Jadi Manusia Jangan Begitu

Jadi Manusia Jangan Begitu
©Detik

Rasa, luka, pesan, desahan, lari, dengki, dan ada apa lagi? Apa pun itu, tolong jangan kasih dia beban pikiran, tapi buah pikiran!

Jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan pada periode 1 Januari 2022 hingga 21 Februari 2022 tercatat sebanyak 1.411 kasus. Jumlah tersebut berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPPA) Kementerian PPPA.

Kasus perceraian di Indonesia kembali melonjak. Menurut laporan Statistik Indonesia, jumlah kasus perceraian di Tanah Air mencapai 447.743 kasus pada 2021, meningkat 53,50% dibandingkan tahun 2020 yang mencapai 291.677 kasus.

Kekerasan terhadap istri menempati peringkat pertama dengan 50 persen atau 3.221 kasus, kemudian kekerasan dalam pacaran sebanyak 20 persen atau 1.309 kasus.

Pagi ini saya semangat untuk menulis karena mulai dari tanggal 13 Mei 2022 adalah langkah awal bagi saya di mana saya bisa menyampaikan banyak sekali ketidakadilan yang setiap harinya terjadi dikehidupan kita. Salah satunya mengenai kesetaraan gender, antusias dari teman-teman sangat positif dan banyak sekali yang membaca di Nalar Politik.

Tidak tahu harus memulai dari mana, sebab tak ada lagi kalimat indah yang harus disisipkan agar menarik perhatian pembaca. Sembari menulis dengan imajinasi yang liar, jemari ini tak mampu menjahit kata demi kata sebab hati telanjur dilukai dengan fakta dan data yang dilampirkan lebih awal, perlahan akan terselesaikan tapi cukup memakan waktu.

Mereka dilecehkan, ditelanjangkan, dipamerkan. Setega itu karena tak lagi punya hati?

Perjalanan panjang sejarah negeri ini, jatuh-bangun negeri ini, sehingga para founding fathers merumuskan Pancasila sebagai Ideologi Negara Kesatuan guna tidak ada lagi perpecahan, agar tak ada lagi penjajahan, tapi ada sebagian dari mereka belum terlepas dari penjajahan.

Mungkinkah kalian bekas-bekas kolonial yang hidup kembali dan tak pernah punya hati? Pendidikan, hak yang dibatasi, kedudukan direndahkan, apakah ada yang peduli?

Baca juga:

Negeriku yang kaya nan subur nyatanya tak menjamin sehingga mereka harus makan raskin. Dikirim keluar negeri, tinggalkan keluarga, mengadu nasib agar bisa menyambung hidup yang layak. Fenomena sosial yang memaksakan setiap dari mereka meninggalkan rumah, mengonsumsi obat terlarang, mengakhiri hidup, siapa yang peduli?

Mereka sibuk membuat ulah di media, menghabiskan anggaran, bermalas-malasan tanpa rasa beban, memberi janji yang hampir mati. Banyak pengorbanan yang tidak sepadan seperti pertemuan kita di kamar-kamar rahasia waktu pemilu kami menaruh harapan penuh karena percaya kami akan diberi susu yang sehat dan tak lagi terlecehkan.

Saya akan kembali apabila rangkaian pertanyaan ini tidak terjawab. Saya akhiri tulisan ini dengan hati yang telanjur luka.

    Yovinianus Olin
    Latest posts by Yovinianus Olin (see all)