pada satu taraf di atas perilaku pada zaman sebelumnya—walau itu sudah masuk dalam kategori pesat pada waktu itu.

Akan tetapi, Mudzhar membuka diskursus mengenai penafsiran yang tidak sejalan bahkan bertolak belakang antara penafsiran satu dengan yang lain.

Mendiskusikan Posisi Perempuan

Menurut Mudzhar, banyak ungkapan argumentatif dalam Islam yang mengangkat kedudukan kaum hawa. Semisal, sabda Nabi Muhammad mengenai seseorang yang harus kita hormati.

Nabi mengungkapkan kata “Ibumu” sampai tiga kali, hingga akhirnya pada kata keempat adalah “Ayahmu”. Di samping itu, nabi juga pernah mengatakan bahwa “Surga di telapak kaki ibu” yang membuat pandangan umat pada kaum hawa berubah dan memosisikan pada kedudukan yang tinggi.

Dengan begitu, bukan berarti, menurut Mudzhar, seseorang tidak akan menemukan kesulitan dalam bersikap masalah kedudukan. Sebagaimana hadis yang dirawikan oleh al-Bukhari, al-Tirmidzi, dan al-Natsir yang menerangkan bahwa suatu masyarakat tidak akan pernah mencapai posisi puncak selama dipimpin oleh perempuan. Sehingga pada beberapa kalangan menyatakan bahwa hadis-hadis semacam ini merendahkan derajat perempuan.

Kontradiksi di atas juga ditemukan dalam nash Alquran mengenai perempuan. Pada satu sisi, Alquran menyamaratakan pria dengan perempuan.

Dalam surat al-Hujurat (Alquran 49:13), di sana disebutkan penciptaan pria dan perempuan ke dalam suku-suku dan bangsa yang berbeda agar saling mengenal satu sama lain. Serta dalam surat al-Nisa’ (Alquran 4:124) disebutkan bahwa perbuatan baik, baik pria maupun perempuan, akan mendapatkan imbalan yang sama di akhirat selama mereka masih beriman kepada Allah. Sehingga, menurut Mudzhar, ini adalah sinyal bahwa antara pria dan wanita tidak ada yang namanya superioritas kelamin.

Baca juga:

Namun, pada ayat dalam surat al-Nisa’ (Alquran 4:34), disebutkan bahwa pria adalah pemimpin bagi perempuan, yang menurut Mudzhar adalah kode tentang superioritas kaum adam terhadap kaum hawa. Ditambah ayat dalam surat yang sama (al-Nisa 4:11) yang menjelaskan tentang pembagian warisan yang menurut Mudzhar terdapat nilai diskriminasi dan superioritas yang lain.

Namun, lebih dalam daripada itu, menurut Mudzhar, tidak semua kesepakatan yang tidak manusiawi ini muncul dari nash agama. Bisa saja sosio-kultur yang sangat berperan dalam hal penguatan perspektif agama.

Contoh yang dikemukakan oleh Mudzhar adalah ketika kaum hawa merasakan dan menikmati kebebasan pada kemunculan Islam. Setelah itu, para mufasir mulai berdialek dengan masyarakat membawa hasil yang sudah ia temukan. Walaupun di sisi lain juga mengakui akan kedekatan mufasir kepada nabi dan dari segmen masyarakat tertentu yang pastinya memiliki kecerdasan.

Sekalipun demikian, bukan tidak mungkin para mufasir itu juga termasuk dalam lingkup patriarki. Sehingga, ketika semacam pembagian harta yang di mana perempuan diberikan walau tak seberapa dibanding pria, mereka sudah merasa puas bahwa hal ini dengan dalih doktrin ajaran Islam.

Benang merah yang diambil oleh Mudzhar dari sosio-kultur yang tidak menghargai wanita sama sekali dan Islam yang datang dengan memberikan penghargaan dan udara segar bagi kaum hawa, membuat mereka tidak berpikir akan bisanya menaikkan ketentuan tersebut dengan meninjau karakteristik dasarnya. Artinya, suatu saat bagian perempuan harus sama dengan bagian pria.

