Jagung Manis

Jagung Manis
©WordPress

Keputusan untuk menarik diri dari sebuah pilihan hidup yang telah dijalani bukan tanpa risiko. Apalagi keputusan yang dibuat tidak atas dasar pertimbangan masak. Menerima dan menjalani rutinitas pilihan hidup yang baru menciptakan keterasingan sehingga menagih usaha untuk mengakrabinya.

Dengan hati yang berat, Nobert meninggalkan kota Medan. Kota di mana ia menuntut ilmu demi menggapai cita-cita menjadi rohaniwan Katholik. Cita-cita yang tak sempat kesampaian karena ia lebih melirik jalan hidup yang lain. Mungkin jalan hidupku bukan di situ, begitu ia memberi keterangan ketika ditanya alasan keputusan menarik diri.

Ia pergi membawa asa dan secarik ijazah strata satu Filsafat sebagai bekal mengadu nasib hidup di Kota Jakarta. Dengan bekal itu ia berharap untuk mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga memperbaiki taraf hidup. Itulah mimpi yang mendekam di kepala sarjana muda itu.

Mentari begitu garang menyambut kedatangan Nobert di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Terik yang membuat tubuhnya basah. Keringat bermanik-manik di wajahnya. Rasanya seperti di padang pasir tak berpohon. Sementara di areal bandara nampak manusia berjubel. Memikul tas ransel yang bunting. Hilir mudik kesana dan kemari seperti pesawat yang landing dan take off. Sesebentar datang memuntahkan penumpang kemudian menghisap penumpang lagi.

Kedatangannya tak semeriah seorang pejabat yang dipenuhi dengan ritual penyambutan bak tamu agung. Tak seorang pun yang datang menjemput. Ia kemudian bergegas menuju biro jasa taxi. Membeli tiket taksi dengan tujuan Bintaro. Saat menyandarkan tubuhnya di kursi taxi, ia langsung ditodong dengan sebuah pertanyaan oleh sopir.

“Mau ke mana, Mas?”

“Saya mau ke Bintaro, Mas,” jawabnya singkat.

Tanpa banyak kata lagi, sang sopir melajukan mobilnya menuju ke Bintaro. Suasana dalam taxi begitu diam. Hanya suara radio yang diputar oleh sopir. Sesekali terlihat sopir itu mengganti saluran radio. Mencari saluran yang memutarkan lagu sehingga memecah kebisuan dalam taksi. Namun lagu itu tak mujarab. Suasana tetap seperti kuburan di malam hari. Yang ada di kepala Nobert hanyalah bayangan akan nasib apa yang akan terjadi di kota itu.

Harapan untuk mendapatkan pekerjaan di Kota Jakarta ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan. Dalam waktu yang cukup lama Nobert harus hidup mengganggur tanpa pekerjaan. Ijazah yang semula dianggap dapat menjadi bekal hidup nampaknya tak membantu.

Sudah sekitar seratus surat lamaran yang dikirimkan ke berbagai instansi. Sekolah. Industri. Bahkan warung makan. Tak satu pun yang merespon lamaran tersebut. Ibarat cinta yang bertepuk sebelah tangan, Nobert tak kunjung mendapat jawaban yang membuatnya mengakhiri masa penganggurannya.

Uang kiriman dari orangtua tak cukup untuk menghidupinya selama sebulan. Belum lagi biaya kos dengan harga selangit. Sebulan ia harus merogoh kocek hingga Rp800.000 untuk membayar kos. Belum lagi kebutuhan lainnya. Situasi ini membuatnya harus banyak berkompromi dengan keinginan perutnya. Lapar menjadi hal yang biasa. Tak heran kalau ia menjadi pengidap maag kronis.

Masih segar betul dalam benaknya, pengalaman ketika ia harus menahan lapar selama seharian karena tak mempunyai sepeser pun uang di saku. Untuk menghilangkan rasa lapar itu, ia mengajak teman-teman senasib, yang tak berpekerjaan, pergi ke selokan untuk memancing ikan. Aktivitas itu terpaksa dilakonionya hanya untuk sekadar mengalihkan rasa lapar yang terus menggerogoti perutnya meski ia bukan tipe pemancing karena sifat ketaksabarannya.

