Islamisme dan Demokrasi

Islamisme dan Demokrasi
Ilustrasi: dunya.com

Nalar WargaDulu, para pengamat suka mencari kecocokan Islam dan demokrasi. Menurut saya, hal ini keliru. Yang benar adalah kecocokan antara islamisme (bukan Islam) dan demokrasi. Mengapa hal ini terjadi?

Karena, terutama di negara-negara pascakolonial seperti Indonesia, sekularisme umumnya diterapkan dengan represi. Lihat saja Orde Baru pada periode awal kekuasaannya. Kekuatan Islam politik ditekan sedemikian rupa.

Dalam situasi ini, islamisme datang menawarkan diri sebagai alat kritik terhadap rezim yang berkuasa. Ia datang menumpang gelombang demokrasi.

Oleh karena itu, sesungguhnya kita tidak perlu heran kalau melihat islamisme justru berkembang pesat di era demokrasi. Keduanya saling membutuhkan. Keduanya saling melegitimasi.

Di saat kelompok islamis berusaha memanfaatkan seoptimal mungkin demokrasi, kalangan sekuler masih terbengong-bengong dengan apa yang terjadi. Mereka terlihat masih kebingungan mengapa perubahan bisa secepat ini.

Akhirnya, yang bisa dilakukan adalah meromantisasi masa lalu ketika simbol-simbol agama belum memenuhi ruang publik seperti sekarang ini.

Apakah hal ini bisa diatasi? Tentu saja bisa. Namun, pertama-tama kita harus menyadari situasi telah berubah. Sekarang adalah abad agama. Hal ini tidak bisa dipungkiri. Pertanyaannya adalah soal akomodasi: sejauh mana aspirasi agama, termasuk islamisme, diterima dan bagaimana demokrasi melakukannya?

Karena ini adalah pertanyaan yang sangat sulit, maka tugas saya cuma mengingatkannya dalam catatan sependek ini.

*Amin Mudzakkir

___________________

Artikel Terkait: