Isu Keputusan MK Menguntungkan Anies-Muhaimin

Isu Keputusan MK Menguntungkan Anies-Muhaimin
©JPNN

Isu keputusan MK untuk pemilihan presiden sangat penting secara elektoral. Kalau isu tentang keputusan MK tersebut makin banyak diketahui oleh publik, Anies-Muhaimin akan mendapatkan tambahan keuntungan elektoral dan akan mengurangi suara bagi Prabowo-Gibran.

Demikian temuan survei Saiful Mujani Research and Consulting yang dilakukan pada 29 Oktober – 5 November 2023. Hasil survei ini disampaikan Prof. Saiful Mujani pada program ‘Bedah Politik bersama Saiful Mujani’ episode “Masalah MK dan Elektabilitas Capres-Cawapres” di kanal Youtube SMRC TV pada Kamis, 30 November 2023.

Saiful menjelaskan bahwa keputusan MK tentang batas usia capres dan cawapres masih terus menjadi bahan pembicaraan. Sampai pemilu selesai, ada kemungkinan isu mengenai keputusan MK terkait batas usia tersebut akan terus bergulir. Sampai saat ini, para aktivis, intelektual, media, dan pegiat media sosial terus menyoroti persoalan tersebut.

Pertanyaan pertama survei tersebut adalah tentang pengetahuan publik tentang keputusan MK bahwa batas umur calon presiden dan wakil presiden adalah 40 tahun kecuali yang pernah menjadi atau sedang menduduki jabatan melalui pemilihan umum (elected officials). Apakah publik mengetahui keputuhan MK tersebut?

Saiful mengemukakan bahwa Majelis Kehormatan MK yang memutuskan memberhentikan ketua MK, Anwar Usman, karena melakukan pelanggaran etik berat dalam proses pengambilan keputusan tentang batas usia capres/cawapres menunjukkan adanya persoalan serius dalam keputusan MK tersebut.

Apakah publik tahu bahwa ketua MK yang memutus perkara permohonan untuk meninjau kembali soal umur tersebut adalah paman Gibran? Kalau tahu, apakah itu punya pengaruh pada elektabilitas pasangan Prabowo-Gibran?

Survei SMRC yang dilakukan pada 29 Oktober – 5 November 2023, ada 40,5 persen publik yang tahu keputusan MK terkait usia capres/cawapres. Yang tidak tahu sebesar 59,5 persen. Dari yang tahu, 24 persen memilih Anies-Muhaimin, 23 persen Ganjar-Mahfud, 42 persen Prabowo-Gibran, dan 10 tidak menjawab atau tidak tahu.

Sementara dari 59,5 persen yang tidak tahu, 15 persen memilih Anies-Muhaimin, 25 persen Ganjar-Mahfud, 47 persen Prabowo-Gibran, dan tidak jawab 12 persen.

Baca juga:

Data ini menunjukkan ada efek pengetahuan publik tentang keputusan MK pada elektabilitas.

Pada kelompok pemilih yang tahu, suara Prabowo-Gibran lebih lemah dibanding pada kelompok yang tidak tahu: 42 dan 47 persen. Pada Anies-Muhaimin, suara pada kelompok yang tahu lebih kuat dibanding yang tidak tahu: 24 dan 15 persen. Sementara efek tahu keputusan MK tidak terjadi pada suara Ganjar-Mahfud: 23 dan 25 persen.

Saiful menyatakan bahwa potensi Prabowo-Gibran menang satu putaran di kalangan pemilih yang tidak tahu isu keputusan MK cukup besar.

“Kalau semua atau hampir semua orang tidak tahu keputusan MK tersebut, probabilitas Prabowo-Gibran menang satu putaran cukup besar. Suara Prabowo di kelompok yang tidak tahu 47 persen, selain mereka 40 persen, sementara yang tidak jawab 12 persen. Kalau yang tidak jawab itu dibagi secara proporsional, maka Prabowo-Gibran akan mendapatkan suara di atas 50 persen,” jelas Guru Besar Ilmu Politik UIN Jakarta tersebut.

Karena itu, isu keputusan MK untuk pemilihan presiden sangat penting secara elektoral. Kalau isu tentang keputusan MK tersebut makin banyak diketahui oleh publik, Anies-Muhaimin akan mendapatkan tambahan keuntungan elektoral dan akan mengurangi suara bagi Prabowo-Gibran.

“Isu keputusan MK (secara elektoral) lebih menjadi isu persaingan antara Anies-Muhaimin dan Prabowo-Gibran,” kata Saiful.

Dari yang tahu tentang keputusan MK tersebut, sebanyak 55 persen atau sekitar 22 persen populasi menyatakan tahu bahwa Ketua MK yang memutus perkara tersebut adalah paman Gibran, yang tidak tahu sebanyak 45 persen.

Dari 55 yang tahu ketua MK tersebut paman Gibran, 31 persen memilih Anies-Muhaimin, 26 persen Ganjar-Mahfud, 32 persen Prabowo-Gibran, dan 11 persen belum menjawab. Sementara dari 45 persen yang tidak tahu, 16 persen memilih Anies-Muhaimin, 20 persen Ganjar-Mahfud, 55 persen Prabowo-Gibran, dan 9 persen belum menjawab.

Halaman selanjutnya >>>