Pembaruan Pemikiran

Dalam beberapa kesempatan kajian, mengindikasikan bahwa perempuan pada sosial Islam masih dikungkung oleh inferioritas pria. Ini diakibatkan oleh doktrin sosial yang mapan dengan mengaitkan Islam. Sehingga tanpa disadari, perempuan telah mengakui kekalahan terhadap pria yang pada dasarnya adalah sama.

Namun, lagi-lagi, tatanan sosial yang sebenarnya dicoba oleh Islam untuk dihilangkan menjadi makin sulit. Diakibatkan oleh pemahaman konservatif yang tidak menginginkan terhadap pembaruan dalam Islam.

Pada masa abad 20, pembaruan pemikiran Islam mengalami fluktuasi. Semisal, teori yang dikemukakan oleh Elizabeth White, bahwa mereformasi sebuah hukum harus memiliki 9 indikator dalam kerangkanya.

Namun nahasnya, seperti Turki yang sudah memberlakukan 9 indikator tersebut, tidak mengalami perubahan yang cukup pesat. Di Turki, dalam peraturan negara, telah menghapus adanya poligami dan memberikan sebuah hak warisan terhadap anak yang sah—baik wanita ataupun pria—secara administrasi lahir dari pasangan yang terdaftar di pemerintahan sekuler.

Dalam realitasnya, masyarakat Turki masih melegalkan poligami. Di kehidupan desa kecil bahkan perkotaan, ekonomi masih bergantung pada pertanian dan produksi. Laki-laki masih saja terbiasa dengan mempunyai dua istri bahkan lebih.

Kecenderungan seorang laki-laki yang mencari wanita lain dengan tujuan sang perempuan memiliki daya tarik seksual yang menarik. Dan masyarakat melegalkan poligami yang dilakukan oleh pria secara kultural dengan dalih nikah secara sah dalam pandang agama.

Baca juga:

Akan tetapi, kehadiran “pencerahan” sebuah teori yang dikemukakan oleh cendekiawan muslim yang terpandang membuat spirit kesetaraan kembali berkobar. Salah satunya adalah Munawir Syadili di Indonesia, dengan mengembangkan pembahasan warisan dengan struktur sosial pada saat itu. Ia mengemukakan, bahwa pada saat itu, Islam sedang ada pada masa transisi untuk mengubah skenario tatanan sosial dengan cara memberi peluang warisan terhadap perempuan.

Dengan sebuah penghargaan seperti itu, Islam sedang mengangkat derajat wanita secara perlahan-lahan namun pasti. Dan diyakini atau tidak, pada masa itu, perempuan sudah merasakan kepuasan yang luar biasa atas perlakuan Islam.

Tetapi, menginjak masa modernisasi pada saat ini, dengan konteks sosial yang juga sudah mengakui kesamarataan hak asasi. Maka, hak warisan bisa saja setara dengan pria melihat pada sosio-kultur saat ini. Sebagai alasan lain, ia mengungkapkan bahwa ada beberapa ayat Alquran yang hanya bisa diimplementasikan dengan diiringi oleh penyesuaian budaya dan konteks sosial.

Melihat sedikit ke belakang sebelum Munawir Syadili, ada Mahmud Shaltut, sarjana besar pada abad 20. Ia memberikan sebuah pemikiran tentang isu wanita yang kesaksiannya sama dengan kesaksian pria. Karena sejatinya, wanita dan pria sama-sama manusia yang memungkinkan memiliki kelebihan dan kecacatan.

Sehingga, ia juga memberlakukan hal yang sama kepada kasus denda uang (diyyah) di mana diyyah seorang wanita itu harus sama dengan diyyahnya seorang pria. Sebab, mau bagaimanapun, nyawa seorang wanita juga sama berharganya dengan nyawa seorang pria, walaupun pada akhirnya diyyah ditentukan oleh keluarga korban.

Akhirnya, kita tidak membutuhkan apa kelaminnya dalam berpandangan kepada seseorang sebagai ukuran penilaian. Karena sejatinya, perempuan dan pria adalah makhluk yang di hadapan-Nya serta hukum-Nya sama.

    Abdullah Adhim

    Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta | Anggota Komunitas Maoes Boemi (KMB)
    Abdullah Adhim

    Latest posts by Abdullah Adhim (see all)