Atmosfer hidup di ibu kota sempat membuat Nobert berpikir untuk kembali ke kampung halaman. Namun, hal itu tidak mungkin terjadi sebab ia tak punya biaya yang cukup untuk kembali. Memilih untuk bertahan dengan cara mengakrabi situasi di tengah keterjepitan ekonomi menjadi pilihan yang terpaksa diambil. Memang risikonya berat. Keras. Namun, baginya siapa yang lebih keras daripada hidup, dialah yang mampu bertahan hidup.

Masa pengangguran dengan segala penderitaannya itu berakhir ketika Nobert mendapatkan tawaran untuk berdagang. Baginya, tawaran ini sepertinya melecehkan ijazah strata satu yang telah dengan susah payah digapainya. Sempat terlintas dalam benaknya, kemauan untuk menolak tawaran tersebut. Tetapi penolakan akan tawaran itu hanya akan membuang rezeki.

Sesederhana apa pun pekerjaan, jika ditekuni akan memberikan hasil yang memuaskan. Dengan alasan itu, ia lantas menerima tawaran untuk berjualan jagung manis. Rasa malu dan minder ditanggalkan.

Berat memang. Sebagai anak muda berdarah Flores, gengsilah kalau harus berjualan jagung manis sepanjang jalan ibu kota. Apalagi jika dilihat oleh sesama orang Flores di ibu kota. Perasaan-perasaan itu terus menguntitnya tetapi tidak serta merta menghilangkan semangatnya untuk meraih sukses.

“Saya hanya ingin sukses dengan cara yang halal,” ucapnya dalam hati.

Dan berjualan jagung manis menjadi langkah awal dari sebuah kesuksesan. Itulah keyakinannya. Itulah mimpinya. Keyakinan yang ditanamkan dengan kokoh dalam benaknya.

Tentang keyakinan itu, ia sempat bercerita kepada Jaki, teman sepenganggurannya dan sekampungnya.

“Kawan, saya dapat pekerjaan,” katanya dengan riang.

“Kerja apa kawan?” tanya Jaki penasaran.

“Jual jagung manis,”

Mendengar jawabannya, heranlah Jaki. Keheranan Jaki bisa menjadi beralasan.

“Mungkinkah seorang sarjana muda, berjualan jagung?”

tanya Jaki dalam hati. Namun, Jaki tak sempat meluapkan apa yang ada di hatinya. Apalagi melarangnya dengan alasan ijazah. Ia hanya menyimpannya dalam hati. Yah..ia termasuk tipe sahabat yang selalu mendukung usaha baik teman sejawatnya.

“Oh bagus itu kawan. Saya dukung,” sahut Jaki.

“Tapi…”

“Tapi apa?” potong Nobert penuh rasa ingin tahu.

“Kawan tidak malu kah?”

“Aduh kawan, buang dulu rasa malu tuh,” balas Nobert dengan dialek Flores yang kental.

Keputusan berjualan jagung berbuah manis, semanis jagung dagangannya. Meski beberapa kali menghadapi rintangan demi rintangan yang menciutkan semangat menerpa dirinya. Masih segar dalam ingatan Nobert, beberapa bulan yang lalu seorang karyawannya nekat membawa kabur gerobak jualan.

Setelah dicari dua hari, gerobak itu akhirnya ditemukan di tangan tukang rongsok dengan kondisi berantakan. Barang dagangannya sudah raib entah dimana. Randi, Si Karyawan, yang dipekerjakan pun sudah kabur entah ke mana. Ia bahkan bisa ditelepon. Nobert akhirnya membeli kembali gerobak yang telah dijual itu dan membawa kembali ke base camp.

Gerobak jualan yang semula hanya untuk dirinya, kini mampu melahirkan empat gerobak lainnya sehingga menjadi lima buah gerobak. Dari kelima gerobak tersebut ia memperoleh penghasilan yang dari cukup bahkan berkelebihan. Sungguh pencapaian yang tak terduga meski di awal sempat diragukan oleh sahabatnya Jaki. Nasib hidupnya di Kota Jakarta menjadi semanis jagung yang ditaburi keju dan susu.

Hidup memang memberikan kesuksesan kepada siapa yang dengan tabah menekuninya, ia membatin.

Jetho Lawet